Jejak Akhmad David Menjaga Satwa dari Ambang Kehilangan Di Hutan Kota Trenggalek

Trenggalek, 6 April 2026 – Kabut turun perlahan di antara batang-batang pohon yang menjulang di Hutan Kota Trenggalek. Udara pagi membawa aroma tanah basah, perpaduan antara daun yang membusuk dan kehidupan yang terus berdenyut di bawahnya. Di tempat yang sekilas tampak seperti ruang hijau biasa di tengah kota kecil di selatan Jawa Timur ini, kehidupan liar masih bersembunyi.

Tak terlihat, tak terdengar, namun nyata. Di antara akar-akar pohon dan jalur-jalur samar yang hanya dipahami satwa, sebuah perangkat kecil terpasang, diam, nyaris tak kasat mata. Kamera jebak. Ia tidak berburu. Ia tidak mengejar. Ia hanya menunggu.

Dan seseorang memasangnya dengan penuh perhitungan. Namanya Akhmad David Kurnia Putra.

Bagi sebagian besar orang, hutan adalah kumpulan pohon, namun bagi David, hutan adalah teks panjang yang ditulis dalam bahasa yang tidak diucapkan. Ia membaca jejak kaki di tanah lembab seperti kalimat. Ia memahami arah patahan ranting sebagai tanda pergerakan. Ia mengartikan sunyi sebagai informasi.

Sebagai Polisi Kehutanan Ahli Muda di Balai Besar KSDA Jawa Timur, David bukan sekadar penjaga kawasan. Ia adalah penerjemah, menghubungkan dunia manusia dengan kehidupan liar yang semakin terdesak.

Di Trenggalek, tugas itu menemukan bentuknya yang paling subtil.

Menempatkan Mata Di Tempat Yang Tepat
Memasang kamera jebak bukan pekerjaan acak. Setiap titik adalah hasil analisis, jalur lintasan satwa, sumber air, area pakan, hingga lokasi dengan gangguan manusia minimal.

David dan rekannya menyusuri kawasan hutan kota dengan pendekatan ilmiah. Mereka tidak hanya berjalan, mereka mengamati, mencatat, dan memprediksi. Dan satwa selalu memilih jalur efisien,vbegitu prinsip dasar yang mereka gunakan.

Di titik-titik tertentu, tanah tampak lebih padat, sering dilalui. Di tempat lain, dedaunan tampak terganggu, tanda aktivitas malam. Di situlah kamera dipasang.

Menghadap rendah. Menyesuaikan tinggi tubuh satwa. Memastikan sudut tangkap optimal tanpa mengganggu perilaku alami. Tidak ada ruang untuk kebetulan.

Dan Malam Menjadi Panggung!
Kehidupan di Hutan Kota Trenggalek tidak berlangsung hanya di siang hari. Ia muncul saat manusia pergi. Saat lampu kota redup. Saat suara kendaraan berganti dengan dengung serangga malam. Di situlah kamera bekerja.

Satu per satu, kehidupan yang tersembunyi mulai menampakkan diri. Seekor musang pandan melintas perlahan, berhenti sejenak, mengendus udara. Seekor Monyet Ekor Panjang bergerak cepat di antara lantai hutan dan kanopi. Sepasang Landak Jawa berjalan hati-hati, durinya berkilau terkena pantulan inframerah.

Rekaman itu sunyi. Tanpa narasi. Tanpa dramatisasi. Namun justru di situlah kekuatannya!

Lebih Dari Sekadar Dokumentasi
Bagi Om Dev, panggilan akrabnya, setiap gambar adalah data. Ia tidak hanya melihat apa yang terekam, tetapi juga, waktu satwa muncul, berapa sering ia melintas, bagaimana pola pergerakannya dan apa yang tidak lagi terlihat.

Dalam konservasi, absennya suatu spesies sering kali lebih penting daripada kehadirannya. Jika satu jenis tidak lagi muncul di rekaman, itu bisa menjadi tanda awal gangguan ekosistem.

“Yang hilang sering kali lebih berbicara daripada yang terlihat,” adalah prinsip yang tak tertulis, namun selalu hadir dalam analisis mereka.

Hutan Kota: Fragmen Yang Bertahan
Hutan Kota atau dikenal sebagai Huko Trenggalek bukanlah hutan luas seperti taman nasional. Ia adalah fragmen. Sebuah potongan kecil ekosistem yang bertahan di tengah tekanan pembangunan, ekspansi ruang hidup manusia, dan perubahan lanskap.

