Pamekasan – Seekor Landak Jawa kini terkurung di kandang transit sederhana di Kantor Seksi KSDA Wilayah IV Pamekasan. Ia tampak tenang, bahkan cenderung jinak, sikap yang justru menjadi masalah bagi satwa liar yang seharusnya menjaga jarak dari manusia.
Satwa itu bukan datang sendiri. Sekitar sebulan lalu, di tegalan Dusun Tobalan, Kecamatan Waru, Kabupaten Pamekasan, seorang petani menemukannya bersama dua individu lain. Ketiganya kemudian dibawa pulang dan dirawat secara sederhana. Tanpa pengetahuan memadai, upaya itu berujung pada kematian dua ekor. Satu-satunya yang bertahan kini menjadi saksi dari rangkaian keputusan yang terlambat.
Informasi tentang keberadaan satwa tersebut akhirnya sampai ke seorang warga, Wahyu. Ia tidak langsung melapor. Ia memilih mendekat, memberikan penjelasan tentang status perlindungan satwa liar, tentang risiko memelihara satwa yang bukan untuk dipelihara. Saat ia datang, hanya tersisa satu ekor.
Penyerahan dilakukan secara sukarela pada 7 April 2026. Tim Matawali Seksi KSDA Wilayah IV Pamekasan menerima satwa tersebut dalam kondisi hidup, namun dengan perubahan perilaku yang cukup mencolok. “Cukup jinak,” demikian penilaian awal di lapangan. Dalam konteks konservasi, jinak bukan kabar baik.
Satwa liar yang terbiasa dengan manusia berisiko kehilangan insting alaminya. Ia bisa kembali ke permukiman saat dilepasliarkan, mencari sumber pakan yang mudah, dan berujung konflik. Karena itu, pelepasliaran tidak bisa dilakukan segera. Dibutuhkan proses rehabilitasi untuk mengembalikan perilaku alaminya.
Untuk sementara, landak tersebut ditempatkan di kandang transit di Pamekasan. Rencana berikutnya adalah pemindahan ke kandang transit Unit Penyelamatan Satwa (UPS) di Sidoarjo, yang memiliki fasilitas dan standar penanganan lebih memadai.
Kasus ini bukan yang pertama, dan hampir pasti bukan yang terakhir. Di banyak wilayah, penemuan satwa liar masih kerap diikuti dengan keputusan spontan untuk memelihara, tanpa memahami konsekuensinya. Di sisi lain, meningkatnya penyerahan sukarela menunjukkan adanya celah harapan, kesadaran yang mulai tumbuh, meski sering datang setelah kerugian terjadi.
Penulis : Asep Hawim Sudrajat dan Fajar Dwi Nur Aji
Editor : Agus Irwanto
Sumber : Bidang KSDA Wilayah II Gresik