Gresik – Seekor beruk betina dalam kondisi kurus dievakuasi dari Desa Mriyunan, Sidayu, Gresik, setelah diserahkan sukarela melalui jejaring komunitas pecinta satwa. Di balik evakuasi itu, tersingkap satu persoalan lama: satwa liar kerap terlempar jauh dari habitatnya, lalu bergantung pada kecepatan respons manusia untuk tetap bertahan hidup.
Ia tidak ditemukan di tepian hutan, bukan pula di lintasan sunyi tempat satwa liar biasa menjaga jarak dari manusia. Beruk betina itu justru berada di tengah ruang hidup manusia, kurus, hidup, namun terasing dari habitat yang semestinya.
Dari Desa Mriyunan, pada Jumat, 13 Maret 2026, sebuah operasi kecil dijalankan. Bukan gegap gempita, bukan pula penyelamatan yang riuh. Hanya gerak cepat, keputusan yang tepat, dan satu tujuan yang jelas: memastikan satwa liar itu tidak terus menjadi korban dari batas yang dilanggar manusia.
Balai Besar KSDA Jawa Timur melalui Tim Matawali RKW 09 Gresik–Bawean mengevakuasi seekor Beruk betina (Macaca nemestrina). Satwa itu ditemukan dalam keadaan hidup, dengan kondisi tubuh relatif kurus, lalu ditangani untuk selanjutnya ditranslokasikan ke Unit Penyelamatan Satwa (UPS) BBKSDA Jawa Timur di Sidoarjo.
Evakuasi ini merupakan tindak lanjut atas informasi yang diterima sehari sebelumnya dari salah satu mitra komunitas pecinta satwa. Informasi itu menyebut adanya rencana penyerahan satwa kepada BBKSDA Jawa Timur melalui jajaran Bidang KSDA Wilayah II Gresik.
Dari hasil identifikasi, Beruk ini memang tidak termasuk satwa yang dilindungi secara nasional, namun statusnya tidak bisa dipandang ringan. Beruk tercatat dalam Appendiks II CITES dan masuk kategori Vulnerable (Rentan) dalam IUCN Red List. Itu berarti spesies ini menghadapi risiko penurunan populasi di alam dan membutuhkan perhatian serius dalam pengelolaan maupun pengawasannya.
Dalam operasi evakuasi itu, tim memanfaatkan kendaraan operasional roda dua yang telah dimodifikasi. Sarana ini digunakan untuk menunjang mobilitas lapangan sekaligus memastikan proses pengangkutan satwa dari lokasi penjemputan menuju titik transportasi lanjutan dapat berlangsung aman dan efektif.
Dalam kerja-kerja penyelamatan satwa, detail seperti ini kerap luput dari perhatian. Padahal di lapangan, keberhasilan evakuasi sering ditentukan oleh kombinasi antara kecepatan respons, kesiapan personel, dan kecermatan memilih moda angkut yang sesuai.
Tak berhenti pada evakuasi, tim juga memberikan penyuluhan singkat kepada pihak yang menyerahkan satwa. Materinya sederhana, namun mendasar bahwa satwa liar bukan untuk dipelihara, diperdagangkan, atau dipindah tangankan secara sembarangan. Ada prinsip kesejahteraan satwa yang harus dijaga, ada risiko kesehatan dan perilaku yang harus dipahami, dan ada konsekuensi ekologis ketika satwa liar terputus dari habitat alaminya.
Kegiatan ini sekaligus menegaskan bahwa respons cepat terhadap laporan masyarakat merupakan bagian penting dari pelayanan konservasi. Dalam banyak kasus, waktu menjadi faktor penentu. Satwa yang terlalu lama berada di luar habitatnya berisiko mengalami stres, gangguan kesehatan, perubahan perilaku, hingga penurunan peluang untuk pulih secara optimal.
Apa yang terjadi di Sidayu pada akhirnya bukan sekadar kisah tentang satu ekor beruk yang dipindahkan dari satu titik ke titik lain. Ini adalah cermin tentang hubungan manusia dengan satwa liar yang masih kerap salah arah. Ketika satwa liar berpindah ke ruang-ruang domestik, sesungguhnya yang sedang kita saksikan bukan hanya penyimpangan ruang hidup, melainkan juga tanda bahwa pemahaman publik tentang konservasi masih harus terus diperkuat.
Di tangan yang tepat, satu ekor satwa bukan sekadar objek evakuasi. Ia adalah pengingat bahwa alam belum sepenuhnya kehilangan kesempatan kedua. Dan selama masih ada masyarakat yang memilih melapor, serta petugas yang bergerak cepat menjawab panggilan itu, harapan bagi satwa liar akan selalu menemukan jalannya pulang.
Penulis : Fajar Dwi Nur Aji – PEH Ahli Muda BBKSDA Jatim
Editor : Agus Irwanto
Sumber : Bidang KSDA Wilayah II Gresik