Sebanyak 36 unit kamera pengintai dipasang di 18 petak survei pada bentang alam Gunung Lawu wilayah Jawa Timur, 3–20 Februari 2026. Operasi ini merupakan bagian dari Java Wide Leopard Survey (JWLS), survei nasional untuk memverifikasi struktur populasi dan kelayakan habitat Macan Tutul Jawa. Targetnya jelas, untuk memastikan basis data ilmiah menjelang pembaruan dokumen Strategi dan Rencana Aksi Konservasi (SRAK) 2026.
Kegiatan ini berjalan berdasarkan izin akses sumber daya genetik satwa liar dari Direktorat Jenderal KSDAE kepada Yayasan Sintas Indonesia, serta arahan teknis pelaksanaan JWLS. Di tingkat tapak, pendampingan dilakukan oleh personel BBKSDA Jawa Timur bersama Perhutani KPH Lawu, membagi tim dalam empat regu, dua di Jawa Timur dan dua di Jawa Tengah, dengan total 40 petak survei (80 unit kamera) di seluruh bentang Lawu.
Di wilayah Jawa Timur, delapan petak berada di Lawu Utara dan tujuh petak di Lawu Selatan. Setiap petak berukuran 2×2 kilometer (±400 hektare) dengan target pemasangan di punggungan yang diduga menjadi jalur jelajah Macan Tutul. Hasil awal menunjukkan temuan tanda keberadaan berupa cakaran, kaisan, dan feses di sebagian besar petak. Dari tujuh petak di Lawu Selatan, satu petak tanpa temuan tanda. Di Lawu Utara, tiga dari delapan petak tidak ditemukan indikasi jejak. Tiga sampel feses berhasil dikumpulkan untuk analisis genetik lanjutan.
Sampel tersebut akan diuji di Laboratorium Satwa Liar Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, guna membaca struktur populasi dan variasi genetik. Data ini menjadi fondasi penting untuk analisis Population and Habitat Viability Analysis (PHVA), alat ukur kelayakan populasi dan daya dukung habitat dalam jangka panjang.
Kepala Balai Besar KSDA Jawa Timur, Nur Patria Kurniawan, menegaskan bahwa JWLS bukan sekadar pemasangan kamera, melainkan proses verifikasi ilmiah terhadap masa depan predator puncak di Pulau Jawa.
“Macan Tutul Jawa adalah indikator kesehatan ekosistem hutan kita. Ketika kita berbicara tentang 30 kamera di Lawu, sejatinya kita sedang berbicara tentang kepastian kualitas habitat, ketersediaan mangsa, dan keberlanjutan lanskap,” ujar Nur Patria.
“Data harus berbasis bukti, bukan asumsi. JWLS memberi kita pijakan ilmiah untuk menentukan arah kebijakan konservasi berikutnya,” tegasnya.
Beliau menambahkan, survei ini juga berkaitan langsung dengan target Indikator Kinerja Program (IKP) Dirjen KSDAE dalam RPJMN, khususnya inventarisasi dan verifikasi kawasan bernilai keanekaragaman hayati tinggi secara partisipatif.
Secara ekologis, Gunung Lawu merupakan simpul penting lanskap hutan produksi dan lindung yang terfragmentasi. Keberadaan macan tutul di wilayah ini menandakan fungsi ekologis yang masih berjalan, meski tekanan terhadap habitat tetap menjadi tantangan. Kamera pengintai dipasang pada jalur-jalur potensial perlintasan satwa, terutama punggungan dan koridor alami yang menghubungkan blok hutan.
Pendampingan lapangan dari BBKSDA Jawa Timur, bersama tim peneliti, memastikan setiap pemasangan mengikuti standar protokol survei nasional. Selain dokumentasi visual, pengambilan sampel genetik dilakukan sesuai izin akses sumber daya genetik, dilengkapi dokumen SATS-DN sebagai bentuk pengawasan administrasi.
Survei ini belum menyimpulkan angka populasi. Namun, bukti lapangan yang terkumpul akan memperkuat basis data nasional tentang sebaran dan struktur populasi macan tutul jawa, spesies kunci yang statusnya dilindungi penuh.
JWLS di Lawu menjadi bagian dari 21 bentang alam prioritas di Pulau Jawa. Di tengah narasi krisis keanekaragaman hayati global. Operasi sunyi di lereng-lereng hutan ini menegaskan satu hal bahwa konservasi tak bisa berdiri di atas dugaan.
Ia harus berdiri di atas data. Dan di Gunung Lawu, data itu kini mulai terkumpul.
Penulis : Fajar Dwi Nur Aji – PEH Ahli Muda BBKSDA Jatim
Editor : Agus Irwanto
Sumber : Bidang KSDA Wilayah I Madiun