Bunga Rafflesia Ternyata Masih Ada Di Puger!

Share

foto agus ariyanto

Penemuan Bunga Rafflesia zollingeriana kds di kawasan hutan lindung Puger ini awalnya tidak disengaja, karena kegiatan sebenarnya bertajuk Monitoring Populasi Banteng (Bos javanicus) di Site Pengamatan Blok Hutan Lindung Londo Lampesan. Lokasi penemuan berjarak sekitar 5 km dari Cagar Alam (CA) Watangan Puger I yang merupakan kawasan konservasi Balai Besar KSDA Jawa Timur.

Adalah Dr. Sijfert Hendrik Kooders, seorang Houtvester, Botanist dan pelopor konservasi alam di Indonesia yang berkebangsaan Belanda. Di tahun 1918 ia menemukan 2 jenis bunga Rafflesia yaitu Rafflesia atjehensis di Lokop, Aceh, dan Rafflesia zollingeriana koorders di Puger, Jember, Jawa Timur. Sehingga kedua jenis bunga tersebut pada nama ilmiahnya ditambahkan nama koorders (kds) di belakangnya.

Untuk diketahui, awalnya kawasan cagar alam ini terdiri dari 5 area, yakni CA. Watangan Puger I sampai dengan V. Namun pada tahun 1958 telah dihapuskan karena keadaan alamnya yang telah rusak sehingga tersisa CA. Watangan Puger I.

Pada 16 Agustus 2018 yang lalu, Tim Monitoring Populasi Banteng menjadwalkan pengambilan Camera Trap yang telah dipasang sebelumnya di kawasan hutan lindung Puger. Namun tim justru menemukan bunga yang memiliki penampilan menarik berwarna kemerahan dengan bintik-bintik putih, yang diduga bunga jenis Rafflesia atau lebih dikenal dengan nama lokal sebagai bunga Patmo Sari.

Di lokasi tersebut terdapat 3 unit bunga, 1 bunga dalam keadaan telah membusuk, 1 masih berupa kuncup (knop) dan satu lagi dalam keadaan mekar. Ukuran penampang bunga Rafflesia yang telah mekar tersebut sekitar 37-40 cm dengan ketinggian dari permukaan tanah sekitar 30 cm.

Bunga ini termasuk bunga langka yang dilindungi Undang-Undang berdasarkan PP Nomor 7 tahun 1999 sebagaimana diubah dengan PerMenLHK Nomor P.20 /MENLHK/SETJEN/KUM.1/2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa Yang Dilindungi. Saat ini tercatat hanya ada 27 jenis bunga Rafflesia di dunia, 14 jenis tersebut berada di Indonesia. Sebagian besar dapat dijumpai di Pulau Sumatera yaitu 11 jenis, di Bengkulu sendiri terdapat 4 jenis (Susatya, 2011).

Bunga ini merupakan endoparasit yang tumbuh pada inang jenis tanaman merambat yaitu Tetrastigma lanceolarium dan Tetrastigma papillosum namun tidak semua jenis tanaman ini ditumbuhi oleh Bunga Rafflesia. Ia juga tidak memiliki akar, batang, dan daun. Kelopak bunga berwarna merah kecoklatan dengan diselingi bintik-bintik warna putih, umur bunga mekar sempurna sekitar 5-7 hari.

Rafflesia zollingeriana ini merupakan warisan penemuan Dr. Koorders, yang pertama kali menemukannya di Pulau Jawa pada tahun 1918 di kawasan hutan Puger. Kemudian bunga ini tak terlihat lagi keberadaannya, selain yang dapat kita jumpai di Taman Nasional Meru Betiri, hingga akhirnya bunga ini ditemukan kembali.

Menurut sejarah bahwa Kooders datang dan melakukan penelitian di kawasan hutan Puger pada tahun 1916 sebelum akhirnya meninggal pada tahun 1919. Mungkin penemuan Rafflesia ini menjadi sumbangsih terakhir Dr. Kooders, sang pelopor konservasi alam Indonesia dibidang botani.

Dengan penemuan ini diharapakan semua pihak dapat membantu Pemerintah dalam hal ini UPT Balai Konservasi Sumber Daya Alam, untuk melindungi dan melestarikan tanaman langka ini dari ancaman kepunahan. (Agus Ariyanto, Pengendali Ekosistem Hutan Pertama Pada Balai Besar KSDA Jawa Timur)

Editor : Agus Irwanto