Kala Habitat Terus Tergerus, Begini Nasib Gajah di Jambi

Share

Tengkorak gajah di Jambi dengan gading sudah tak ada. Foto: Perkumpulan Hijau

Ketika mencari jernang setahun lalu, Mulkan menemukan bangkai gajah, tersisa tumpukan tulang belulang di Hutan Harapan, sekitar 50 meter berbatasan dengan perkebunan karet PT Alam Lestari Nusantara (ALN) di Apdeling VIII, dekat anak Sungai Merentang, Sepintun, Sarolangun. Ditemani Marhoni, temuan itu baru dikabarkan pada BKSDA Jambi awal November ini.

Mulkan takut kalau jadi tertuduh dan harus bertanggungjawab. Memegangnya saja dia tak berani. Yang dia tahu, pengawas gajah di Sepintun adalah orang PT Restorasi Ekosistem Indonesia (Reki). Orang-orang keturunan Suku Anak Dalam (SDA) Batin Telisak, punya pengalaman buruk dengan Reki.

Mereka pernah dilarang masuk ke Hutan Harapan, meski hanya mencari jernang, damar dan rotan, yang selama ini menjadi sumber penghidupan.

“Takutnya ditisum (visum) dapat kito kan, nanti disangko orang Reki kito yang membunuhnya, ternyato tidak, kito cuma ketemu bangkai,” ucap Mulkan.

Setelah setahun ditinggal, bangkai gajah itu tak lagi utuh, tulang cerai berai. Tinggal tengkorak kepala, dan sebagian tulang masih di tempat awal. Bagian tulang kaki terpisah sekitar 30 meter. Banyak tulang hilang.

Marhoni, keturunan Suku Anak Dalam (SAD) Batin Telisak cerita, gajah di Sepintun ada lama sejak leluhur masih hidup.

Dia bilang, tak ada konflik antar mereka. Belum pernah ada kabar gajah mati. Mereka hidup berdampingan dalam satu hutan.

“Kalau bahasa kito itu lah bekanti (kawan),” kata Marhoni.
Gajah di hutan, katanya, cukup membantu warga SAD Batin Telisak. Mereka biasa mencari jernang, damar dan rotan dengan mudah.

“Gajah itu seperti doser, badannyo besak (besar). Bekas yang dilewati jadi terang.Kito lihat pohon jernang itu jadi gampang.”

Pada 2011-2012, Perkumpulan Hijau, pernah meneliti habitat gajah di konsesi ALN, anak usaha PTPN– mendapatkan izin HTI seluas 10.785 hektar—di Sarolangun. Hasilnya, ada sekelompok gajah hidup di sana.

Feri Irawan, Direktur Perkumpulan Hijau minta pada pemerintah Jambi agar izin ALN dikaji ulang. Sebab, banyak kebun karet masyarakat rusak dimakan gajah sejak ALN buka lahan. Dia juga menyebut dalam dukomen Amdal PT. Bukit Kausar yang kini izin beralih ke ALN tak menyebutkan ada populasi gajah di izin mereka.

“Gajah ini satwa dilindungi, kalau habitat habis, mereka bisa mati. Lahan masyarakat juga jadi korban. Mereka harus diberikan tempat,” katanya.

Iroisnya, kata Feri, Tri Siswo Kepala BKSDA Jambi waktu itu, dengan terang membantah ada gajah di konsesi ALN. “Kepala BKSDA, tak percaya ada gajah, malah dia bilang itu rekayasa,” katanya.

Marhoni yang ikut membantu penelitian Perkumpulan Hijau, mengatakan, sejak dulu daerah Sungai Semambu, Sungai Telisak, Sungai Meranti hingga Sungai Merentang yang masuk konsesi ALN adalah wilayah jelajah gajah.

Gajah-gajah itu pula kerap masuk-keluar konsesi Reki di Jambi hingga bagian kawasan di Sumatera Selatan.

Ketika ALN mulai membuka ribuan hektar hutan, wilayah jelajah gajah di Sepintun masuk kebun masyarakat.

Sepanjang 2009-2010, banyak kebun masyarakat rusak dimakan gajah. Marhoni ikut ketiban pulung, hampir 20 hektar kebun karet rusak.

Dia sempat lapor perihal gajah makan pohon karet pada Dinas Kehutanan Jambi, namun dia justru dianggap keliru.

“Katanya masyarakat salah beumo (bermukim) di ladang gajah,” katanya menirukan jawaban petugas BKSDA waktu itu.

Marhoni bilang, jika sebelum ada pembabatan hutan untuk ALN, kebun karet masyarakat aman dari jangkauan gajah.

“Kini ALN ada baru sibuk gajah, malah bikin rumah untuk jago gajah pula.”
Setidaknya ada 10-30 hektar karet muda ALN habis dimakan gajah.

Indra Humas PTPN VI mengaku tak tahu perihal gajah di lokasi anak perusahaan PTPN ini. “Saya belum tahu, nanti saya tanyakan sama pengurus di sana,” katanya lewat telepon.

Krismanko Padang, staf BKSDA Jambi mengatakan, di Sepintun ada sekitar enam sampai delapan gajah betina hidup liar.

