Duka di Pamekasan, Refleksi atas Keselamatan dan Pengelolaan Satwa Liar di Permukiman

Pamekasan – Siang itu, suasana di sebuah dusun di Kabupaten Pamekasan berubah drastis (1/4/2026). Ruang yang selama ini menjadi tempat bermain anak-anak, yang dipenuhi suara tawa dan langkah kecil yang riang, mendadak sunyi oleh duka. Seorang bocah laki-laki berusia lima tahun meninggal dunia setelah mengalami serangan dari seekor monyet peliharaan milik warga yang terlepas dari pengawasan.

Peristiwa ini terjadi dalam hitungan menit, cepat, tak terduga, dan meninggalkan luka yang mendalam. Siang itu, korban tengah bermain bersama dua temannya di halaman rumah kerabatnya. Dalam ruang yang terasa aman, seekor primata muncul secara tiba-tiba. Monyet tersebut sebelumnya diketahui telah lepas dari ikatan sejak sehari sebelum kejadian.

Tanpa peringatan, satwa itu menunjukkan perilaku agresif. Dua anak berhasil menyelamatkan diri, tetapi tidak bagi korban. Luka gigitan yang serius menyebabkan kondisi kritis. Upaya penyelamatan telah dilakukan, namun nyawa kecil itu tidak tertolong.

Di tengah duka yang menyelimuti, penting untuk memahami satu hal mendasar, bahwa peristiwa ini bukan konflik antara manusia dan satwa liar di habitat alaminya. Satwa yang terlibat merupakan Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis), spesies primata yang umum ditemukan di berbagai wilayah Asia Tenggara, termasuk Indonesia.

Dalam kondisi alami, satwa ini hidup berkelompok di hutan, mangrove, maupun kawasan pesisir, dengan struktur sosial yang kompleks dan perilaku yang sangat adaptif. Namun ketika dipelihara di lingkungan domestik, jauh dari habitat alaminya, terjadi perubahan dinamika yang tidak selalu dapat dikendalikan.

Naluri liar yang melekat pada satwa ini tidak pernah benar-benar hilang. Dalam kondisi tertentu, terutama ketika mengalami stres, merasa terancam, atau berada di luar kendali. perilaku agresif dapat muncul secara tiba-tiba.

Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur memandang kejadian ini sebagai peringatan penting. Kepala Balai Besar KSDA Jawa Timur, Nur Patria Kurniawan, menyampaikan duka mendalam sekaligus menegaskan aspek fundamental dalam konservasi.

“Kami turut berduka cita atas peristiwa ini. Kejadian di Pamekasan menjadi pengingat bahwa satwa liar, termasuk primata seperti monyet ekor panjang, bukanlah hewan domestik yang sepenuhnya aman dipelihara tanpa standar dan pengawasan ketat. Naluri alaminya tetap ada dan dapat muncul sewaktu-waktu,” ujarnya.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa persoalan ini bukan semata tentang insiden tunggal, melainkan tentang cara pandang yang masih keliru terhadap satwa liar. Dalam banyak kasus, memelihara satwa liar dianggap sebagai hal yang wajar, bahkan sebagai bentuk kedekatan manusia dengan alam. Padahal, tanpa pemahaman yang memadai, praktik tersebut justru berpotensi menimbulkan risiko, baik bagi manusia maupun satwa itu sendiri.

Primata seperti Macaca fascicularis dikenal memiliki kecerdasan tinggi, kemampuan beradaptasi yang luar biasa, serta struktur sosial yang kompleks. Di alam, mereka hidup dalam kelompok dengan hierarki yang jelas, menjelajah ruang yang luas, dan memiliki pola interaksi yang khas. Ketika ditempatkan di lingkungan sempit, terikat, atau terisolasi dari kelompoknya, tekanan perilaku dapat meningkat. Dalam kondisi seperti inilah, respons agresif menjadi lebih mungkin terjadi.

Kepala BBKSDA Jawa Timur kembali menegaskan bahwa konservasi tidak hanya berbicara tentang perlindungan satwa di habitat alaminya, tetapi juga tentang bagaimana manusia bersikap ketika berhadapan dengan satwa tersebut di luar habitat.

“Konservasi bukan hanya tentang menjaga satwa di habitatnya, tetapi juga memastikan bahwa ketika satwa berada di luar habitat, baik dalam penangkaran maupun pemeliharaan, prinsip keselamatan manusia dan kesejahteraan satwa harus menjadi prioritas utama,” jelasnya.

Tragedi di Pamekasan menyisakan ironi yang mendalam. Seorang anak kehilangan masa depannya. Seekor satwa kehilangan hidupnya setelah akhirnya dibunuh pasca kejadian. Dua kehidupan yang seharusnya tidak pernah saling berhadapan dalam konflik, justru dipertemukan dalam situasi yang tidak semestinya.

Di balik peristiwa ini, tersimpan pelajaran penting yang tidak boleh diabaikan. Bahwa setiap satwa memiliki ruang hidup, kebutuhan perilaku, dan batas interaksi yang harus dihormati. Ketika manusia mengambil alih ruang tersebut tanpa pengetahuan dan tanggung jawab yang cukup, maka keseimbangan yang rapuh itu dapat runtuh kapan saja.

Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa keselamatan manusia dan kesejahteraan satwa bukanlah dua hal yang saling bertentangan, melainkan dua hal yang harus dijaga secara bersamaan. Edukasi, kesadaran, dan kepatuhan terhadap kaidah konservasi menjadi kunci dalam mencegah tragedi serupa terulang.

Dan pada akhirnya, mungkin pertanyaan yang perlu kita renungkan bukanlah mengapa satwa itu bertindak demikian.

Melainkan, apakah manusia telah cukup bijak untuk memahami bahwa tidak semua makhluk dapat hidup berdampingan dalam ruang yang sama, tanpa batas, tanpa risiko, dan tanpa konsekuensi.

Penulis : Fajar Dwi Nur Aji, PEH Ahli Muda
Editor : Agus Irwanto
Sumber : Balai Besar KSDA Jawa Timur