Sidoarjo, 5 Januari 2025. Di banyak sudut Jawa Timur, alam masih bekerja tanpa suara, pepohonan menjaga air, mangrove menahan abrasi, dan satwa liar bergerak menjaga keseimbangan ekosistem. Namun, di balik ketenangan itu, tekanan terhadap alam terus meningkat, mulai dari perburuan, alih fungsi lahan, hingga perubahan iklim yang sulit diprediksi.
Menjawab tantangan tersebut, Balai Besar KSDA Jawa Timur menata ulang arah kerjanya. Struktur diperkuat, jalur koordinasi dipersingkat, dan Resort Konservasi Wilayah (RKW) ditempatkan sebagai ujung tombak pengelolaan konservasi.
Penataan ini membawa perubahan strategis, dari semula 19 RKW, pada 2026 menjadi 18 RKW. Pengurangan jumlah bukan berarti mempersempit jangkauan, melainkan menata ulang wilayah agar lebih efektif, mengikuti bentang alam, koridor satwa, aliran sungai, dan kedekatan sosial masyarakat.
“Kekuatan konservasi ada pada ketepatan membaca lapangan,” ujar Nur Patria Kurniawan, Kepala Balai Besar KSDA Jawa Timur.
“Penataan ini membuat koordinasi lebih pendek, respons lebih cepat, dan setiap tindakan lebih sesuai dengan kondisi riil di alam,” imbuhnya.
Di resort, konservasi menjadi cerita sehari-hari. Di RKW, konservasi hidup dalam aktivitas sederhana, smart patrol, pendataan satwa, dialog dengan warga, edukasi, hingga penyelamatan satwa yang terancam. Banyak pekerjaan berlangsung tanpa sorotan kamera, namun dampaknya bertahan lama.
Dengan struktur baru, RKW tidak hanya merespons persoalan. Mereka membaca pola ancaman, menandai titik rawan, dan melakukan pencegahan lebih dini. Penataan wilayah kini mengikuti bentang alam, bukan semata batas administratif. Hutan saling terhubung. Air mengalir mengikuti kontur. Satwa bergerak mengikuti habitat.
“Konservasi tidak berhenti di batas wilayah, namun mengikuti lanskap, kita sesungguhnya mengikuti hukum alam,” tegas Nur Patria.
Di lereng Gunung Kelud, RKW 1 Kediri–Nganjuk menjadi benteng terakhir bagi hutan pegunungan dan satwa yang bergantung di dalamnya. Di sini, petugas melakukan patroli habitat secara rutin, mengawasi potensi perburuan dan perambahan, mendampingi mahasiswa dan peneliti yang meneliti ekologi dan flora khas pengunungan.
Wilayah ini dikenal sebagai “laboratorium alam”. Peneliti mempelajari regenerasi vegetasi, interaksi satwa, kualitas air, dan proses pemulihan ekosistem. Setiap temuan memperkuat dasar kebijakan konservasi yang ilmiah dan terukur. RKW 1 Kediri–Nganjuk bukan hanya menjaga alam, tetapi juga membuka ruang bagi ilmu pengetahuan berkembang.
Perubahan penting lainnya adalah transformasi RKW 10 Bawean menjadi RKW 09 Gresik–Bawean. Karena Bawean secara administratif bagian dari Kabupaten Gresik, sehingga integrasi ini membuat koordinasi lebih kuat, program lebih terarah, dan pengelolaan ekosistem lebih terpadu.
RKW 09 Gresik–Bawean mulai merintis survei potensi bioprospeksi, termasuk kajian terhadap Prunus javanica dan Prunus arborea, serta identifikasi dan inventarisasi pengetahuan tradisional masyarakat, khususnya ramuan penyehat tradisional. Tujuannya bukan mengeksploitasi, melainkan mengenali, mendokumentasikan, dan memastikan pemanfaatan secara bijak dan lestari. Pengetahuan masyarakat diposisikan sebagai warisan yang perlu dijaga dan dihormati.
“Bawean memerlukan pengelolaan yang dekat sekaligus menyatu, dengan integrasi ini, pengelolaan diharapkan lebih efektif, sambil tetap menjaga identitas ekologisnya,” ujar Kepala Balai.
Dengan 18 RKW yang lebih terstruktur, laporan lapangan diharap mengalir lebih cepat ke pengambil kebijakan. Temuan mengenai habitat, potensi kebakaran, perdagangan satwa, hingga peluang pemulihan dianalisis dan ditindaklanjuti secara terukur.
Dari sini lahir harapan agar pengawasan yang lebih terencana, pemulihan ekosistem yang tepat sasaran, pembinaan lembaga konservasi dan mitra konservasi yang berkelanjutan serta penyelamatan satwa yang lebih cepat dan aman. Semua bergerak dalam satu arah, selaras untuk melindungi keanekaragaman hayati, sekaligus menjaga keberlanjutan hidup masyarakat.
Konservasi tidak pernah sederhana. Tantangan selalu ada. Namun, di tengah semua itu, harapan tumbuh: satwa kembali ke hutan, mangrove menutup luka pesisir, dan kesadaran masyarakat semakin menguat.
“Struktur hanyalah alat, yang membuatnya hidup adalah komitmen, dari resort hingga balai, bersama masyarakat, bersama menjaga alam Jawa Timur,” tutup Kepala Balai.
Peta baru konservasi ini bukan sekadar penataan wilayah. Ia adalah cara baru memandang alam sebagai rumah bersama, yang harus diwariskan tetap hidup, lestari, dan bermanfaat bagi generasi mendatang.
Penulis : Fajar Dwi Nur Aji – PEH Ahli Muda BBKSDA Jatim
Editor : Agus Irwanto