Dua Anak Kucing Kuwuk Diselamatkan, Kisah Warga Pacitan yang Memilih Mengembalikan Alam ke Pemiliknya
Pacitan – Di Desa Ngile, Kecamatan Tulakan, Kabupaten Pacitan, dua pasang mata kecil sempat menjadi pusat perhatian, bukan karena ancaman, melainkan karena rasa iba manusia yang diuji oleh alam. Senin, 18 Mei 2026, Tim Resort Konservasi Wilayah (RKW) 05 Ponorogo bergerak cepat menindaklanjuti laporan masyarakat terkait dugaan kepemilikan satwa liar dilindungi jenis kucing kuwuk, atau Prionailurus bengalensis.
Koordinasi dilakukan dengan Pemerintah Desa Ngile sebelum tim bersama perangkat desa mendatangi rumah warga di Dusun Krajan. Dari hasil pengecekan dan wawancara, terungkap bahwa sepasang anakan kucing kuwuk ditemukan di sekitar pekarangan rumah warga pada minggu kedua Mei 2026. Naluri manusia mengambil alih, dua anak satwa liar itu sempat dipelihara selama dua hari.
Namun, alam punya cara sendiri untuk berbicara.
Di tengah keheningan malam desa, induk kucing kuwuk masih terlihat berkeliaran, seolah tak pernah berhenti mencari. Rasa iba pun berganti menjadi kesadaran. Warga memutuskan untuk melepaskan kembali kedua anakan tersebut. Tak lama kemudian, induknya datang dan membawa mereka pergi, kembali ke hutan, ke tempat mereka seharusnya berada.
Peristiwa ini menjadi lebih dari sekadar laporan lapangan. Ia menjelma menjadi refleksi hubungan manusia dan satwa liar, tentang pilihan antara memiliki atau menjaga.
Dalam kesempatan tersebut, petugas juga memberikan sosialisasi kepada masyarakat dan perangkat desa mengenai ketentuan perlindungan satwa liar, merujuk pada Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.106 Tahun 2018 serta Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2024. Pesan yang disampaikan sederhana namun mendasar, bahwa satwa liar bukan untuk dimiliki, melainkan untuk dijaga keberadaannya di habitat alaminya.
Kejadian di Desa Ngile menjadi potret kecil dari harapan besar, bahwa kesadaran konservasi tidak selalu lahir dari penegakan hukum, tetapi juga dari empati.
Di balik dua anak kucing kuwuk yang kembali ke pelukan induknya, tersimpan pesan penting, bahwa ketika manusia memilih untuk tidak mengambil, di situlah alam diberi kesempatan untuk tetap utuh.
Penulis : Fajar Dwi Nur Aji – PEH Ahli Muda
Editor : Agus Irwanto
Sumber : Bidang KSDA Wilayah I Madiun