Dikira Hama, Tapi Babi Kutil Bawean Ternyata Penjaga Ekosistem Pulau

Share

Bawean, 9 Januari 2026. Di Pulau Bawean, hutan, ladang, dan pemukiman berdiri berdekatan, seolah menyatu tanpa batas. Pada ruang perjumpaan itulah babi kutil sering terlihat, menghadirkan relasi yang tidak selalu mudah.

Di sebagian pandangan, satwa ini dianggap sebagai pengganggu. Namun bagi ekosistem pulau, kehadirannya sesungguhnya menyimpan peran yang jauh lebih penting.

Babi kutil Bawean (Sus blouchi) adalah satwa endemik yang hanya hidup alami di pulau kecil ini. Populasinya terbatas, ruang jelajahnya tertekan, dan interaksi dengan manusia makin sering terjadi.

Secara global, IUCN menetapkannya sebagai spesies terancam punah (Endangered). Namun di level regulasi nasional, Babi Kutil memang belum termasuk jenis satwa dilindungi. Meski demikian, keberadaannya tetap memiliki payung perlindungan ekologis melalui status kawasan, Suaka Margasatwa Pulau Bawean, habitat penting bagi Rusa Bawean sekaligus ruang hidup alami bagi Babi Kutil.

Di dalam hutan, satwa ini bekerja dalam sunyi. Saat membalik tanah untuk mencari makan, ia membantu mengurai serasah, mempercepat perputaran unsur hara, dan menyebarkan biji-bijian tanaman. Semua proses itu menopang regenerasi hutan. Bila mekanisme alami ini melemah, daya tahan ekosistem pun ikut tergerus, dan pulau kehilangan salah satu penggerak kehidupannya.

Namun di tepian hutan, ada kenyataan lain yang tidak bisa diabaikan. Tanaman petani rusak, ladang terancam, dan keresahan pun lahir. Satwa memasuki lahan bukan karena berniat merusak, melainkan didorong naluri bertahan hidup di ruang yang semakin terbatas. Konflik muncul bukan karena satu pihak salah, tetapi karena kebutuhan manusia dan satwa bertemu dalam ruang yang sama.

Karena itu, Balai Besar KSDA Jawa Timur memaknai konservasi sebagai kerja bersama. Kawasan suaka margasatwa bukanlah pagar yang membatasi masyarakat dari hutan, melainkan jantung ekosistem yang harus dijaga dan dikelola secara kolaboratif. Dialog, pendampingan, dan pendekatan yang adaptif menjadi jalan tengah agar kesejahteraan masyarakat tetap terjaga, sementara satwa liar tetap memiliki ruang hidup yang aman.

Dalam kerangka itulah, Kepala Balai Besar KSDA Jawa Timur, Nur Patria Kurniawan, menekankan pentingnya kebijakan yang humanis dan penuh empati.

“Penanganan Babi Kutil perlu terus kita lakukan dengan cara-cara yang humanis dan penuh empati. Kita memahami bahwa sebagian masyarakat melihatnya sebagai hama. Mengubah cara pandang tentu tidak bisa dilakukan seketika. Karena belum banyak bukti yang secara langsung dirasakan terkait dampak hilangnya satwa ini, maka tugas kita adalah menjelaskan perannya bagi ekosistem secara pelan-pelan dan bijaksana,” terang Nur Patria.

Beliau menambahkan, bahwa pendekatan konservasi harus senantiasa menghargai nilai-nilai sosial yang hidup di masyarakat.

“Kita perlu mendekati persoalan ini dengan rasa hormat. Masyarakat memiliki pengalaman, tradisi, dan cara pandang sendiri terkait satwa dan lingkungan. Tugas kita adalah membangun pemahaman bersama, bahwa menjaga satwa liar sekaligus berarti menjaga alam dan keberlanjutan kehidupan di Bawean,” tambahnya.

Bawean sendiri bukan hanya rumah bagi Babi Kutil. Pulau ini juga menjadi habitat bagi Rusa Bawean yang ikonik, sejumlah jenis burung hutan, reptil, dan satwa kecil lain yang menyusun rantai kehidupan. Seluruhnya saling terhubung. Ketika satu bagian melemah, bagian lain ikut terguncang, terutama pada ekosistem pulau yang secara alami lebih rapuh dibandingkan daratan besar.

Selanjutnya, upaya konservasi di Bawean diarahkan pada keseimbangan. Penataan ruang antara hutan dan permukiman, praktik pertanian yang lebih adaptif, peningkatan pemahaman tentang peran satwa, serta penelitian yang berkelanjutan menjadi fondasi kebijakan yang berbasis data. Kolaborasi dengan masyarakat, pemerintah desa, tokoh agama, media, akademisi, dan mitra konservasi memastikan upaya ini berjalan dengan rasa memiliki yang sama.

Pada akhirnya, menyelamatkan Babi Kutil bukan sekadar melindungi satu jenis satwa. Ini adalah upaya menjaga alur air, menahan erosi tanah, mempertahankan keanekaragaman hayati, dan memastikan masa depan Pulau Bawean tetap layak dihuni.

Suaka Margasatwa Pulau Bawean hadir bukan untuk menjauhkan manusia dari hutan, melainkan untuk mengajak semua pihak merawatnya sebagai jantung ekosistem pulau yang rapuh, tetapi sangat berharga. Konservasi selalu menuntut empati, kebijaksanaan, dan keberanian untuk berjalan bersama. (dna)

Penulis : Fajar Dwi Nur Aji – PEH Ahli Muda BBKSDA Jatim
Editor : Agus Irwanto