Detik-Detik Sanca Bodo Kembali Ke Hutan Besowo

Kediri – Di antara rimbunnya vegetasi hutan Cagar Alam Besowo Gadungan, seekor ular sanca remaja perlahan menghilang di balik semak. Tubuhnya yang berotot bergerak tenang, seolah kembali mengenali denyut alam yang telah lama terputus.

Pagi itu, 31 Maret 2026 pukul 10.30 WIB, sebuah perjalanan pulang dimulai. bukan sekadar pelepasliaran, tetapi simbol keterhubungan manusia dan alam yang masih terjaga.

Satwa yang dilepasliarkan adalah Sanca Bodo, hasil penyerahan sukarela dari masyarakat. Sebelum dilepas, tim memastikan kondisi satwa dalam keadaan sehat, tanpa luka, tanpa stres berlebih, dan memiliki kemampuan bertahan hidup di habitat alaminya.

Kegiatan ini dilaksanakan oleh Tim Matawali Seksi KSDA Wilayah I Kediri yang terdiri dari Achmad Soleh Chamdani, Febrian Wahyu, Suprihadi, serta Supardi (MMP). Mereka bergerak tidak hanya sebagai petugas, tetapi sebagai penjaga keseimbangan, mengembalikan satu individu satwa ke dalam jejaring ekosistem yang lebih besar.

Pelepasliaran dilakukan diwilayah yang secara ekologis masih mendukung keberlangsungan hidup spesies tersebut. Habitat hutan alami dengan tutupan vegetasi rapat menjadi ruang aman bagi sanca untuk berburu, berlindung, dan berkembang.

Namun, cerita ini tidak berhenti pada satu individu ular.

Di balik peristiwa ini, tersimpan pesan penting tentang meningkatnya interaksi manusia dan satwa liar. Alih fungsi lahan, fragmentasi habitat, hingga perubahan bentang alam menjadi faktor yang mendorong satwa keluar dari habitat alaminya dan mendekati permukiman.

Di sinilah peran masyarakat menjadi krusial.

Penyerahan satwa liar secara sukarela menunjukkan adanya kesadaran yang tumbuh, bahwa satwa bukan untuk dipelihara, diperdagangkan, atau dieliminasi, melainkan bagian dari sistem kehidupan yang harus dijaga bersama.

Melalui Program Matawali, Balai Besar KSDA Jawa Timur terus memperkuat respons cepat dalam penanganan konflik manusia dan satwa liar, sekaligus membangun pendekatan persuasif berbasis edukasi. Sosialisasi, baik secara langsung maupun melalui media digital, menjadi langkah strategis untuk menanamkan nilai konservasi di tengah masyarakat.

Karena pada akhirnya, keberhasilan konservasi tidak hanya diukur dari jumlah satwa yang diselamatkan, tetapi dari seberapa kuat kesadaran kolektif manusia untuk hidup berdampingan dengan alam.

Di hutan Besowo, sanca itu kini telah kembali. Namun pertanyaan yang tersisa bagi kita adalah, apakah kita juga siap kembali menjaga rumah mereka?

Penulis : Fajar Dwi Nur Aji, PEH Ahli Muda
Editor : Agus Irwanto
Sumber : Bidang KSDA Wilayah I Madiun