Tuban – Suasana Ramadhan menyelimuti SDN Guwoterus 2, Kecamatan Montong, Kabupaten Tuban, pada 3 Maret 2026. Di tengah ritme belajar yang lebih tenang karena puasa, ruang kelas sekolah dasar yang berada di desa penyangga Cagar Alam Gua Nglirip itu justru dipenuhi antusiasme berbeda. Hari itu, Seksi Konservasi Wilayah II Bojonegoro menggelar kegiatan Visit to School.
Sekolah tersebut dipilih karena lokasinya berbatasan dengan kawasan konservasi. Kedekatan geografis itu membuat interaksi antara warga dan kawasan hutan menjadi bagian dari keseharian. Edukasi dipandang sebagai langkah awal untuk memperkuat pemahaman tentang batas, fungsi, dan tanggung jawab dalam menjaga kawasan yang dilindungi.
Materi yang disampaikan mencakup arti penting hutan sebagai penyangga kehidupan, pengenalan status Cagar Alam Gua Nglirip, hingga identifikasi tumbuhan dan satwa liar yang dilindungi maupun yang tidak dilindungi. Penjelasan juga diberikan mengenai konsekuensi hukum terhadap pelanggaran peraturan perundang-undangan di bidang konservasi.
Di dalam kelas, siswa-siswi mengikuti kegiatan dengan perhatian penuh. Meski menjalankan ibadah puasa, mereka aktif bertanya dan menyimak paparan tentang fungsi ekologis hutan sebagai pengatur tata air, pencegah erosi, serta habitat keanekaragaman hayati. Kawasan yang selama ini mereka kenal sebagai bagian dari lanskap desa kini dipahami sebagai wilayah dengan nilai konservasi yang tinggi dan perlindungan ketat.
Kegiatan tidak berhenti pada penyampaian materi. Sejumlah bibit tanaman diserahkan kepada pihak sekolah untuk ditanam di lingkungan sekitar. Bibit tersebut diharapkan menjadi sarana pembelajaran berkelanjutan sekaligus simbol bahwa upaya menjaga alam dapat dimulai dari lingkungan terdekat.
Pelaksanaan kegiatan di bulan Ramadhan memberi makna tambahan. Momentum pengendalian diri dan refleksi menjadi selaras dengan pesan konservasi: menjaga keseimbangan, menghindari kerusakan, serta merawat keberlanjutan. Dari ruang kelas sederhana di desa penyangga itu, penanaman kesadaran dilakukan, sebagai bagian dari strategi jangka panjang menjaga kawasan konservasi tetap lestari.
Penulis : Fajar Dwi Nur Aji – PEH Ahli Muda BBKSDA Jatim
Editor : Agus Irwanto
Sumber : Bidang KSDA Wilayah I Madiun