Di Pulau Bawean, air adalah kehidupan. Ketika alirannya terhenti pada awal Januari 2026, kegelisahan segera terasa di sawah-sawah yang bergantung pada jalur irigasi dari kawasan hutan.
Sebuah pohon Binong berukuran besar roboh di Blok Gunung Besar, Suaka Margasatwa Pulau Bawean (5/1/26). Batangnya menutup jalur pipa, dahan-dahannya menjulur ke lahan warga, dan aliran air berhenti total. Laporan cepat dari pemilik sawah diteruskan melalui pemerintah desa hingga ke tim RKW 09 Gresik–Bawean, yang segera melakukan pengecekan dan penanganan pada Selasa, 6 Januari 2026.
Di lapangan, dilema itu muncul, air harus kembali mengalir, tetapi kawasan konservasi harus tetap utuh. Penanganan pun dilakukan secara terukur.
Petugas dan masyarakat hanya merapikan bagian pohon yang benar-benar menutup pipa dan menimpa sawah. Tidak ada kayu yang diambil, tidak ada pembakaran, tidak ada pembukaan lahan. Batang utama dibiarkan utuh, menjadi bagian dari proses alami hutan yang menyuburkan tanah dan menjaga kehidupan mikroorganisme.
Hasilnya nyata, jalur pipa kembali terbuka, kerusakan pipa diperbaiki bertahap, tanaman pertanian selamat, dan kawasan tetap terjaga tanpa penebangan tambahan. Konservasi bekerja, tenang, hati-hati, namun efektif.
Dari kejadian ini, Bawean belajar. Penanganan saja tidak cukup, edukasi menjadi kunci. Petugas bersama masyarakat mulai membangun pemahaman baru, bahwa merapikan pohon roboh bukanlah izin untuk memanfaatkan kayu, dan bukan alasan untuk memperluas lahan.
Sistem pelaporan diperpendek, koordinasi desa–RKW dipererat, dan jalur pipa di titik rawan dirancang lebih adaptif agar tidak mudah rusak bila kejadian serupa terulang. Di sepanjang proses, masyarakat dilibatkan, diajak melihat bahwa konservasi bukan penghalang, tetapi penjaga air yang mereka butuhkan.
Pohon yang tumbang itu akhirnya menjadi guru yang baik. Ia mengajarkan bahwa hutan tidak selalu membutuhkan intervensi besar, yang dibutuhkan adalah kebijaksanaan dalam bertindak. Bawean memperlihatkan, sekali lagi, bahwa ketika penanganan lapangan dan edukasi berjalan beriringan, hutan tetap terlindungi dan sawah tetap hidup.
Pada akhirnya, Bawean kembali menunjukkan satu kenyataan sederhana bahwa menjaga hutan berarti menjaga air. Menjaga air berarti menjaga pangan. Dan menjaga pangan berarti menjaga masa depan, bukan hanya bagi satwa liar di kawasan konservasi, tetapi juga bagi setiap keluarga yang hidup berdampingan di sekitarnya.
Penulis : Fajar Dwi Nur Aji – PEH Ahli Muda BBKSDA Jatim
Editor : Agus Irwanto
Sumber : Bidang KSDA Wilayah 2 Gresik