Namun justru karena kecil, ia menjadi penting. Hutan kota seperti ini sering kali menjadi habitat sementara, koridor pergerakan satwa, atau bahkan tempat terakhir bagi spesies tertentu yang melarikan diri dari sangkar buatan manusia untuk bertahan.

Apa yang ditemukan Om Dev melalui kamera jebak membuktikan satu hal, bahwa meski di tengah kota, kehidupan liar belum sepenuhnya hilang.

Antara Harapan Dan Risiko
Namun keberadaan satwa di ruang urban membawa dilema. Semakin dekat satwa dengan manusia, semakin besar potensi konflik. Monyet ekor panjang dapat memasuki permukiman. Musang dapat mendekati area pemukiman untuk mencari pakan. Di sinilah konservasi menjadi kompleks.

David tidak hanya bertugas memantau. Ia juga harus memikirkan, mitigasi konflik, edukasi masyarakat, serta menjaga agar keberadaan satwa tidak berubah menjadi ancaman. Konservasi bukan lagi tentang “melindungi dari jauh”, ia menjadi tentang mengelola kedekatan.

Kerja Yang Tidak Selalu Terlihat
Di balik setiap rekaman, ada kerja panjang yang jarang terlihat publik. Berjalan berjam-jam dalam medan licin. Memasang kamera di tengah hujan. Kembali berminggu-minggu kemudian untuk mengambil data.

Sering kali tanpa hasil yang signifikan. Namun konservasi tidak bekerja dalam logika instan. Ia membutuhkan kesabaran, ketekunan dan keyakinan bahwa setiap data kecil memiliki arti besar.

Data yang dikumpulkan David bukan hanya untuk hari ini. Ia menjadi dasar untuk perencanaan pengelolaan habitat, pengambilan kebijakan konservasi, hingga strategi perlindungan jangka panjang

Dari pola kemunculan satwa, bisa diprediksi, apakah habitat masih layak, apakah terjadi tekanan atau apakah diperlukan intervensi. Dalam dunia konservasi modern, data adalah kompas dan kamera jebak adalah salah satu alat navigasinya.

Salah satu hal yang disadari David dalam pekerjaannya adalah manusia tidak bisa dipisahkan dari ekosistem ini. Hutan kota bukan kawasan tertutup. Ia hidup berdampingan dengan masyarakat dan menjadi penyeimbang kehidupan mereka.

Maka pendekatan konservasi di Trenggalek tidak bisa hanya bersifat teknis. Ia harus sosial dan edukasi menjadi bagian penting untuk mengenalkan satwa kepada masyarakat, membangun kesadaran, dan mengubah persepsi dari “ancaman” menjadi “warisan bersama”.

Hening Yang Menentukan
Di dunia yang semakin cepat, pekerjaan seperti ini tampak lambat. Namun justru di dalam kelambatan itulah masa depan ditentukan, bahwa setiap kamera yang dipasang adalah bentuk perlawanan kecil terhadap kehilangan. Setiap data yang dikumpulkan adalah langkah untuk memahami sebelum terlambat.

Akhmad David tidak bekerja di panggung besar. Ia bekerja di ruang sunyi. Namun dari ruang sunyi itulah, keputusan besar lahir.

Jejak Yang Tidak Terhapus
Suatu malam, kamera jebak kembali merekam. Seekor landak berjalan pelan, berhenti, lalu melanjutkan langkahnya, tak ada yang melihat, tak ada yang tahu, kecuali kamera itu.

Dan seseorang yang nanti akan membaca rekamannya. Di situlah arti pekerjaan ini. Bukan untuk dilihat banyak orang. Bukan untuk mendapat sorotan, melainkan untuk memastikan bahwa kehidupan itu, sekecil apa pun, setersembunyi apa pun, masih punya ruang untuk bertahan.

Dan selama kamera-kamera itu masih terpasang di Hutan Kota Trenggalek, selama masih ada yang membaca jejak-jejak sunyi itu, maka harapan belum benar-benar hilang.

Kisah Akhmad David di Trenggalek adalah potret konservasi masa kini, bukan tentang hutan yang jauh, melainkan tentang kehidupan liar yang bertahan di dekat kita. Ia mengingatkan bahwa, konservasi tidak selalu besar, tidak selalu dramatis, namun selalu penting.

Penulis : Fajar Dwi Nur Aji, PEH Ahli Muda
Editor : Agus Irwanto