Gresik, 4 Maret 2026 – Keputusan menempatkan Rusa Bawean dalam logo Hari Ulang Tahun ke-539 Kabupaten Gresik memantik perhatian publik. Di satu sisi, ia menjadi simbol kebanggaan daerah. Di sisi lain, ia menghadirkan pertanyaan mendasar tentang sejauh mana komitmen menjaga satwa endemik yang populasinya masih rentan?
Kepala Bidang KSDA Wilayah II Gresik, Ichwan Muslih, menyambut positif penggunaan rusa endemik Pulau Bawean tersebut sebagai identitas visual perayaan daerah. Menurutnya, langkah itu merupakan bentuk pengakuan atas identitas ekologis Gresik.
“Rusa Bawean hanya hidup alami di Pulau Bawean. Ketika spesies endemik diangkat menjadi ikon, secara moral dan ilmiah kita memikul tanggung jawab menjaga habitatnya,” ujarnya.
Berdasarkan berbagai publikasi ilmiah dan data monitoring konservasi, populasi Rusa Bawean di alam liar diperkirakan berkisar antara 250–400 individu. Angka ini menjadi salah satu dasar penetapan status Kritis (Critically Endangered) oleh International Union for Conservation of Nature (IUCN).
Habitat intinya berada di Suaka Margasatwa Pulau Bawean dan Cagar Alam Pulau Bawean. Namun, bentang ekologis rusa tidak berhenti di batas administratif kawasan.
Pulau Bawean merupakan ekosistem tertutup seluas sekitar 196 kilometer persegi. Tidak ada migrasi alami keluar-masuk populasi. Artinya, dinamika jumlah rusa sepenuhnya bergantung pada kualitas habitat lokal.
Dalam teori biologi konservasi, populasi kecil menghadapi risiko penyempitan keragaman genetik, perkawinan sekerabat, hingga kerentanan terhadap kejadian acak seperti wabah penyakit atau bencana alam. Karena itu, menurut Ichwan, menjaga daya dukung habitat menjadi kunci.
“Konservasi di pulau kecil membutuhkan pendekatan lanskap terpadu. Tata ruang, pencegahan fragmentasi habitat, dan edukasi masyarakat desa penyangga harus berjalan seiring,” katanya.
Dalam beberapa tahun terakhir, tren populasi dinilai fluktuatif namun relatif stabil. Belum terlihat peningkatan signifikan. Keterbatasan ruang jelajah dan ketersediaan pakan menjadi faktor pembatas alami.
Ancaman perburuan langsung disebut tidak seintensif masa lalu. Meski demikian, potensi jerat untuk satwa lain masih ditemukan dan dapat berdampak tidak langsung pada rusa.
Balai Besar KSDA Jawa Timur melakukan monitoring berkala melalui kamera jebak, survei jejak dan pellet count, patroli SMART, serta analisis distribusi spasial. Monitoring, menurut Ichwan, bukan sekadar menghitung jumlah individu, tetapi membaca tren distribusi dan tekanan habitat.
“Rusa Bawean adalah indikator kesehatan ekosistem Pulau Bawean. Jika populasinya stabil, berarti sistem ekologisnya masih bekerja. Jika menurun, itu menjadi alarm bagi kita semua,” tambahnya.
Logo HUT ke-539 sendiri merupakan karya Muhammad Arif, warga Sidayu, yang memvisualisasikan rusa dalam komposisi dinamis sebagai simbol semangat “Gresik Baru Lebih Maju”. Namun bagi pengelola konservasi, makna simbol itu melampaui desain.
Momentum peringatan hari jadi, kata Ichwan, semestinya menjadi ruang refleksi bersama bahwa pembangunan dan konservasi tidak boleh berjalan sendiri-sendiri. Identitas daerah yang kuat adalah identitas yang mampu menjaga warisan ekologisnya.
Pengangkatan Rusa Bawean sebagai ikon perayaan membawa pesan optimistis, bahwa kebanggaan daerah dapat berjalan beriringan dengan komitmen pelestarian. Tantangannya kini bukan pada simbol yang terpampang, melainkan pada konsistensi menjaga habitat yang menjadi rumah satu-satunya spesies endemik tersebut.
Di Pulau Bawean, optimisme itu diuji setiap hari di hutan-hutan yang sunyi, di kamera-kamera jebak yang merekam jejak kehidupan, dan dalam kerja sunyi konservasi yang terus berlangsung.
Penulis : Fajar Dwi Nur Aji – PEH Ahli Muda pada BBKSDA Jatim
Editor : Agus Irwanto