Ikhtiar BBKSDA Jawa Timur, Yayasan Binaya Foundation, dan Masyarakat Membangun Zona Penyangga Satwa Liar di Bawean

Gresik - Di Pulau Bawean, upaya menjaga kelestarian satwa liar tidak cukup hanya dilakukan di dalam kawasan konservasi. Di luar batas kawasan, diperlukan ruang-ruang penyangga yang mampu menjembatani kepentingan pelestarian alam dengan kebutuhan hidup masyarakat.
Berangkat dari semangat tersebut, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Timur bersama Yayasan Binaya Foundation dan masyarakat Pulau Bawean menginisiasi pembangunan zona penyangga berbasis agroforestri porang sebagai salah satu strategi mitigasi konflik manusia dan satwa liar.
Langkah tersebut diwujudkan melalui kegiatan Sosialisasi Agroforestri Porang yang dilaksanakan pada Rabu (24/6) di Desa Telukjatidawang, Kecamatan Tambak, Pulau Bawean. Kegiatan dihadiri Tim Resort Konservasi Wilayah (RKW) 09 Gresik–Bawean, Yayasan Binaya Foundation, Sekretaris Desa Telukjatidawang, petani porang sekaligus narasumber Sadiman, serta perwakilan Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) dari Desa Telukjatidawang, Sokaoneng, dan Dekatagung.
Dalam sambutannya, Sekretaris Desa Telukjatidawang menyampaikan dukungan penuh terhadap pelaksanaan program tersebut. Menurutnya, pengembangan agroforestri porang diharapkan tidak hanya memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat desa, tetapi juga menjadi bagian dari upaya menjaga keseimbangan lingkungan di Pulau Bawean.
Nur Hayyan Jahansyah, RKW 09 Gresik–Bawean sebagai Perwakilan BBKSDA Jawa Timur menyampaikan apresiasi kepada Yayasan Binaya Foundation atas komitmennya mendorong lahirnya model pemberdayaan masyarakat yang sejalan dengan tujuan konservasi. Disampaikan pula bahwa penyelesaian konflik antara manusia dan satwa liar tidak dapat dilakukan secara parsial, melainkan membutuhkan sinergi berbagai pihak melalui pendekatan yang adaptif, partisipatif, dan berkelanjutan.
Salah satu pendekatan yang tengah dikembangkan adalah pembangunan zona penyangga melalui sistem agroforestri porang. Konsep ini memadukan pengelolaan lahan yang produktif dengan prinsip-prinsip pelestarian lingkungan sehingga mampu memberikan manfaat ekonomi sekaligus mengurangi tekanan terhadap habitat satwa liar.
Dalam sesi materi, tim Yayasan Binaya Foundation memaparkan konsep agroforestri porang sebagai bagian dari strategi mitigasi konflik dengan babi kutil Bawean. Pendekatan ini diharapkan mampu meningkatkan produktivitas lahan masyarakat sekaligus memperkuat fungsi kawasan penyangga di sekitar habitat satwa liar.
Materi tersebut kemudian diperkaya dengan pengalaman lapangan yang disampaikan Sadiman, petani porang asal Bawean yang telah berhasil mengembangkan komoditas tersebut. Ia berbagi pengetahuan mengenai teknik budidaya, mulai dari pemilihan bibit, penanaman, pemeliharaan hingga peluang pemasaran hasil panen. Pengalaman nyata tersebut menjadi inspirasi sekaligus bukti bahwa porang memiliki prospek ekonomi yang menjanjikan apabila dikelola secara tepat.
Suasana diskusi berlangsung hangat. Para peserta aktif mengajukan berbagai pertanyaan mengenai teknik budidaya, kesiapan lahan, peluang usaha, hingga keberlanjutan program. Tingginya antusiasme masyarakat menjadi indikator bahwa pendekatan konservasi berbasis pemberdayaan mulai mendapatkan ruang di tengah masyarakat Pulau Bawean.
Bagi BBKSDA Jawa Timur, keberhasilan konservasi tidak hanya diukur dari terjaganya kawasan atau meningkatnya populasi satwa liar, tetapi juga dari tumbuhnya kesadaran masyarakat sebagai bagian penting dalam menjaga ekosistem. Ketika masyarakat memperoleh manfaat ekonomi melalui praktik pengelolaan lahan yang berkelanjutan, maka peluang terjadinya konflik dengan satwa liar dapat ditekan tanpa mengabaikan upaya perlindungan keanekaragaman hayati.
Kolaborasi antara BBKSDA Jawa Timur, Yayasan Binaya Foundation, pemerintah desa, kelompok tani, dan masyarakat menjadi bukti bahwa konservasi merupakan tanggung jawab bersama. Melalui pembangunan zona penyangga berbasis agroforestri, diharapkan tercipta bentang alam yang lebih harmonis, di mana manusia memperoleh kesejahteraan, sementara satwa liar tetap memiliki ruang hidup yang aman.
Dari Pulau Bawean, ikhtiar itu terus tumbuh. Dimulai dari sebidang lahan, diperkuat oleh kolaborasi, dan diarahkan pada satu tujuan besar: menghadirkan masa depan di mana pembangunan dan pelestarian alam berjalan berdampingan. Sebab, konservasi yang sejati bukan hanya melindungi satwa liar, melainkan juga menumbuhkan harapan bagi masyarakat yang hidup berdampingan dengan alam.
Penulis : Fajar Dwi Nur Aji - PEH Ahli Muda
Editor : Agus Irwanto
Sumber : Bidang KSDA Wilayah II Gresik
Komentar (0)
Tinggalkan Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!



