Rusa Bawean di Balik Bayang Pangopa Tumbang

Di bawah kanopi hutan Pulau Bawean, suara dedaunan yang bergesekan lebih sering terdengar daripada derap langkah manusia. Di sanalah, seekor Rusa Bawean terpantau, jejak tapaknya membekas di tanah lembap, pertanda bahwa spesies endemik itu masih bertahan di rumah satu-satunya.

Namun pada salah satu grid pengawasan, bayang lain menyusup ke dalam narasi hutan. Di kedalamannya, sebuah pohon Pangopa, ditemukan tumbang akibat penebangan ilegal. Sebatang pohon, di tengah ratusan hektare tegakan. Angka yang tampak kecil, tetapi pada ekosistem pulau yang terisolasi, setiap kehilangan memiliki gema ekologis yang panjang.

Temuan itu tercatat dalam pelaksanaan Smart Patrol oleh Tim RKW 09 Gresik–Bawean bersama Masyarakat Mitra Polhut (MMP) Bawean Lestari pada 14–21 Februari 2026. Seluas ±80,94 hektare kawasan Suaka Alam Pulau Bawean dijelajahi melalui 15 grid di Blok Gunung Besar dan Payung-Payung. Data dikumpulkan menggunakan GPS, dokumentasi visual, serta aplikasi SMART Mobile, merekam keanekaragaman hayati, fitur spasial, dan potensi gangguan secara sistematis.

Hutan yang Masih Bernapas
Secara umum, kawasan masih relatif terjaga. Indikator ekologis menunjukkan sistem yang bekerja. Selain Rusa Bawean, tim mendokumentasikan keberadaan Elang Ular Bawean, predator puncak yang menjadi penanda kesehatan rantai trofik.

Mamalia lain seperti Kelelawar Besar, Babi Kutil Bawean, dan Monyet Ekor Panjang masih terpantau aktif. Di lantai hutan dan tepian air, amfibi seperti Katak Tegalan tetap bersuara saat senja. Sementara kupu-kupu raksasa, Kupu-kupu Raja melintas di antara vegetasi Pangopa, Jati, Gondang, hingga Pala Hutan, membawa pesan bahwa struktur tajuk dan mikroklimat masih menopang kehidupan.

Pada pulau kecil seperti Bawean, isolasi geografis melahirkan kekayaan endemik sekaligus kerentanan genetik. Populasi Rusa Bawean yang terbatas membutuhkan habitat utuh untuk menjaga keberlanjutan genetiknya. Dalam konteks inilah, satu pohon yang hilang tak sekadar kehilangan fisik, melainkan potensi gangguan pada jaringan ekologis yang saling terhubung.

Lebih dari Sekadar Sebatang Pohon
Namun hutan tidak hanya menyimpan kisah tentang ancaman. Ia juga menyimpan cerita tentang manusia yang menjaganya.

Sebatang Pangopa yang tumbang tidak pernah mewakili seluruh masyarakat Bawean. Pulau ini justru berdiri di atas tradisi hidup berdampingan dengan alam, nelayan yang membaca cuaca dari kontur perbukitan, petani yang mengenali musim dari suara burung, serta anggota MMP yang berjalan berdampingan dengan petugas patroli menembus lereng terjal.

Sangat mungkin bahwa tindakan penebangan tersebut adalah ulah seorang oknum yang tidak bertanggung jawab, bukan cerminan kolektif masyarakat Bawean. Dalam konservasi, generalisasi dapat menciptakan jarak. Padahal jarak adalah musuh utama kolaborasi.

Bagi Balai Besar KSDA Jawa Timur, menjaga Cagar Alam dan Suaka Margasatwa Pulau Bawean bukanlah tentang melindungi kawasan dari masyarakat. Melainkan menjaga kawasan bersama masyarakat. Sebab pada pulau dengan ekosistem sensitif, perlindungan tidak akan efektif tanpa rasa memiliki.

Pendekatan ke depan tetap tegas pada penegakan hukum, tetapi diperkuat dengan strategi preventif berbasis partisipasi. Penguatan kapasitas MMP, sosialisasi berkelanjutan di desa penyangga, pengembangan alternatif ekonomi berbasis hasil hutan bukan kayu dan agroforestry, hingga monitoring genetik spesies kunci menjadi fondasi jangka panjang.

Data SMART tiga tahun terakhir akan dianalisis untuk memetakan tren gangguan dan distribusi satwa, memastikan strategi adaptif berbasis bukti ilmiah. Di saat yang sama, ruang dialog terus dibuka agar masyarakat memahami bahwa setiap pohon menopang masa depan Rusa Bawean, bahwa konservasi bukan sekadar regulasi, melainkan investasi ekologis lintas generasi.

Di Balik Bayang Pangopa
Ketika senja turun di Gunung Besar, cahaya terakhir menembus celah kanopi. Seekor Rusa Bawean mungkin melintas di jalur yang sama, di antara batang-batang yang masih tegak.

Di Pulau Bawean, optimisme tidak lahir dari ketiadaan ancaman, melainkan dari kesadaran bahwa hutan ini masih bernapas dan bahwa mayoritas warganya memilih untuk menjaganya.

Sebatang Pangopa tumbang mungkin meninggalkan bayang. Tetapi di balik bayang itu, tumbuh komitmen kolektif bahwa Bawean bukan sekadar pulau yang diawasi, melainkan rumah yang dirawat bersama.

Penulis : Fajar Dwi Nur Aji – PEH Ahli Muda BBKSDA Jatim
Editor : Agus Irwanto
Sumber : Bidang KSDA Wilayah II Gresik