Mengapa Bawean Jadi Benteng Terakhir Keanekaragaman Hayati?
Gresik – Di tengah Laut Jawa yang tenang, Pulau Bawean berdiri sebagai lanskap yang tampak sederhana, namun menyimpan kompleksitas kehidupan yang luar biasa. Malam itu, di Kantor Resort Konservasi Wilayah (RKW) 09 Gresik-Bawean, sebuah percakapan membuka kembali kesadaran, mengapa pulau ini layak disebut sebagai benteng terakhir keanekaragaman hayati di Jawa Timur.
Sekira pukul 19.30 WIB, tim RKW 09 menerima kunjungan dari perwakilan PT. Wonderful Bawean Tourism. Diskusi yang berlangsung tidak sekadar membahas potensi wisata, tetapi justru menyoroti fondasi utama yang harus dijaga, keberadaan kawasan konservasi yang menjadi jantung kehidupan pulau.
Petugas menjelaskan bahwa Cagar Alam Pulau Bawean, Pulau Noko, dan Pulau Nusa telah ditetapkan melalui Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor 76/Kpts/Um/12/1979. Status ini menegaskan bahwa kawasan tersebut merupakan wilayah perlindungan ketat, dengan fungsi utama menjaga keutuhan ekosistem dan keanekaragaman hayati.
Namun lebih dari sekadar status hukum, Bawean menyimpan cerita ekologis yang jarang disadari.
Sebagai pulau yang relatif terisolasi, Bawean menjadi ruang alami bagi berlangsungnya proses evolusi. Spesies yang hidup di dalamnya beradaptasi dalam keterbatasan ruang dan sumber daya, membentuk karakter unik yang tidak selalu ditemukan di wilayah lain.
“Bawean ini ibarat laboratorium alami. Karena isolasinya, kita punya peluang besar menemukan kekhasan genetik flora dan fauna yang tidak dimiliki daerah lain. Itu yang membuat kawasan ini sangat penting untuk dijaga,” ujar Ferdinan Sabastian, Penyuluh Kehutanan Pemula RKW 09 Gresik-Bawean.
Di sisi lain, fungsi ekologis kawasan ini tidak berhenti pada keanekaragaman hayati. Hutan-hutan di dalam kawasan cagar alam berperan sebagai penyimpan cadangan air, menopang kehidupan masyarakat di pulau yang sumber daya airnya terbatas.
“Masyarakat mungkin tidak selalu melihat langsung manfaatnya, tapi kawasan ini adalah penyangga kehidupan. Air yang mereka gunakan hari ini, sebagian besar bergantung pada keberadaan hutan yang tetap terjaga,” jelas Arif Wicaksono, Polisi Kehutanan Ahli Pertama.
Di tengah meningkatnya tekanan pembangunan dan ketertarikan sektor pariwisata, posisi Bawean menjadi semakin strategis sekaligus rentan. Karena itu, upaya perlindungan dilakukan secara menyeluruh, mulai dari patroli kawasan, pengawasan aktivitas, hingga pendekatan edukatif kepada masyarakat.
Pendekatan ini menegaskan bahwa konservasi tidak bisa berjalan sendiri. Ia membutuhkan keterlibatan semua pihak, termasuk dunia usaha, agar pemanfaatan ruang tetap selaras dengan daya dukung lingkungan.
Pertemuan malam itu mungkin berlangsung singkat, namun pesan yang mengemuka begitu kuat: Bawean bukan sekadar pulau kecil di tengah laut. Ia adalah benteng terakhir, tempat di mana kehidupan liar masih menemukan ruang untuk bertahan.
Dan selama benteng itu dijaga, harapan akan tetap hidup, di antara hutan, air, dan jejak-jejak kehidupan yang tak selalu terlihat, namun tak pernah benar-benar hilang.
Penulis : Fajar Dwi Nur Aji – PEH Ahli Muda
Editor : Agus Irwanto
Sumber : Bidang KSDA Wilayah II Gresik