Mati dibunuh
Sunarto, Ekolog Satwa Liar WWF, mengatakan, rentetan kematian gajah hampir setiap meningkat. Pada 2012, ada 28 gajah Sumatera mati. Setahun berikutnya, tercatat 33. Pada 2014, gajah mati dilaporkan melonjak 46 . Tahun 2015, 40 gajah mati, hingga18 Februari 2016, ada tiga gajah mati.

Dia bilang, kematian gajah-gajah di Sumatera karena banyak konflik dan perburuan. “Kalau kita temukan banyak gajah jantan mati, gading sudah tak ada lagi,” katanya.

Riau, katanya, menjadi daerah paling rawan di Sumatera untuk populasi gajah. Ratusan gajah mati atau hilang di Riau sejak 2000, seiring pesatnya pertumbuhan bisnis sawit. Banyak gajah dibunuh karena dianggap sebagai ‘hama’.

Sunarto mengatakan, di Kantung Balai Raja, Riau, banyak terjadi konflik menyebabkan gajah mati. Gajah-gajah banyak lari ke timur menuju Giam Siak Kecil.

“Dulu gajah di Riau paling banyak setelah Aceh, sekarang banyak mati,” katanya.

Kajian WWF-Indonesia menunjukkan, populasi gajah Sumatera kian hari makin memprihatinkan. Tiga dekade terakhir, gajah Sumatera banyak kehilangan habitat, da populasi menyusut lebih separuh.

Estimasi populasi 2007 ada sekitar 2.400-2.800 gajah di Sumatera. Data populasi gajah berdasarkan workshop forum gajah dan KLHK 2014, di Sumatera tinggal 1.724.

“Tapi ada juga yang memperkirakan tinggal 1.000an, karena banyak kasus gajah mati,” kata Sunarto.

Gajah-gajah ini hidup menyebar dari Lampung hingga Aceh. Populasi paling banyak di Aceh, tercatat 500 gajah. Di Lampung ada 355, Riau 310, Bengkulu 240, Jambi 159, Sumatera Selatan 100, Sumatera Utara 60. Di Sumatera Barat sejak 2000 gajah Sumatera tak lagi ada.

“Sekitar 1980an masih ditemukan di perbatasan Padang-Jambi, sejak 2000 tidak ditemukan lagi.”

Deforestasi
WWF Indonesia menyebut, Sumatera salah satu wilayah dengan laju deforestasi hutan terparah di dunia dan populasi gajah berkurang lebih cepat dibandingkan jumlah hutan.

Penyusutan habitat satwa besar ini telah memaksa mereka masuk ke kawasan berpenduduk hingga memicu konflik manusia dan gajah, yang sering berakhir kematian gajah.

Sukmareni, Koordinator Devisi Komunikasi KKI Warsi mengatakan, komitmen pemerintah untuk perlindungan lingkungan di Jambi, masih lemah. Banyak hutan alam dialihfungsikan demi kepentingan ekonomi.

Kurun tiga tahun terahir, Jambi kehilangan hampir 200.000 hektar hutan alam atau delapan kali luas lapangan bola per jam.

Berdasarkan interprestasi satelit Landsat 8 oleh unit Geographic Information System Warsi, rentang waktu 2012-2016, Jambi kehilangan tutupan hutan 189.125 hektar. Dari interpretasi 2012, hutan Jambi 1.159.559 hektar. Hingga pertengahan 2016, hutan Jambi tinggal 97.434 hektar.

Kehilangan hutan ini akibat konversi hutan alam menjadi izin konsesi perusahaan industri, pembukaan tambang, serta perambahan. Kehilangan terluas di sebelah selatan Taman Nasional Bukit Tigapuluh (TNBT), Kabupaten Tebo.

Tebo merupakan habitat gajah terbesar di Jambi, salah satu di konsesi LAJ dan PT Tebo Multi Agro. Di sana masih ada beberapa kelompok gajah hidup liar di sekitaran Taman Nasional Bukit Tigapuluh. “Ada kelompok Indah, Sinta, Bella, Freda,” kata Krismanko.

BKSDA Jambi, katanya, tak bisa melakukan banyak hal untuk menyelamatkan gajah. Hampir semua habitat gajah di Jambi menjadi konsesi perusahaan. “Semua habitat gajah ada di kawasan perusahaan, ya kita cuma bisa berdo’a,” katanya.

Menurut dia, tanggung jawab penyelamatan gajah sudah menjadi kewenangan perusahaan.

Albert, Koordinator Lapangan Mitigasi Konflik Gajah, Frankfurt Zoological Society, mengatakan, habitat itu harga mati buat gajah. Kala habitat gajah dibuka, yang timbul adalah konflik. Di lansekap Bukit Tigapuluh, setiap tahun terjadi 100-120 kali konflik gajah dengan manyarakat dan dengan perusahaan.

“Kalau konflik, masyarakat juga yang rugi. Kalau sampai habitat gajah benar-benar habis, konflik akan sulit diselesaikan. Kita tak tahu lagi gajah itu mau dibawa ke mana.”

Sumber : mongabay.co.id