2026, Tahun Untuk Memperbaiki Cara Memandang Alam

Share

Sidoarjo, 2 Januari 2026. Di tengah cuaca yang semakin tidak menentu, hujan yang datang terlambat, suhu yang naik perlahan namun pasti, dan hutan-hutan Jawa Timur berdiri seperti cermin. Ia memantulkan kembali pertanyaan yang sesungguhnya kita ajukan kepada diri sendiri. Apakah kita siap memberi kesempatan kedua bagi alam?

Pertanyaan itu terasa dekat, karena alam tidak lagi berada jauh di peta. Ia hadir di air yang kita minum, di udara yang kita hirup, di pangan yang tumbuh di ladang, dan di sungai yang melintas di tengah pemukiman. Ketika satu ekosistem terganggu, pada akhirnya getarannya kembali menyentuh manusia.

Sepanjang 2025, banyak cerita yan tersaji. Ada trenggiling yang selamat dari jerat, elang yang kembali mengepakkan sayapnya di langit, primata kembali bergelayut di pohon tinggi, hingga patroli kawasan yang menggurat jejak di jalur-jalur rimba.

Laporan masyarakat semakin sering masuk, sebagian datang malam hari, sebagian melalui pesan singkat. Di baliknya tumbuh kesadaran baru bahwa satwa liar tidak untuk dipelihara, tidak untuk diperdagangkan, dan tidak jua untuk dijadikan koleksi.

Namun memasuki 2026, konservasi menuntut lebih dari sekadar melanjutkan rutinitas. Ia menuntut kesabaran, konsistensi, dan keberanian untuk bekerja dengan cara yang lebih ilmiah.

Data menjadi pijakan. Ancaman dipetakan, pergerakan satwa diamati, dan habitat dibaca ulang sebagai satu kesatuan sistem yang rumit. Di lapangan, petugas belajar membaca waktu, kapan harus masuk, kapan harus menunggu, dan kapan harus memberi ruang agar alam bekerja memulihkan dirinya sendiri.

Di banyak tempat, pelajaran terbesar muncul dari pelepasliaran. Setiap kali pintu kandang dibuka, rasa haru tak dapat terhindarkan.

Namun segera setelah itu, muncul kesadaran lain bahwa satwa memerlukan lebih dari sekadar kebebasan. Mereka membutuhkan rumah. Tanpa habitat yang terhubung, sumber pakan yang cukup, dan tekanan manusia yang terkendali, kebebasan hanya menjadi perjalanan singkat.

Karena itu, arah 2026 bergerak lebih jauh, bagaimana menyelamatkan bukan hanya individu, tetapi populasi. Yang dipulihkan bukan hanya satwanya, melainkan jaring kehidupan tempat ia bergantung.

Jawa Timur mengajarkan bahwa ekosistem tidak pernah berdiri sendiri. Pegunungan menahan air hujan dan mengalirkannya perlahan ke lembah. Kawasan karst menyimpan cadangan air di dalam perut bumi.

Pesisir melindungi desa-desa dari gelombang dan menghidupi rantai pangan laut. Pulau-pulau kecil menjadi benteng terakhir bagi spesies endemik yang tidak ditemukan di mana pun.

Ketika satu bagian rusak, bagian lain ikut menanggung akibatnya. Itulah sebabnya pemulihan di tahun ini tidak diarahkan sekadar pada aktivitas menanam pohon, melainkan memulihkan fungsi ekosistem, tepat jenis, tepat lokasi, dan tepat tujuan.

Di saat yang sama, bayang-bayang perdagangan satwa liar masih terus mengikuti. Ada upaya penyelundupan yang digagalkan, ada pula satwa yang datang dalam kondisi lemah dan trauma.

Penegakan hukum tetap tegas, tetapi pendekatannya semakin matang, untuk menindak tanpa ragu, sembari mendidik masyarakat agar tidak lagi terjebak dalam siklus permintaan yang tak pernah selesai. Konservasi bukan tentang memusuhi manusia, ia adalah upaya panjang agar manusia dan alam bisa bertahan bersama.

Di desa-desa penyangga, harapan tumbuh dari hal-hal sederhana. Petani mulai memahami bahwa hutan yang terjaga berarti sumber air yang lebih stabil. Guru membawa cerita tentang satwa liar ke ruang kelas. Anak-anak belajar menanam, mendengar, dan menghormati kehidupan lain. Dari sinilah konservasi menemukan akarnya, bukan sebagai proyek, melainkan sebagai kebiasaan, bahkan budaya.

Dalam refleksi menyongsong 2026, Kepala Balai Besar KSDA Jawa Timur, Nur Patria Kurniawan, merumuskan arah yang hendak dijaga. Menurutnya, konservasi tidak lahir dari kerja yang tergesa-gesa.

“Konservasi menuntut kesabaran, keteguhan, dan kolaborasi yang berkesinambungan. Banyak hasilnya tidak terlihat dalam satu atau dua tahun, namun menjadi fondasi bagi keberlanjutan ekosistem di masa depan,” ujarnya.

“Di tahun ini, kami berkomitmen memperkuat sains, memperluas peran masyarakat, dan memastikan perlindungan kawasan berjalan efektif. Tanggung jawab kita sederhana, memastikan alam tetap memberi kehidupan bagi generasi mendatang,” tambah Nur Patria.

Pernyataan itu terasa seperti jangkar. Beliau menegaskan bahwa konservasi bukan panggung untuk tepuk tangan, melainkan pekerjaan sunyi yang hasilnya baru dipetik jauh dikemudian hari. Dan justru di situlah maknanya.

Tahun 2026, pada akhirnya, bukan sekadar pergantian kalender. Ia adalah undangan untuk memperbaiki cara kita memandang alam, sebagai ruang hidup bersama. Dengan sains sebagai kompas, masyarakat sebagai mitra, hukum sebagai penjaga, dan empati sebagai napas, konservasi di Jawa Timur melangkah lebih dewasa.

Alam bisa saja bertahan tanpa manusia. Tetapi manusia, tanpa alam yang sehat, pada akhirnya kehilangan masa depan.

Penulis : Fajar Dwi Nur Aji – PEH Ahli Muda BBKSDA Jatim
Editor : Agus Irwanto