Benarkah Rusa Timor Minum Air Laut? Ini Penjelasannya!

Agus Irwanto
Benarkah Rusa Timor Minum Air Laut? Ini Penjelasannya!

Jember, 12 Juni 2026 - Siang menggantung tepat di atas Teluk Cambah Suaka Margasatwa Pulau Nusa Barung, ketika tiga rusa jantan keluar dari rimbun hutan dan berjalan menuju bibir laut. Pukul 12.30 WIB, tim ekspedisi yang berada di camp induk menyaksikan momen yang tak biasa, ketiganya berhenti di batas ombak, menundukkan kepala, lalu mengecap air laut dalam jeda-jeda singkat sebelum kembali bergerak ringan, seolah bermain di tepian pantai.

Pemandangan ini memantik satu pertanyaan sederhana, namun penting, benarkah Rusa Timor (Rusa timorensis) minum air laut?

Dalam perspektif ekologi satwa liar, perilaku tersebut tidak serta-merta dimaknai sebagai aktivitas “minum” dalam arti umum. Lebih jauh, fenomena ini diduga berkaitan dengan upaya pemenuhan kebutuhan mineral, sebuah perilaku yang dikenal sebagai salt-seeking behavior. 

Herbivora seperti rusa kerap menghadapi keterbatasan asupan natrium dan mineral penting lain dari vegetasi hutan, terutama di ekosistem pulau yang dinamis seperti Nusa Barong. Air laut, meski asin dan tidak dikonsumsi dalam jumlah besar, dapat menjadi sumber alternatif. Rusa kemungkinan hanya menjilat atau mengecap dalam kadar terbatas, cukup untuk membantu menyeimbangkan elektrolit tubuhnya.


Namun, pengamatan di Teluk Cambah menyisakan lapisan pertanyaan lain, mengapa hanya jantan yang muncul? Di mana betina? Dan mengapa perilaku ini terjadi di tengah hari bolong?

Menurut Bagus Suseno, Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Muda yang juga menjabat sebagai Kepala Resort Konservasi Wilayah (RKW) 13 Jember - SM Pulau Nusa Barong, fenomena ini masih membuka ruang interpretasi ilmiah.

“Kalau kita lihat, memang yang muncul hanya jantan. Betina kemungkinan berada di dalam hutan, memilih lokasi yang lebih aman, apalagi jika sedang bersama anak. Jantan cenderung lebih eksploratif dan berani keluar ke ruang terbuka,” ujarnya.


Ia juga menyoroti waktu kemunculan yang tidak lazim. Rusa umumnya lebih aktif pada pagi atau sore hari. Namun kondisi cuaca dan kebutuhan fisiologis bisa mengubah pola tersebut.

“Kemunculan di siang hari bisa jadi karena tekanan kebutuhan tertentu, baik itu mineral maupun kondisi tubuh. Bisa saja mereka hanya mengecap air laut untuk mendapatkan mineral, sekaligus mandi atau mendinginkan tubuh karena suhu yang cukup panas di pesisir,”  tambahnya.


Pernyataan ini memperkuat bahwa perilaku yang tampak sederhana di permukaan sesungguhnya adalah respons kompleks terhadap lingkungan. Lanskap Teluk Cambah, yang mempertemukan hutan tropis dengan garis pantai terbuka, menciptakan ruang adaptasi yang unik bagi satwa liar.

Meski demikian, Bagus menegaskan bahwa satu kali pengamatan belum cukup untuk menarik kesimpulan pasti. Diperlukan pencatatan berulang dan dokumentasi lebih lanjut untuk memahami apakah perilaku ini merupakan kebiasaan atau hanya respons situasional.

Bagi tim ekspedisi, momen ini menjadi potret kecil dari kecerdasan alam. Di tengah keterbatasan, satwa liar terus menemukan cara untuk bertahan, memanfaatkan setiap kemungkinan, bahkan dari air laut yang asin.


Jadi, benarkah Rusa Timor minum air laut?

Jawabannya tidak sesederhana ya atau tidak. Yang terlihat di Teluk Cambah hari itu lebih dari sekadar aktivitas minum, ia adalah isyarat halus tentang bagaimana kehidupan liar menegosiasikan kebutuhan, suhu, dan ruang hidupnya.

Dan di batas antara hutan dan laut itu, tiga rusa jantan seolah menunjukkan bahwa adaptasi adalah bahasa paling jujur dari alam.


Penulis : Fajar Dwi Nur Aji - PEH Ahli Muda

Editor : Agus Irwanto

26 views
0 komentar
0 shares
Rating:

Komentar (0)

Tinggalkan Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!

Artikel Terkait