Tim Balai Besar KSDA Jawa Timur kembali menapaki lereng-lereng Cagar Alam Pulau Bawean, Kabupaten Gresik (25/02/2026). Di atas areal ±10 hektar yang pernah mengalami degradasi, kegiatan pemeliharaan sekaligus evaluasi pemulihan ekosistem dilaksanakan, melanjutkan upaya yang dimulai sejak 2023 melalui penanaman ±4.400 batang tanaman lokal penyusun hutan.
Tiga tahun mungkin terdengar singkat dalam hitungan waktu manusia. Namun bagi hutan yang sedang belajar pulih, tiga tahun adalah fase yang menentukan.
Sebagian kawasan yang kini dirawat pernah menjadi ruang terbuka akibat gangguan kebakaran skala kecil dan tekanan aktivitas manusia. Tegakan yang semestinya rapat menjadi jarang. Tanah kehilangan pelindungnya. Struktur tajuk terputus.
Hutan tropis bekerja seperti jaringan yang saling menopang. Ketika satu bagian melemah, yang lain ikut terdampak, dari kualitas tanah hingga ketersediaan pakan satwa.
Pemulihan dimulai pada 2023 melalui pengkayaan jenis menggunakan Nyamplung, Gondang, Binong, Pangopa, dan Sentul. Jenis-jenis ini dipilih bukan semata karena mudah tumbuh, tetapi karena perannya dalam membangun kembali struktur ekologis.
Namun seperti semua proses alami, hutan tidak bisa dipaksa kembali utuh. Ia membutuhkan waktu, konsistensi, dan kesabaran.
Tahun Ketiga, Antara Harapan dan Ketahanan
Dalam ilmu restorasi, tiga tahun pertama adalah masa uji ketahanan. Tanaman muda berhadapan dengan gulma yang agresif, variasi kondisi tanah, dan dinamika cuaca yang tak selalu bersahabat.
Pemeliharaan dilakukan melalui penyiangan selektif, pemupukan sesuai kebutuhan tapak, serta penyulaman terbatas pada tanaman mati. Setiap batang diperiksa. Setiap plot diamati.
Sepuluh plot permanen berukuran 20 x 20 meter dibangun sebagai dasar evaluasi ilmiah. Tinggi tanaman diukur. Diameter batang dicatat. Tingkat kelangsungan hidup dihitung melalui metode Survival Rate.
Data menjadi cermin. Ia menunjukkan bukan hanya apa yang berhasil, tetapi juga apa yang perlu diperbaiki.
Kepala Balai Besar KSDA Jawa Timur, Nur Patria Kurniawan, menegaskan bahwa pemulihan ekosistem bukan sekadar kegiatan teknis tahunan.
“Pemulihan ekosistem adalah komitmen jangka panjang. Kita tidak hanya menanam pohon, tetapi memastikan hutan kembali menjalankan fungsinya sebagai habitat satwa dan sistem penyangga kehidupan,” ujarnya.
Pernyataan itu menegaskan bahwa keberhasilan tidak diukur dari seberapa cepat perubahan terlihat, tetapi dari konsistensi menjaga arah.
Di lapangan, pengendali ekosistem hutan, polisi kehutanan, penyuluh, hingga tenaga teknis dan masyarakat bekerja bersama. Tidak ada peran yang lebih besar dari yang lain. Semua menyatu dalam satu tujuan, untuk memastikan kawasan suaka alam tetap berfungsi sebagaimana mestinya.
Cagar Alam Pulau Bawean adalah habitat bagi berbagai jenis tumbuhan dan satwa liar, termasuk Rusa Bawean (Axis kuhlii), satwa endemik yang hanya ditemukan secara alami di pulau ini.
Satwa liar tidak menyampaikan keluhan ketika habitatnya menyempit. Mereka hanya menyesuaikan diri atau menghilang.
Ketika vegetasi mulai menutup kembali lahan terbuka, ketika regenerasi alami muncul tanpa ditanam, ketika gangguan kawasan menurun, itulah tanda bahwa ruang hidup mereka perlahan membaik. Pemulihan vegetasi berarti memulihkan keseimbangan yang lebih luas.
Hutan dan Kesabaran
Tidak ada perubahan yang dramatis di lokasi pemulihan. Tidak ada transformasi yang seketika memukau. Yang ada hanyalah pucuk-pucuk yang tumbuh beberapa sentimeter lebih tinggi dibanding tahun sebelumnya. Batang yang sedikit lebih besar diameternya. Anakan liar yang mulai muncul di bawah tegakan muda.
Perubahan kecil, namun konsisten. Konservasi jarang menghadirkan sorotan cepat. Ia lebih sering berupa kerja sunyi yang terus berulang.
Tahun ketiga bukan akhir perjalanan pemulihan. Ia adalah titik evaluasi untuk memastikan bahwa arah tetap benar. Jika indikator keberhasilan terpenuhi, maka kawasan ini bergerak menuju stabilitas lanskap. Jika belum, pendekatan akan disesuaikan.
Karena dalam konservasi, yang terpenting bukanlah membuktikan bahwa kita berhasil, melainkan memastikan bahwa kita tidak berhenti berusaha.
Di lereng Pulau Bawean, hutan yang pernah terbuka kini diberi kesempatan kedua. Kesempatan itu tidak datang dengan gemuruh, tetapi dengan langkah-langkah terukur. Hutan tidak pernah meminta banyak. Ia hanya butuh dijaga.
Penulis : Fajar Dwi Nur Aji – PEH Ahli Muda BBKSDA Jatim
Editor : Agus Irwanto