Ikhtiar Putra Lestari Menuju Apresiasi Nasional

Jember - Di sebuah desa di pesisir selatan Kabupaten Jember, sekelompok masyarakat memilih jalan yang tidak selalu mudah. Mereka membangun usaha, memperkuat kelembagaan, sekaligus menjaga hubungan harmonis dengan kawasan konservasi.
Ikhtiar itulah yang kini mengantarkan Kelompok Masyarakat (Pokmas) Putra Lestari, Desa Kepanjen, Kecamatan Gumukmas, Kabupaten Jember, menjadi salah satu kandidat penerima Apresiasi Kelompok Masyarakat Binaan Unit Pelaksana Teknis Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (Ditjen KSDAE) Tahun 2026.
Pada Jumat, 26 Juni 2026, Balai Besar KSDA Jawa Timur melalui Resor Konservasi Wilayah 13 Jember–Nusa Barung bersama Bidang KSDA Wilayah III Jember mendampingi tim penilai dari Direktorat Kawasan Konservasi dalam melaksanakan verifikasi lapangan terhadap Pokmas Putra Lestari. Tim penilai melakukan penilaian menyeluruh terhadap perjalanan kelompok, mulai dari tata kelola organisasi hingga dampak nyata yang dihasilkan bagi masyarakat dan kelestarian Suaka Margasatwa Nusa Barung.
Verifikasi tidak berhenti pada dokumen administrasi. Tim penilai berdialog langsung dengan pengurus dan anggota kelompok untuk memahami bagaimana Putra Lestari tumbuh sebagai mitra konservasi. Berbagai aspek menjadi perhatian, mulai dari sejarah terbentuknya kelompok, aktivitas pemberdayaan masyarakat, bentuk pendampingan yang diberikan Balai Besar KSDA Jawa Timur, hingga perubahan sosial, ekonomi, dan lingkungan yang dirasakan masyarakat setelah program berjalan.
Sebagai bagian dari kegiatan KSDAE, pemberdayaan masyarakat bukan sekadar program pendukung pengelolaan kawasan konservasi. Pendekatan ini merupakan strategi membangun benteng perlindungan keanekaragaman hayati yang berakar dari desa-desa penyangga kawasan. Ketika masyarakat memperoleh manfaat ekonomi melalui kegiatan yang berkelanjutan, tekanan terhadap kawasan konservasi dapat ditekan secara alami.
Semangat tersebut terlihat saat tim penilai mengunjungi sentra peternakan kambing milik Pokmas Putra Lestari. Di lokasi ini, aktivitas ekonomi masyarakat berjalan beriringan dengan komitmen menjaga kelestarian alam. Bantuan dan pendampingan yang diberikan tidak hanya meningkatkan produktivitas usaha, tetapi juga membuka alternatif mata pencaharian yang mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap pemanfaatan sumber daya alam di dalam kawasan konservasi.
Namun, perjalanan penilaian belum lengkap tanpa melihat langsung bentang alam yang menjadi alasan utama lahirnya berbagai upaya tersebut. Tim kemudian bergerak menuju Pantai Nyamplung Kobong sebagai pintu terakhir sebelum menyeberang ke kawasan Suaka Margasatwa Nusa Barung.
Hamparan pasir yang membentang di sepanjang pesisir selatan itu merupakan salah satu habitat penting tempat penyu mendarat dan bertelur. Di lokasi inilah hubungan antara masyarakat dan konservasi menjadi nyata. Kawasan yang tetap terjaga bukan hanya menjadi rumah bagi satwa liar, tetapi juga menjadi simbol keberhasilan kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat dalam melindungi keanekaragaman hayati.
Konservasi pada akhirnya bukan hanya tentang melindungi satwa atau menjaga tegakan hutan. Konservasi adalah proses membangun kesadaran kolektif bahwa keberlangsungan kehidupan manusia tidak dapat dipisahkan dari kesehatan ekosistem. Pokmas Putra Lestari menjadi contoh bagaimana kelompok masyarakat dapat bertransformasi menjadi mitra strategis dalam menjaga kawasan konservasi melalui pendekatan yang mengedepankan gotong royong, kemandirian, dan keberlanjutan.
Selama proses penilaian berlangsung, tim penilai memberikan apresiasi terhadap kesiapan kelompok, kelengkapan administrasi, serta berbagai inovasi yang telah dikembangkan. Meskipun hasil akhir penilaian masih menunggu keputusan resmi dari Direktorat Jenderal KSDAE, rangkaian verifikasi tersebut menunjukkan bahwa Putra Lestari telah menapaki perjalanan panjang sebagai kelompok masyarakat yang tidak hanya tumbuh secara organisasi, tetapi juga mampu menghadirkan manfaat nyata bagi lingkungan dan masyarakat di sekitarnya.
Keberhasilan kelompok masyarakat binaan tidak semata diukur dari penghargaan yang berhasil diraih. Yang jauh lebih penting adalah tumbuhnya kesadaran bahwa menjaga kawasan konservasi merupakan tanggung jawab bersama. Sebab, masa depan Suaka Margasatwa Nusa Barung tidak hanya ditentukan oleh kebijakan pemerintah atau kerja para petugas di lapangan, melainkan juga oleh tangan-tangan masyarakat yang setiap hari hidup berdampingan dengan alam.
Ikhtiar Putra Lestari menuju apresiasi nasional sesungguhnya adalah cerita tentang harapan. Harapan bahwa konservasi dapat berjalan seiring dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Dan harapan bahwa dari desa-desa penyangga kawasan konservasi akan terus lahir penjaga-penjaga alam yang memastikan warisan keanekaragaman hayati Indonesia tetap lestari bagi generasi yang akan datang.
Penulis : Fajar Dwi Nur Aji - PEH Ahli Muda
Editor : Agus Irwanto
Sumber : Bidang KSDA Wilayah III Jember
Komentar (0)
Tinggalkan Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!



