Ponorogo – Matahari belum benar-benar tinggi saat tim Smart Patrol RKW 05 Ponorogo, Seksi KSDA Wilayah II Bojonegoro, memulai langkah di Cagar Alam Gunung Sigogor, 1 April 2026. Bersama mereka, sejumlah mahasiswa Biologi Universitas Negeri Surabaya (UNESA) ikut menyusuri blok Secenthong, sebuah ruang belajar yang tak lagi berupa teori, melainkan lanskap hidup yang terus bergerak.
Selama tiga hari patroli, tim menelusuri sejumlah grid pengamatan, mencatat potensi keanekaragaman hayati sekaligus kondisi kawasan. Hasilnya, beragam spesies teridentifikasi. Dari kelompok serangga, tercatat kupu-kupu Ancistroides gemmifer. Di lantai hutan, dua jenis keong darat Dzakiya rumphii dan Parmarion ditemukan aktif di antara serasah lembap.
Pada strata vegetasi, hutan Sigogor menunjukkan komposisi yang relatif utuh. Jenis-jenis pohon seperti Pasang (Lithocarpus elegans), Nyampuh (Pygeum parviflorum), dan Cemara Aru (Podocarpus neriifolius) mendominasi tajuk. Di lapisan bawah, tercatat kehadiran Apak (Ficus sp.), Pinang Piji (Pinanga coronata), serta jenis pionir seperti Macaranga sp. dan Dodonaea viscosa. Pada kayu lapuk, jamur Xylaria telfairii dan Lentinus sajor-caju menunjukkan proses dekomposisi yang masih berjalan.
Satwa vertebrata juga teramati. Seekor elang terlihat melayang di atas kanopi. Di strata tengah, burung Cendani dan Tulum Tumpuk terdengar aktif. Sementara itu, satu individu ular Bandotan Pohon ditemukan pada vegetasi rendah, menunjukkan keberadaan predator pada rantai trofik kawasan tersebut.
Namun patroli tidak hanya mencatat kehidupan.
Pada grid 120, tim menemukan longsoran tanah dengan estimasi panjang sekitar 150 meter dan lebar 30 meter. Area terbuka tersebut memutus vegetasi dan berpotensi memengaruhi stabilitas lereng di sekitarnya. Selain itu, dari 19 pal batas yang teridentifikasi, sebagian dalam kondisi kurang baik, roboh, aus, atau tidak lagi terbaca.
Di tengah kegiatan, mahasiswa tidak hanya berperan sebagai pengamat. Mereka terlibat dalam pencatatan, identifikasi lapangan, serta diskusi langsung dengan petugas mengenai kondisi ekosistem. Interaksi ini mempertemukan pendekatan akademik dengan pengalaman praktis di lapangan.
Patroli ini menjadi bagian dari upaya rutin pengamanan kawasan sekaligus penguatan fungsi edukasi konservasi. Keterlibatan mahasiswa diharapkan dapat meningkatkan pemahaman terhadap dinamika ekosistem sekaligus menumbuhkan kesadaran konservasi sejak dini.
Cagar Alam Gunung Sigogor, dengan segala kekayaan hayatinya, masih menyimpan banyak hal untuk dipelajari. Namun temuan longsor dan kondisi batas kawasan menjadi pengingat bahwa pengelolaan kawasan konservasi membutuhkan perhatian berkelanjutan.
Di Sigogor, hutan tidak hanya menyediakan data. Ia juga menghadirkan pelajaran, tentang keseimbangan, kerentanan, dan tanggung jawab yang menyertainya.
Penulis : Fajar Dwi Nur Aji – PEH Ahli Muda BBKSDA Jatim
Editor : Agus Irwanto
Sumber : Bidang KSDA Wilayah I Madiun