Banyuwangi – Perjalanan ratusan burung kecil yang tersembunyi dalam tujuh kotak pengangkutan akhirnya terhenti di Pelabuhan Penyeberangan Ketapang, Banyuwangi. Dari dalam bus antar pulau yang melaju dari Denpasar menuju Jepara, satwa-satwa itu ditemukan dalam kondisi berdesakan, sebagian tak lagi bernyawa.
Temuan tersebut terungkap pada 3 Maret 2026, setelah Badan Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan (BKHIT) Jawa Timur Satuan Pelayanan Penyeberangan Ketapang mengamankan tujuh kotak berisi burung dari bus PO. Mansion bernomor polisi DK 7095 FK. Petugas kemudian meminta bantuan Tim Matawali Resor KSDA Wilayah 12 Banyuwangi, Situbondo, dan Bondowoso – Seksi KSDA Wilayah V Banyuwangi untuk melakukan identifikasi serta penghitungan satwa liar di dalamnya.
Saat kotak-kotak itu dibuka, tim menemukan empat jenis burung liar yang umumnya hidup di rimbun pepohonan hutan dan kebun tropis. Hasil identifikasi mencatat Sikatan Rimba Dada Coklat (Cyornis olivaceus) sebanyak 16 ekor, Kacamata Biasa (Zosterops palpebrosus) sebanyak 48 ekor, Cinenen Jawa (Orthotomus sepium) sebanyak 165 ekor, dan Madu Sriganti (Cinnyris jugularis) sebanyak 60 ekor. Secara keseluruhan, 264 ekor burung ditemukan dalam kondisi hidup dan 25 ekor mati.
Burung-burung kecil tersebut diduga berasal dari penangkapan di alam untuk tujuan perdagangan burung kicau. Meski jenisnya tidak termasuk satwa yang dilindungi, praktik pengangkutan dalam jumlah besar tanpa penanganan yang layak berpotensi menimbulkan tekanan terhadap populasi liar sekaligus meningkatkan risiko kematian selama perjalanan.
Setelah proses identifikasi dan penanganan awal, tim kemudian melakukan pelepasliaran terhadap burung-burung yang masih hidup di kawasan hutan Kawah Ijen, Banyuwangi. Kawasan ini dipilih karena memiliki tutupan vegetasi dan ketersediaan pakan alami yang sesuai bagi burung pemakan serangga maupun nektar.
Pelepasliaran tersebut menjadi langkah untuk mengembalikan satwa ke habitat alaminya. Sekaligus mengurangi dampak dari rantai perdagangan burung liar yang masih kerap terjadi di berbagai daerah.
Di lereng-lereng hutan Ijen yang sejuk, burung-burung itu kembali menemukan ruang yang lebih luas dari sekadar kotak pengangkutan, kanopi pepohonan, udara bebas, dan peluang untuk bertahan hidup di alam liar.
Penulis : Fajar Dwi Nur Aji – PEH Ahli Muda
Editor : Agus Irwanto
Sumber : Bidang KSDA Wilayah III Banyuwangi