Melalui SIEDUFAUNA, BBKSDA Jawa Timur Ajarkan Generasi Muda Menjaga Alam

Agus Irwanto
Melalui SIEDUFAUNA, BBKSDA Jawa Timur Ajarkan Generasi Muda Menjaga Alam

Mojokerto - Menjaga keanekaragaman hayati tidak cukup hanya mengandalkan kawasan konservasi atau petugas di lapangan. Masa depan konservasi justru ditentukan oleh lahirnya generasi muda yang memahami, mencintai, dan mampu hidup berdampingan dengan alam. 

Berangkat dari semangat tersebut, Balai Besar KSDA Jawa Timur melalui Seksi KSDA Wilayah III Surabaya mendampingi kegiatan SIEDUFAUNA (Siklus Edukasi dan Konservasi Fauna) yang diselenggarakan oleh PLH SIKLUS ITS pada 4–5 Juli 2026 di Loka Wiyata Surya, Resort Konservasi Wilayah 08 Claket, UPT Tahura Raden Soerjo, Kabupaten Mojokerto.

Kegiatan yang diikuti mahasiswa pecinta alam dari berbagai perguruan tinggi di Surabaya ini menjadi ruang belajar yang menghubungkan ilmu pengetahuan dengan pengalaman lapangan. Selama dua hari, peserta tidak hanya mempelajari teknik inventarisasi satwa liar, tetapi juga memahami nilai-nilai etika konservasi, pentingnya menjaga habitat alami, serta peran generasi muda dalam mendukung pelestarian sumber daya alam hayati dan ekosistemnya.

Pendampingan diawali dengan pengenalan salah satu jenis tumbuhan penting di kawasan hutan, Ficus drupacea, yang dikenal sebagai penyedia pakan bagi berbagai jenis satwa liar oleh Ni Luh Noviyanthi - Pengendali Ekosistem Hutan UPT Taman Hutan Raya Raden Soerjo. Melalui penyampaian materi dan penanaman bibit bersama, peserta diajak memahami bahwa menjaga kelestarian satwa tidak dapat dipisahkan dari upaya mempertahankan keberadaan tumbuhan penyusun habitatnya. Pohon-pohon tersebut menjadi bagian dari jaring kehidupan yang menopang keberlangsungan berbagai spesies di alam.

Setelah memperoleh pembekalan teori, peserta mendapatkan materi mengenai etika konservasi, teknik inventarisasi, serta identifikasi fauna yang meliputi kelompok aves, mamalia, dan herpetofauna. Diskusi berlangsung interaktif, memperkenalkan berbagai metode ilmiah yang lazim digunakan dalam kegiatan monitoring keanekaragaman hayati di kawasan konservasi.

Pengalaman paling berkesan dimulai saat malam tiba. Dengan menerapkan metode Visual Encounter Survey (VES) dan transek jalur, peserta menyusuri kawasan hutan untuk mengamati kehidupan satwa nokturnal. Aktivitas ini mengajarkan bahwa setiap langkah di habitat alami harus dilakukan dengan penuh kehati-hatian agar tidak mengganggu perilaku satwa maupun keseimbangan ekosistem.

Dari kegiatan tersebut, peserta berhasil mengidentifikasi berbagai jenis herpetofauna, seperti Ular Siput Jerapah (Aplopeltura boa), Kongkang Kolam (Hylarana chalconota), Katak Pohon Emas (Philautus aurifasciatus), serta beberapa jenis amfibi dan reptil lainnya. Seluruh hasil pengamatan kemudian dievaluasi bersama untuk memperkuat kemampuan identifikasi sekaligus memahami karakter habitat setiap spesies yang dijumpai.

Keesokan harinya, kegiatan dilanjutkan dengan inventarisasi satwa diurnal menggunakan metode Point Count. Peserta mempraktikkan teknik pencatatan data lapangan, identifikasi satwa berdasarkan morfologi dan suara, serta mengenali tanda-tanda sekunder seperti jejak kaki dan bekas aktivitas satwa liar.

Hasil pengamatan menunjukkan kekayaan hayati kawasan Loka Wiyata Surya yang masih terjaga. Sekitar 25 jenis burung berhasil didokumentasikan melalui perjumpaan langsung maupun identifikasi suara. Selain itu, tim juga menemukan jejak kaki yang diduga milik rusa serta bekas gesekan tanduk pada batang pohon, yang menjadi indikasi bahwa kawasan tersebut masih dimanfaatkan sebagai habitat dan jalur aktivitas mamalia liar.

Lebih dari sekadar kegiatan pelatihan, SIEDUFAUNA menjadi wahana pembentukan karakter konservasi. Peserta belajar bahwa inventarisasi satwa bukan sekadar mencatat daftar jenis, melainkan memahami hubungan antara satwa, tumbuhan, dan habitat sebagai satu kesatuan ekosistem yang saling bergantung. Kesadaran inilah yang diharapkan tumbuh menjadi komitmen untuk menjaga alam, baik di lingkungan kampus maupun di tengah masyarakat.

Melalui pendampingan ini, Balai Besar KSDA Jawa Timur terus memperkuat kolaborasi dengan perguruan tinggi dan komunitas pecinta alam dalam menyiapkan kader-kader konservasi masa depan. Sinergi antara pemerintah, akademisi, dan generasi muda menjadi fondasi penting untuk memastikan upaya perlindungan, pengawetan, dan pemanfaatan keanekaragaman hayati secara lestari dapat terus berlanjut di masa yang akan datang.

Sebab pada akhirnya, konservasi bukan hanya tentang melindungi satwa liar atau menjaga hutan tetap hijau. Konservasi adalah tentang menumbuhkan manusia-manusia yang memiliki kepedulian, pengetahuan, dan keberanian untuk menjadi penjaga alam. Dari Loka Wiyata Surya Claket, semangat itu terus ditanamkan, agar kelestarian keanekaragaman hayati Indonesia tetap terjaga untuk generasi yang akan datang.

Penulis : Deswara Hergo Pamadya - Polisi Kehutanan Pemula &  Fajar Dwi Nur Aji - PEH Ahli Muda
Editor : Agus Irwanto
Sumber : Bidang KSDA Wilayah II Gresik

53 views
0 komentar
0 shares
Rating:

Komentar (0)

Tinggalkan Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!

Artikel Terkait