Kolaborasi BBKSDA Jatim, DAMKAR, Dan Masyarakat Selamatkan Satwa di Madiun

Share

Di Madiun, kisah penyelamatan satwa liar kembali menunjukkan sebuah kenyataan penting, dimana konservasi hanya bisa berjalan jika dikerjakan bersama. Pada Rabu, 7 Januari 2026, sinergi antara DAMKAR Kota Madiun, DAMKAR Kabupaten Madiun, masyarakat, dan Balai Besar KSDA Jawa Timur menjadi contoh bagaimana kolaborasi lintas sektor mampu memberi ruang aman bagi satwa liar untuk kembali ke alamnya.

Pada hari itu, Tim Matawali Bidang KSDA Wilayah I Madiun menerima penyerahan 14 ekor ular Sanca Kembang dari Damkar Kota dan Kabupaten Madiun. Selain itu, tiga ekor Ular Jali juga diserahkan, disusul satu individu Monyet Ekor Panjang (MEP) yang datang dari masyarakat Magetan melalui Jaga Satwa Indonesia (JSI).

Seluruh satwa kemudian dievakuasi menuju Unit Penyelamatan Satwa BBKSDA Jawa Timur di Sidoarjo untuk menjalani observasi, pemeriksaan kesehatan, dan proses rehabilitasi sebelum dipertimbangkan untuk dilepasliarkan.

Di balik penyerahan tersebut, ada proses panjang yang jarang terlihat. Petugas damkar mengevakuasi satwa dari area pemukiman dengan pendekatan hati-hati, meminimalkan stres sekaligus mengurangi risiko bagi warga.

Koordinasi kemudian diteruskan ke tim konservasi agar penanganan berjalan sesuai prosedur ilmiah. Setiap tahapan, mulai dari pengemasan, transportasi, hingga pemeriksaan kondisi fisik, dilakukan dengan standar keselamatan bagi satwa dan manusia.

Fenomena pertemuan satwa liar di wilayah pemukiman tidak terjadi begitu saja. Perubahan bentang alam, menyempitnya ruang jelajah, serta ketersediaan sumber pakan di sekitar aktivitas manusia membuat satwa semakin sering muncul di area hunian. Namun, kejadian di Madiun memperlihatkan sisi berbeda, alih-alih diburu atau dibunuh, satwa justru diserahkan secara sukarela.

Kesadaran seperti inilah yang menjadi pondasi konservasi modern. Masyarakat mulai memahami bahwa ular dan satwa liar lain bukan musuh, melainkan bagian dari sistem ekologi yang menjaga keseimbangan.

Sanca mengendalikan populasi hama, ular jali membantu menekan jumlah tikus, dan monyet ekor panjang memiliki peran penting dalam penyebaran biji dan regenerasi hutan. Mengambil mereka dari alam berarti mengganggu mekanisme alam itu sendiri.

Bagi BBKSDA Jawa Timur, peristiwa ini sekaligus menjadi momentum edukasi publik. Sosialisasi terus dilakukan agar masyarakat mengenali langkah sederhana ketika bertemu satwa liar, tetap tenang, menjaga jarak, tidak memprovokasi, dan segera melapor kepada pihak berwenang. Pendekatan berbasis informasi terbukti menurunkan konflik sekaligus meningkatkan kepedulian.

Kolaborasi dengan damkar menjadi kunci. Unit yang selama ini identik dengan penanganan kebakaran kini ikut berperan sebagai garda pertama dalam penyelamatan satwa.

Perlengkapan, ketenangan, serta kedisiplinan prosedur membuat mereka mampu memberikan pertolongan awal sebelum satwa ditangani lebih lanjut oleh petugas konservasi. Jaringan relawan dan komunitas seperti JSI menambah kekuatan, menjadi penghubung antara warga dan lembaga pemerintah.

Lebih dari sekadar evakuasi, kerja bersama ini adalah investasi untuk masa depan. Setiap satwa yang diselamatkan bukan hanya angka dalam laporan, tetapi bagian dari upaya menjaga keberlanjutan ekosistem. Ketika masyarakat, pemerintah, dan relawan berjalan seiring, konservasi tidak lagi menjadi kewajiban satu institusi, melainkan gerakan bersama.

Peristiwa di Madiun memberi pesan jelas bahwa dengan kolaborasi, empati, dan pengetahuan yang tepat, penyelamatan satwa liar dapat berlangsung aman, manusia terlindungi, dan alam tetap memiliki kesempatan untuk memulihkan dirinya. Dan di situlah harapan konservasi tumbuh, pelan, konsisten, dan penuh arti.

Penulis : Fajar Dwi Nur Aji – PEH Ahli Muda BBKSDA Jatim
Editor : Agus Irwanto
Sumber: Bidang KSDA Wilayah 1 Madiun