Delapan Jejak Penjaga Rimba Terkuak di Lereng Lawu

Agus Irwanto
Delapan Jejak Penjaga Rimba Terkuak di Lereng Lawu

Magetan - Pekerjaan itu dimulai dari sesuatu yang sederhana, membuka satu per satu kartu memori kamera pengintai yang selama berbulan-bulan terpasang di batang-batang pohon Gunung Lawu. Tidak ada yang tahu apa saja cerita yang terekam di dalamnya sebelum gambar pertama muncul di layar.

Seekor Macan Tutul Jawa berjalan perlahan melintasi jalur setapak hutan. Rekaman berikutnya memperlihatkan kemunculan satwa yang sama di lokasi berbeda. Hingga pemeriksaan awal selesai, tim menemukan tanda keberadaan macan tutul jawa pada delapan dari lima belas petak survei di wilayah Jawa Timur.

Temuan tersebut merupakan hasil awal kegiatan pengambilan kamera pengintai Java Wide Leopard Survey (JWLS) yang berlangsung pada 19 Juni hingga 1 Juli 2026 di bentang alam Gunung Lawu. Delapan petak survei itu bukan menunjukkan delapan individu macan tutul, melainkan delapan lokasi kamera yang berhasil merekam keberadaan satwa tersebut.

Informasi seperti ini jauh lebih berharga daripada sekadar cerita perjumpaan satwa liar. Setiap rekaman menyimpan data waktu kemunculan, jalur pergerakan, hingga kondisi habitat yang digunakan macan tutul jawa. Data itulah yang kemudian diolah untuk memahami kondisi populasinya di alam.

Survei ini merupakan bagian dari Java Wide Leopard Survey, program pemantauan macan tutul jawa yang dilaksanakan di 21 bentang alam di Pulau Jawa. Balai Besar KSDA Jawa Timur mendampingi Yayasan Sintas Indonesia dalam proses pengambilan kamera di wilayah Gunung Lawu yang membentang di Provinsi Jawa Timur dan Jawa Tengah.

Sebelumnya, sebanyak 82 kamera pengintai dipasang pada 41 petak survei pada Februari 2026. Di wilayah Jawa Timur terdapat 15 petak dengan 30 unit kamera. Setiap petak dipasang dua kamera yang saling berhadapan. Cara ini memungkinkan kedua sisi tubuh macan tutul terekam sehingga pola totol pada tubuhnya dapat digunakan untuk membantu identifikasi individu.

Pengambilan kamera dibagi ke dalam empat tim. Dua tim bekerja di wilayah Jawa Timur, sedangkan dua tim lainnya menyisir kawasan di Jawa Tengah. Personel Balai Besar KSDA Jawa Timur mendampingi kegiatan di kawasan Lawu Utara dan Lawu Selatan bersama petugas Perhutani.

Di Lawu Selatan, seluruh kamera berhasil diambil sesuai rencana. Di Lawu Utara, tim juga berhasil mengamankan sebagian besar perangkat. Namun dua kamera pada satu petak survei dilaporkan hilang. Peristiwa tersebut telah dilaporkan kepada Kepolisian Sektor setempat.

Meski demikian, hilangnya dua kamera tidak mengurangi arti hasil yang telah diperoleh. Dari rekaman yang berhasil dikumpulkan, hutan Lawu tidak hanya memperlihatkan keberadaan macan tutul jawa. Kamera juga merekam kijang, ayam hutan, babi hutan, garangan, sigung, tupai, jelarang, landak, kucing hutan, hingga elang bido.

Deretan satwa itu menggambarkan satu hal bahwa rantai kehidupan di Gunung Lawu masih berjalan baik. Kehadiran predator puncak tidak mungkin bertahan tanpa kehadiran satwa mangsa dan habitat yang terjaga, karena saling memiliki daya dukung yang kuat.

Seluruh data yang terkumpul dari JWLS akan dianalisis untuk menyusun gambaran mengenai distribusi, struktur populasi, serta hubungan macan tutul jawa dengan habitat dan satwa mangsanya. Informasi tersebut akan menjadi bagian penting dalam penyusunan Population Viability Analysis (PVA) sekaligus pembaruan Strategi dan Rencana Aksi Konservasi Macan Tutul Jawa.

Rekaman macan tutul yang melintas di depan kamera mungkin hanya tampak sebagai potret satwa liar di tengah hutan. Bagi dunia konservasi, gambar yang sama merupakan bukti bahwa bentang alam Gunung Lawu masih menyediakan ruang hidup bagi salah satu predator puncak di Pulau Jawa.

Masih terlalu dini untuk menyimpulkan bagaimana kondisi populasi macan tutul jawa di Gunung Lawu. Analisis seluruh rekaman masih berlangsung. Namun, temuan awal dari delapan petak survei itu memberikan alasan untuk tetap optimistis: di tengah berbagai tekanan terhadap hutan Jawa, sang penjaga rimba ternyata masih setia menempati rumahnya.

Penulis : Fajar Dwi Nur Aji - PEH Ahli Muda
Editor : Agus Irwanto
Sumber : Bidang KSDA Wilayah I Madiun

9 views
0 komentar
0 shares
Rating:

Komentar (0)

Tinggalkan Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!

Artikel Terkait