Sidoarjo, 29 Januari 2026. Perubahan di dunia konservasi sering kali tidak datang dengan peringatan. Ia hadir perlahan, lewat peta kerja yang diperbarui, lewat batas wilayah resort yang disesuaikan, lewat cara kita mendefinisikan ulang apa arti memimpin di lapangan.
Di Jawa Timur, tahun 2026 menjadi salah satu penanda perubahan itu. Penataan ulang Resort Konservasi Wilayah (RKW) di lingkungan Balai Besar KSDA Jawa Timur bukan sekadar penyesuaian administrasi. Ia adalah upaya membaca zaman, termasuk perubahan cara generasi baru memaknai kerja dan tanggung jawab.
Ketika Peta Kerja Bertemu Peta Nilai
Belakangan ini, dunia kerja mengenal istilah conscious unbossing, sebuah kecenderungan di mana orang-orang, terutama generasi muda, tidak lagi menjadikan jabatan struktural sebagai tujuan utama. Mereka ingin tetap dekat dengan substansi, dengan makna, dengan apa yang sejak awal membuat mereka memilih jalan itu.
Banyak rekan muda sangat andal di lapangan, memahami lanskap, membangun dialog dengan masyarakat, membaca dinamika satwa dan habitat. Namun ketika berbicara soal jabatan, mereka kerap memilih tetap berada di tapak. Bukan karena menolak tanggung jawab, melainkan karena ingin menjaganya tetap relevan.
Resort Konservasi sebagai Ruang Kepemimpinan yang Membumi
Resort konservasi menjadi titik temu antara negara dan alam. Di sanalah kebijakan diterjemahkan menjadi tindakan, dan laporan lahir dari jejak kaki di lapangan. Dengan penataan wilayah resort yang lebih proporsional, terhubung secara ekologis, dan realistis secara beban kerja, BBKSDA Jawa Timur sesungguhnya sedang menggeser orientasi pengelolaan, dari sekadar struktur menuju fungsi.
Hal ini sejalan dengan pandangan Kepala Balai Besar KSDA Jawa Timur, Ir. Nur Patria Kurniawan, S.Hut., M.Sc., yang melihat bahwa kekuatan konservasi tidak hanya terletak pada jenjang jabatan, tetapi pada kualitas peran di lapangan.
“Pengelolaan kawasan konservasi hari ini tidak bisa lagi bertumpu pada struktur yang kaku. Kita membutuhkan organisasi yang adaptif, yang memberi ruang bagi petugas lapangan untuk tumbuh sebagai pengelola ekosistem, bukan sekadar pelaksana tugas,” ujarnya.
Kepemimpinan yang Menyebar, Bukan Menumpuk
Dalam konteks conscious unbossing, tantangan terbesar bukanlah kurangnya pemimpin, melainkan bagaimana organisasi memberi ruang bagi berbagai bentuk kepemimpinan itu sendiri.
Penataan RKW tahun 2026 memungkinkan hal tersebut. Dengan wilayah kerja yang lebih fokus dan logis pengambilan keputusan teknis dapat dilakukan lebih dekat ke tapak, koordinasi menjadi lebih luwes, dan tanggung jawab dibagi berdasarkan konteks ekosistem, bukan semata-mata jabatan.
Menurut Nur Patria, pendekatan ini memang sengaja diarahkan untuk menjawab dinamika sumber daya manusia sekaligus tantangan konservasi yang kian kompleks.
“Kami ingin resort menjadi simpul pengelolaan yang hidup. Di sanalah kepemimpinan hadir sebagai fungsi, memimpin patroli, memimpin pemulihan habitat, memimpin dialog dengan masyarakat, tanpa harus selalu dimaknai sebagai posisi struktural,” katanya.
Negara Tetap Hadir, dengan Cara yang Lebih Relevan
Penataan ini tidak berarti melemahkan peran negara. Justru sebaliknya. Negara hadir dengan cara yang lebih relevan dengan tantangan lapangan dan karakter generasi yang menjalaninya.
Akuntabilitas tetap dijaga. Regulasi tetap menjadi pijakan. Namun cara bekerja menjadi lebih adaptif, lebih menyerupai ekosistem yang lentur namun saling menopang.
“Konservasi adalah kerja jangka panjang. Agar berkelanjutan, kita perlu memastikan bahwa orang-orang didalamnya merasa memiliki ruang untuk berkembang, berkontribusi, dan tetap dekat dengan nilai yang mereka yakini,” tambah Nur Patria.
Sebagai Pengendali Ekosistem Hutan, saya melihat penataan RKW 2026 sebagai langkah sunyi namun penting. Ia bukan sekadar membagi wilayah kerja, tetapi menata ulang cara kita memandang kepemimpinan di konservasi.
Di tengah fenomena conscious unbossing, BBKSDA Jawa Timur memilih tidak melawan arus. Ia memilih membaca arah angin, menyesuaikan layar, dan tetap menjaga haluan.
Karena menjaga alam tidak selalu membutuhkan lebih banyak bos. Sering kali, yang dibutuhkan adalah lebih banyak orang yang mau tinggal lebih lama di lapangan, dengan peran yang jelas, makna yang utuh, dan tanggung jawab yang dijalani sepenuh hati.
Penulis : Fajar Dwi Nur Aji – PEH Ahli Muda BBKSDA Jatim
Editor : Agus Irwanto