Pagi itu, di permukiman Benowo, Kecamatan Pakal, Surabaya, suasana tampak biasa saja. Namun di balik pintu sebuah rumah di Aspol KP3 ada kisah yang kerap terjadi di kota-kota besar, ketika satwa liar tumbuh besar, nalurinya kembali menyala dan manusia akhirnya sadar, bahwa peliharaannya tak lagi jinak.
Tim Matawali Seksi KSDA Wilayah III Surabaya melakukan evakuasi dua ekor monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) hasil penyerahan warga (20/01/2026). Sebelumnya satwa tersebut dipelihara sejak kecil, namun seiring waktu keagresifannya memicu kekhawatiran akan kegaduhan dan risiko keselamatan di lingkungan sekitar.
Evakuasi ini bukanlah sekadar pemindahan kandang dari satu tempat ke tempat lain. Namun bentuk penanganan awal satwa liar agar mendapatkan perlakuan sesuai kaidah kesejahteraan satwa, sekaligus menjadi langkah pencegahan agar potensi konflik manusia-satwa tidak berkembang menjadi insiden yang merugikan kedua belah pihak.
Saat Lucu Tak Lagi Aman
Informasi bermula pada 14 Januari 2026, ketika petugas Seksi KSDA Wilayah III Surabaya menerima laporan dari Bapak Taufik Rahman. Ia menyampaikan niat menyerahkan monyet yang dipeliharanya kepada pemerintah melalui Balai Besar KSDA Jawa Timur.
Alasannya sederhana namun penting, monyet itu kini telah tumbuh besar. Dan sebagaimana primata pada umumnya, kecerdasan yang tinggi sering berjalan beriringan dengan perilaku yang sulit ditebak ketika naluri liar mulai muncul. Monyet menjadi lebih galak, lebih reaktif, dan berpotensi menimbulkan gangguan bagi pemilik maupun lingkungan sekitar.
Bagi banyak orang, satwa liar saat kecil bisa terlihat menggemaskan. Tapi alam punya cara sendiri untuk mengingatkan bahwa mereka bukan milik siapa pun. Mereka membawa insting yang tidak bisa dijinakkan hanya dengan niat baik.
Menindaklanjuti laporan tersebut, Tim Matawali melakukan koordinasi teknis dan menyiapkan langkah evakuasi yang aman. Pada hari pelaksanaan, tim membawa perlengkapan standar untuk memastikan proses berjalan tanpa menambah tingkat stres satwa.
Hasil pemeriksaan dan identifikasi menunjukkan satwa yang diserahkan berjenis Monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) sebanyak 2 ekor. Keterangan ini menjadi penting karena publik sering kali memandang penyelamatan satwa semata-mata dari sisi dilindungi atau tidak dilindungi. Padahal, dalam kerja konservasi, kesejahteraan satwa dan keselamatan manusia tetap menjadi prioritas, terutama ketika satwa sudah berada di ruang hidup manusia.
Evakuasi Tidak Sekadar Cepat, Tapi Harus Benar
Evakuasi dilakukan dengan prinsip utama, meminimalkan stres dan menghindari cedera. Tim menggunakan kandang angkut standar dan memastikan satwa tetap aman selama proses pemindahan.
Langkah penanganan meliputi pemeriksaan awal kondisi fisik satwa, pengamanan proses evakuasi agar tidak memicu respons agresif yang bisa melukai satwa maupun petugas. Selanjutnya translokasi ke Kandang Transit Unit Penyelamatan Satwa BBKSDA Jawa Timur di Sidoarjo serta penanganan lanjutan berupa pemeriksaan medis, perawatan, dan rehabilitasi sesuai prosedur.
Ada satu hal yang patut digarisbawahi dalam peristiwa ini, yakni penyerahan dilakukan secara sukarela. Di tengah maraknya cerita satwa liar yang berpindah tangan secara ilegal, langkah menyerahkan satwa kepada otoritas konservasi menjadi bentuk kesadaran bahwa satwa liar bukan objek hiburan, bukan simbol status, dan bukan bagian dari perabot rumah tangga.
Ia adalah bagian dari ekosistem, makhluk hidup yang punya kebutuhan biologis, ruang gerak, dan perilaku alami. Dan ketika satwa liar mulai menunjukkan naluri aslinya, itu bukan kesalahan satwa. Itu adalah cara alam berkata tegas bahwa mereka tetaplah liar.
Peristiwa ini sekaligus menjadi pengingat bagi kita semua bahwa memelihara satwa liar tidak hanya berdampak pada satwa, tetapi juga membawa risiko bagi keluarga, tetangga, dan lingkungan.
Penulis : Fajar Dwi Nur Aji – PEH Ahli Muda BBKSDA Jatim
Editor : Agus Irwanto
Sumber : Bidang KSDA Wilayah II Gresik