Cekibar Jawa Meluncur Tanpa Suara, Isyarat Alam di Awal Ekspedisi Nusa Barung

Agus Irwanto
Cekibar Jawa Meluncur Tanpa Suara, Isyarat Alam di Awal Ekspedisi Nusa Barung

Jember - Pagi itu berjalan seperti biasa. Udara masih menyimpan sisa embun, dan cahaya matahari baru saja menembus sela dedaunan di halaman depan Pondok Kerja Resort Konservasi Wilayah (RKW) 13 Jember di Puger, 3 Juni 2026. Di bawah rindangnya pohon mangga, diskusi kecil tengah berlangsung di antara tim herpetofauna, membahas pendekatan teknis, menyamakan persepsi identifikasi, dan menautkan pengalaman lapangan dengan metode ilmiah yang akan diterapkan di Suaka Margasatwa Pulau Nusa Barung.

Percakapan mengalir tenang, dipenuhi istilah ilmiah dan rencana kerja. Hingga pada satu momen, tanpa banyak kata, salah satu personel perlahan meninggalkan lingkar diskusi. Langkahnya pelan, nyaris tak menarik perhatian. Ia berhenti di dekat pohon mangga, menatap ke arah batang, lalu diam. Kamera di tangannya terangkat, fokus diarahkan, dan dalam satu gerakan cepat, sebuah jepretan diambil.

Tanpa penjelasan, ia kembali ke lingkar diskusi. Beberapa detik berlalu, sebelum akhirnya ia membuka hasil tangkapan gambarnya dan menunjukkan kepada rekan-rekannya.

“Ini… Cekibar Jawa.”

Keraguan sempat muncul. Beberapa anggota tim belum sepenuhnya yakin. Dalam diskusi ilmiah, identifikasi tidak pernah berdiri di atas asumsi. Mereka mendekat, memperhatikan lebih seksama, menganalisis bentuk tubuh, pola, hingga struktur membran yang tampak pada foto.

Dan di situlah keyakinan mulai terbentuk.

Seekor Cekibar Jawa, Draco volans, reptil arboreal yang dikenal dengan kemampuan meluncurnya, baru saja hinggap di batang pohon mangga, hanya beberapa meter dari tempat mereka berdiskusi. Diskusi terhenti, bukan karena gangguan, tetapi karena realitas lapangan yang tiba-tiba hadir di depan mata.


Di Antara Metode dan Realitas Lapangan

Kehadiran Cekibar Jawa pagi itu menjadi pembuka tak terencana bagi kegiatan yang justru dirancang untuk memahami kehidupan seperti dirinya. Tim ekspedisi yang terdiri dari unsur Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Balai Besar KSDA Jawa Timur, Yayasan Generasi Biologi Indonesia, Yayasan Pakarti, dan Birdpacker tengah bersiap melaksanakan pengembangan teknik identifikasi jenis dan kualitas habitat satwa liar.

Pendekatan yang dibangun bersifat integratif, menggabungkan pengamatan konvensional dengan teknologi mutakhir seperti analisis DNA lingkungan (environmental DNA/e-DNA), perekaman lanskap suara (soundscape), serta pemanfaatan citra satelit. Tujuannya bukan sekadar mencatat keberadaan satwa, tetapi memahami keterkaitannya dengan kualitas habitat secara menyeluruh.

Namun pagi itu menghadirkan ironi kecil yang bermakna, di tengah upaya mendeteksi yang tak terlihat, satu individu justru hadir secara nyata, tanpa sensor, tanpa algoritma, tanpa perantara.


Cekibar Jawa dan Lanskap yang Masih Bernapas

Sebagai satwa arboreal, Cekibar Jawa sangat bergantung pada konektivitas vegetasi. Ia membutuhkan struktur tajuk pohon yang memungkinkan pergerakan antar batang tanpa harus turun ke tanah. Kemampuan meluncurnya bukan sekadar adaptasi unik, tetapi strategi bertahan hidup di lingkungan yang kompleks.

Kemunculannya di pohon mangga, di ruang yang tidak sepenuhnya liar, menggambarkan bahwa lanskap tersebut masih menyimpan elemen ekologis yang mendukung kehidupan satwa. Fragmen habitat seperti ini seringkali luput dari perhatian. 

Ia bukan kawasan inti, bukan pula wilayah yang sepenuhnya alami. Namun dalam banyak kasus, justru menjadi penghubung penting dalam mosaik ekosistem. Dan dari satu individu kecil itulah, gambaran yang lebih besar mulai terbaca.


Isyarat yang Tak Selalu Tertangkap Data

Teknologi memberikan kemampuan baru dalam membaca alam. e-DNA memungkinkan deteksi spesies tanpa harus melihatnya secara langsung. Soundscape merekam kehadiran melalui suara. Citra satelit memetakan perubahan lanskap dalam skala luas.

Namun semua itu bekerja dalam kerangka interpretasi. Apa yang terjadi pagi itu berbeda. Alam memperlihatkan dirinya secara langsung, tanpa perlu diterjemahkan.

Momen sederhana itu menjadi pengingat bahwa di balik setiap data yang dikumpulkan, terdapat kehidupan yang nyata, bergerak, dan kadang hadir tanpa pola yang bisa diprediksi.


Awal dari Perjalanan yang Lebih Panjang

Diskusi kembali berlanjut setelah momen itu. Rencana tetap disusun, strategi tetap dimatangkan, dan ekspedisi ke Pulau Nusa Barung tetap menjadi tujuan utama. Namun ada pemahaman baru yang menyertai langkah mereka. Bahwa sebelum memasuki kawasan konservasi, mereka telah lebih dulu menemukan representasi kecil dari apa yang akan mereka pelajari.

Seekor Cekibar Jawa, yang meluncur tanpa suara, hadir sejenak, cukup untuk meninggalkan kesan yang lebih dalam dari sekadar pengamatan biasa.

Dalam konservasi, data adalah fondasi. Namun pengalaman lapangan adalah dimensi yang memberi makna. Dan terkadang, di sela diskusi kecil di bawah pohon yang tampak biasa, alam memilih cara paling sederhana untuk menyampaikan pesannya.

Pagi itu, cekibar jawa tidak hanya meluncur. Ia memberi isyarat.


Penulis : Fajar Dwi Nur Aji - PEH Ahli Muda 

Editor : Agus Irwanto


11 views
0 komentar
2 shares
Rating:

Komentar (0)

Tinggalkan Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!

Artikel Terkait