Jalan Panjang Konservasi Mamalia oleh PT. Petrokimia Gresik

Share

Gresik, 12 Januari 2026. Konservasi tidak pernah lahir dari keputusan yang tergesa-gesa. Ia tumbuh perlahan, diuji oleh waktu, dan ditopang oleh kesediaan berbagai pihak untuk berjalan bersama dalam jangka panjang. Prinsip inilah yang mendasari pelaksanaan penangkaran non-komersial mamalia dilindungi yang dijalankan oleh PT. Petrokimia Gresik, di bawah pembinaan dan pengawasan Balai Besar KSDA Jawa Timur.

Kegiatan ini dilaksanakan berdasarkan persetujuan dari Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem sebagai bagian dari strategi konservasi ex situ. Penangkaran tersebut secara tegas ditetapkan bersifat non-komersial, dan diarahkan untuk mendukung upaya pelestarian satwa liar, khususnya mamalia dilindungi, melalui pendekatan yang terukur, bertahap, dan berbasis sains.

Dalam skema ini, PT. Petrokimia Gresik tidak hanya berperan sebagai penyedia lokasi penangkaran, tetapi juga sebagai mitra aktif negara dalam mendukung konservasi ex situ. Melalui pemanfaatan kebun riset yang dimiliki, perusahaan menyediakan ruang terkontrol yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan biologis satwa, mulai dari aspek kandang, pakan, kesehatan satwa, hingga pengelolaan lingkungan yang mendekati kondisi alaminya.

Dukungan tersebut juga mencakup komitmen penyediaan sumber daya, pemeliharaan sarana prasarana penangkaran, serta keterbukaan terhadap pembinaan dan evaluasi yang dilakukan oleh Balai Besar KSDA Jawa Timur. Dalam kerangka ini, penangkaran ditempatkan sebagai bagian dari tanggung jawab lingkungan perusahaan, sekaligus kontribusi nyata dunia industri terhadap upaya pelestarian keanekaragaman hayati.

Pada tahap awal pelaksanaannya, Rusa Timor (Rusa timorensis) menjadi jenis yang telah tersedia dan dikelola. Pemilihan ini mencerminkan pendekatan konservasi yang hati-hati dan realistis, dengan memulai dari jenis yang relatif adaptif terhadap lingkungan terkontrol.

Pengelolaan Rusa Timor menjadi sarana pembelajaran teknis dalam membangun sistem penangkaran yang memenuhi standar konservasi, mulai dari manajemen pakan, perawatan kesehatan satwa, pencatatan data biologis, hingga sistem pelaporan yang akuntabel. Fondasi inilah yang menjadi pijakan penting sebelum melangkah ke fase konservasi jenis lain yang lebih sensitif.

Berbeda dengan anggapan bahwa konservasi harus segera menampakkan hasil, penangkaran non-komersial justru menuntut kesabaran dan ketelitian. Rusa Bawean (Axis kuhlii), satwa endemik Pulau Bawean dengan nilai konservasi tinggi, serta Kijang (Muntiacus muntjak) diposisikan sebagai program jangka panjang.

Pengembangannya direncanakan dilakukan secara bertahap, menyesuaikan kesiapan sarana prasarana, penguatan kapasitas teknis, serta hasil kajian ilmiah yang komprehensif. Dalam kerangka ini, penangkaran tidak dimaknai sebagai tujuan akhir, melainkan sebagai instrumen untuk menjaga cadangan genetik dan membuka peluang penguatan populasi di masa depan, apabila kondisi ekologis memungkinkan.

Sebagai Unit Pelaksana Teknis di bawah Direktorat Jenderal KSDAE, Balai Besar KSDA Jawa Timur menjalankan peran pembinaan, pengawasan, dan pendampingan secara berkelanjutan terhadap seluruh unit penangkaran di wilayah kerjanya, termasuk penangkaran yang dikelola PT Petrokimia Gresik.

Kepala Bidang KSDA Wilayah II Gresik, Dr. Ichwan Muslih, menegaskan bahwa penangkaran non-komersial ini sejak awal dirancang sebagai proses jangka panjang yang mengedepankan ketepatan, bukan percepatan.

“Penangkaran ini kami pandang sebagai proses yang harus dijalani dengan kehati-hatian. Fokus awal pada Rusa Timor merupakan bagian dari upaya membangun sistem pengelolaan yang benar dan berkelanjutan,” ujar Ichwan.

“Untuk Rusa Bawean dan Kijang, pendekatan yang dipilih adalah jangka panjang, dengan memastikan kesiapan teknis, sarana prasarana, dan dasar ilmiah yang kuat. Balai Besar KSDA Jawa Timur akan terus melakukan pembinaan dan pengawasan agar tujuan konservasi tetap menjadi landasan utama,” tambahnya.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa kehadiran negara tidak hanya sebatas pemberi persetujuan, namun juga sebagai penjaga arah, memastikan seluruh proses penangkaran tetap berada dalam koridor hukum dan etika konservasi.

Memulai dari Rusa Timor bukan berarti mengesampingkan pentingnya Rusa Bawean. Justru sebaliknya, pengalaman teknis dan data biologis yang diperoleh dari tahap awal ini akan menjadi fondasi penting sebelum memasuki fase konservasi spesies yang lebih sensitif dan bernilai tinggi.

Di tengah dunia yang bergerak cepat, penangkaran non-komersial ini mengingatkan bahwa menjaga kehidupan liar membutuhkan waktu, ketekunan, dan komitmen lintas sektor. Dimulai dari Rusa Timor, menyiapkan harapan bagi Rusa Bawean dan Kijang, serta kolaborasi antara negara dan dunia industri.

Hal ini menegaskan bahwa konservasi sejati tidak diukur dari seberapa cepat hasilnya terlihat, melainkan dari konsistensi niat dan keteguhan langkah.

Penulis : Fajar Dwi Nur Aji – PEH Ahli Muda BBKSDA Jatim
Editor : Agus Irwanto