Sidoarjo, 18 Februari 2026. Tahun Baru Imlek menjadi penanda penting dalam perjalanan waktu menurut penanggalan lunar. Dalam perhitungan Kongzili, tahun ini memasuki tahun 2577, yang dimulai pada 17 Februari 2026, sekaligus menandai dimulainya Tahun Kuda Api, simbol energi, ketangguhan, dan keberanian untuk bergerak maju.
Bagi seorang rimbawan, pergantian tahun tidak sekadar dimaknai sebagai perayaan, tetapi juga sebagai momen refleksi. Alam bekerja dalam siklus yang panjang, musim berganti, hutan tumbuh dan pulih, satwa menyesuaikan ruang hidupnya, sementara manusia terus belajar menjaga keseimbangan. Dalam konteks itu, tahun baru menjadi pengingat untuk meninjau kembali hubungan manusia dengan alam, apakah kita berjalan searah dengan alam, atau justru menjauh darinya.
Di bentang alam Jawa Timur, dinamika tersebut terlihat nyata. Kawasan hutan, pesisir, hingga ruang penyangga konservasi menghadapi perubahan yang cepat.
Aktivitas manusia terus berkembang, sementara satwa liar berupaya bertahan dengan ruang hidup yang semakin terbatas. Tidak jarang, interaksi keduanya menjadi lebih intens: monyet yang mendekat ke permukiman, ular yang muncul di lingkungan warga ketika musim hujan, atau babi liar yang memasuki lahan pertanian. Bagi seorang konservasionis, peristiwa-peristiwa itu bukan sekadar konflik, melainkan sinyal ekologis bahwa keseimbangan ekosistem sedang menyesuaikan diri.
Makna Tahun Kuda Api dalam filosofi penanggalan ini sering dihubungkan dengan semangat bergerak, daya tahan, dan keberanian menghadapi perubahan. Nilai tersebut terasa selaras dengan kerja-kerja konservasi.
Menjaga alam bukanlah pekerjaan yang selesai dalam waktu singkat. Ia memerlukan konsistensi, kesabaran, serta keberanian untuk terus melangkah, seperti langkah kuda yang kuat namun terarah.
Seorang rimbawan memahami bahwa setiap satwa adalah indikator kesehatan alam. Perubahan pola kemunculan satwa sering kali mencerminkan perubahan pada habitatnya.
Ketika satwa semakin sering terlihat di ruang manusia, alam sebenarnya sedang menyampaikan pesan. Di sinilah pentingnya konservasi, bukan hanya melindungi satwa, tetapi membangun kesadaran masyarakat agar mampu membaca tanda-tanda alam dengan lebih bijak.
Refleksi tahun baru ini mengingatkan bahwa harapan konservasi tidak selalu lahir dari langkah besar. Ia tumbuh dari tindakan sederhana, menjaga tutupan vegetasi, tidak merusak habitat kecil di sekitar lingkungan, memahami fungsi ekologis satwa, serta mengedepankan edukasi ketika terjadi interaksi manusia dengan satwa liar. Kesadaran kolektif inilah yang menjadi fondasi utama keberhasilan pelestarian.
Kepala Balai Besar KSDA Jawa Timur, Ir. Nur Patria Kurniawan, S.Hut.,M.Sc. menegaskan bahwa refleksi Tahun Baru Imlek 2577 dapat menjadi momentum memperkuat harmoni antara manusia dan alam.
“Pergantian tahun selalu membawa harapan baru. Dalam konteks konservasi, harapan itu adalah tumbuhnya kesadaran bersama bahwa manusia dan alam tidak dapat dipisahkan. Semangat Tahun Kuda Api mengingatkan kita untuk terus bergerak, bekerja sama, dan menjaga keseimbangan ekosistem agar alam Jawa Timur tetap lestari bagi generasi mendatang,” ujarnya.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa konservasi bukan hanya tanggung jawab institusi, melainkan tugas bersama seluruh elemen masyarakat. Alam yang sehat tidak lahir dari kebijakan semata, tetapi dari kesadaran kolektif yang tumbuh dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam refleksi Tahun Baru Imlek tahun 2577 Kongzili, pesan yang muncul terasa universal, perubahan tidak dapat dihindari, tetapi arah perubahan dapat dipilih. Jika simbol Kuda Api membawa energi untuk bergerak maju, maka dalam perspektif konservasi, keberanian itu berarti melangkah dengan bijak, menjaga ruang hidup satwa, menghormati proses alam, dan memastikan keseimbangan ekosistem tetap terjaga.
Pada akhirnya, harapan terbesar bagi konservasi di Jawa Timur bukan hanya bertambahnya kawasan yang terlindungi, tetapi tumbuhnya kesadaran bahwa manusia dan alam berada dalam satu perjalanan yang sama. Seperti siklus waktu yang terus berputar, upaya menjaga bumi pun harus terus berjalan, tenang, konsisten, dan penuh rasa hormat terhadap kehidupan.
Sumber: Fajar Dwi Nur Aji – PEH Ahli Muda pada BBKSDA Jatim
Editor : Agus Irwanto