BBKSDA Jawa Timur dan Institut Pertanian Malang Deklarasikan Kolaborasi Konservasi TWA Gunung Baung

Agus Irwanto
BBKSDA Jawa Timur dan Institut Pertanian Malang Deklarasikan Kolaborasi Konservasi TWA Gunung Baung

Pasuruan - Upaya menjaga kawasan konservasi tidak dapat dilakukan oleh satu institusi saja. Dibutuhkan sinergi antara pemerintah, perguruan tinggi, peneliti, dan masyarakat agar pengelolaan kawasan mampu menjawab tantangan ekologis yang terus berkembang. 

Atas dasar itulah pada 3 Agustus 2026 Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Timur bersama Institut Pertanian Malang (IPM) mendeklarasikan kolaborasi konservasi di Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Baung. Sebagai langkah bersama membangun kawasan konservasi yang adaptif, berbasis ilmu pengetahuan, sekaligus menjadi laboratorium alam bagi pendidikan tinggi.

Deklarasi tersebut menjadi tonggak dimulainya kerja sama selama tiga tahun yang berfokus pada penguatan pengelolaan kawasan melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Tahap awal kolaborasi diarahkan pada inventarisasi tumbuhan asing invasif (Invasive Alien Species/IAS), salah satu isu penting yang berpotensi memengaruhi keseimbangan ekosistem apabila tidak dikenali dan dikelola sejak dini.

Rektor Institut Pertanian Malang, Dr. Ir. Farida, M.P., menyampaikan bahwa kolaborasi ini merupakan bentuk nyata implementasi program Kampus Berdampak, yaitu menghadirkan perguruan tinggi sebagai bagian dari solusi terhadap berbagai persoalan lingkungan.

"Deklarasi ini telah kami persiapkan sejak tahun lalu. Kami mengucapkan terima kasih kepada Balai Besar KSDA Jawa Timur yang telah membuka ruang bagi sivitas akademika untuk berkontribusi langsung dalam pengelolaan kawasan konservasi. Sebelumnya kami pernah melakukan penelitian tentang kajian tumbuhan obat di TWA ini, dan kini kami memulai inventarisasi tumbuhan asing invasif. Kami berharap kerja sama ini menjadi wadah yang berkelanjutan bagi penelitian, pendidikan, dan pengabdian kepada masyarakat, sehingga manfaatnya benar-benar dirasakan oleh kawasan konservasi maupun dunia akademik," ujarnya.

Beliau menambahkan bahwa sebagai salah satu institusi pendidikan kehutanan tertua di Jawa Timur, Institut Pertanian Malang memiliki tanggung jawab moral untuk menghasilkan ilmu pengetahuan yang memberikan manfaat nyata bagi pelestarian sumber daya alam hayati dan ekosistemnya.

Sementara itu, Kepala Balai Besar KSDA Jawa Timur menegaskan bahwa kolaborasi dengan perguruan tinggi merupakan bagian penting dari strategi pengelolaan kawasan konservasi yang berbasis ilmu pengetahuan. Menurutnya, kawasan konservasi tidak hanya berfungsi sebagai ruang perlindungan keanekaragaman hayati, tetapi juga sebagai laboratorium alami untuk melahirkan inovasi dalam pengelolaan ekosistem.

"Kami berharap deklarasi ini menjadi contoh baik bagi mahasiswa sekaligus memperkuat sinergi antara pengelola kawasan konservasi dengan dunia akademik. Salah satu tugas Balai Besar KSDA Jawa Timur adalah membangun ruang edukasi dan kolaborasi bersama perguruan tinggi maupun lembaga penelitian. Kawasan konservasi harus menjadi laboratorium alami yang mampu menghasilkan pengetahuan baru untuk mendukung pengelolaan sumber daya alam secara berkelanjutan," ujar Nur Patria.

Beliau menjelaskan bahwa inventarisasi tumbuhan asing invasif menjadi langkah strategis untuk mendeteksi perubahan komposisi vegetasi yang berpotensi mengancam ekosistem kawasan.

"Pengalaman menunjukkan bahwa spesies yang awalnya dianggap bermanfaat dapat berkembang menjadi ancaman apabila tidak dikelola secara tepat," tambahnya.

Menurutnya, keberadaan TWA Gunung Baung yang berinteraksi dengan masyarakat dan wisatawan juga membuka peluang masuknya spesies asing melalui berbagai media, termasuk biji tumbuhan yang terbawa tanpa disadari oleh aktivitas manusia. Fenomena tersebut menunjukkan bahwa introduksi organisme asing dapat membawa konsekuensi ekologis yang perlu dipahami melalui penelitian yang komprehensif.

Karena itu, BBKSDA Jawa Timur mendorong agar hasil inventarisasi tidak berhenti pada pengumpulan data, tetapi berkembang menjadi kajian mengenai pola penyebaran, karakteristik habitat, tingkat risiko, hingga strategi pengelolaan tumbuhan asing invasif yang dapat menjadi dasar penyusunan kebijakan konservasi berbasis bukti ilmiah.

Lebih jauh, Kepala Balai Besar KSDA Jawa Timur menegaskan bahwa pihaknya terbuka terhadap berbagai bentuk kolaborasi penelitian dan siap mendukung pengembangan jejaring akademik, termasuk apabila diperlukan fasilitasi untuk memperoleh dukungan pendanaan yang sejalan dengan tujuan konservasi.

Melalui deklarasi ini, BBKSDA Jawa Timur dan Institut Pertanian Malang menegaskan bahwa konservasi tidak hanya berbicara tentang menjaga kawasan. Namun juga membangun ekosistem kolaborasi yang mempertemukan ilmu pengetahuan, pendidikan, dan praktik pengelolaan lapangan. 

Diharapkan Taman Wisata Alam Gunung Baung menjadi model kemitraan antara pengelola kawasan konservasi dan perguruan tinggi dalam menghasilkan inovasi yang mendukung pelestarian keanekaragaman hayati Indonesia secara berkelanjutan.

Penulis : Norlaili IsnainiFajar Dwi Nur Aji 
Editor : Agus Irwanto

273 views
0 komentar
2 shares
Rating:

Komentar (0)

Tinggalkan Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!

Artikel Terkait