Mengurai Konflik Melalui Kolaborasi, Bagaimana Multi Pihak Bersatu Menghadapi Babi Kutil Bawean di Pulau Bawean ?
Gresik – Di Pulau Bawean, konflik antara manusia dan satwa liar perlahan berubah menjadi ujian bersama. Dalam beberapa waktu terakhir, intensitas perjumpaan dengan Babi Kutil Bawean (Sus blouchi) meningkat, memicu keresahan warga sekaligus menantang upaya konservasi yang selama ini dijalankan.
Menjawab situasi tersebut, Balai Besar KSDA Jawa Timur melalui RKW 09 Gresik–Bawean, menggagas pendekatan yang tidak biasa. Pada 11 Mei 2026, di Desa Kumalasa, Kecamatan Sangkapura, sebuah kolaborasi lintas sektor dibangun, menggabungkan pemerintah, masyarakat, dan dunia usaha dalam satu langkah mitigasi berbasis sains.
Kegiatan ini bukan sekadar respons lapangan. Ia dirancang sebagai upaya terukur yang memadukan pemasangan kandang jebak, metode habituasi, serta pemantauan berbasis kamera trap untuk membaca perilaku satwa secara lebih mendalam.
Di Kumalasa, perubahan lanskap telah menciptakan ruang interaksi baru. Area penampungan sampah dan lahan terbuka menjadi titik yang secara konsisten dikunjungi Babi Kutil Bawean. Bagi masyarakat, kondisi ini berdampak langsung terhadap aktivitas dan ketahanan ekonomi.
Namun bagi tim konservasi, fenomena tersebut menjadi pintu masuk untuk memahami dinamika ekosistem yang sedang berubah. Melalui analisis jejak dan pola aktivitas, kandang jebak ditempatkan di lokasi strategis.
Pendekatan habituasi diterapkan dengan pemberian pakan secara bertahap selama kurang lebih dua minggu, agar satwa tidak mengalami efek jera awal. Di saat yang sama, kamera trap dipasang untuk merekam setiap pergerakan, mengubah setiap interaksi menjadi data yang dapat dianalisis.
Pendekatan ini merupakan adaptasi dari praktik internasional yang kemudian disesuaikan dengan kondisi ekologis Pulau Bawean. Sebuah upaya untuk memastikan bahwa setiap langkah mitigasi tidak hanya efektif, tetapi juga berlandaskan pemahaman ilmiah.
Kolaborasi menjadi kunci dari keseluruhan proses ini. Keterlibatan masyarakat melalui Masyarakat Mitra Polhut “Bawean Lestari” dan Gapoktan Kumalasa memperkuat pengawasan sekaligus membangun rasa memiliki terhadap program. Di sisi lain, dukungan sektor swasta dari Jawa Timur Park Group melalui PT. Bunga Wangsa Sejati menunjukkan bahwa konservasi adalah tanggung jawab bersama.
Direktur PT. Bunga Wangsa Sejati/Jawa Timur Park 2, Rio Imam Sendjojo, menyampaikan bahwa keterlibatan ini berangkat dari komitmen terhadap pelestarian satwa endemik.
“Kami merasa terpanggil untuk membantu menyelamatkan satwa endemik Indonesia yang ada di Jawa Timur dari ancaman kepunahan. Salah satu fungsi lembaga konservasi adalah menjadi benteng terakhir dari kepunahan,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa dukungan tersebut akan terus berlanjut.
“Ke depan, kami siap membantu program konservasi lain di wilayah Jawa Timur maupun wilayah lainnya. Kami berharap langkah-langkah ini dapat menekan angka interaksi negatif antara satwa dan manusia di Pulau Bawean,” pungkasnya.
Di sisi lain, Kepala Balai Besar KSDA Jawa Timur, Nur Patria Kurniawan, menegaskan pentingnya pendekatan terpadu dalam pengelolaan konflik satwa liar.
“Penanganan konflik satwa liar membutuhkan sinergi multipihak. Pendekatan berbasis data, teknologi, dan keterlibatan masyarakat menjadi fondasi utama untuk menghasilkan solusi yang efektif dan berkelanjutan,” jelasnya.
Sementara itu, masyarakat sebagai pihak yang paling terdampak dan berada di garis depan konflik menyambut langkah ini dengan harapan. Ketua Gapoktan Desa Kumalasa, Ahmad Mustofa, menyampaikan apresiasi atas upaya yang dilakukan.
“Kami mengucapkan terima kasih atas kehadiran BBKSDA Jawa Timur dan semua pihak yang telah membantu. Kami berharap ke depan ada langkah lanjutan, seperti dukungan pembuatan pagar tanaman produktif, sehingga selain mengurangi gangguan satwa, juga bisa mendukung ketahanan pangan masyarakat,” ungkapnya.
Ke depan, langkah ini akan terus dievaluasi melalui data yang terkumpul dari kamera trap. Pengembangan strategi lain yang lebih adaptif akan menjadi bagian dari rencana lanjutan. Jika terbukti efektif, pendekatan ini berpotensi diterapkan di titik konflik lainnya di Pulau Bawean.
Pada akhirnya, apa yang terjadi di Kumalasa bukan sekadar upaya meredam konflik. Ia adalah proses belajar bersama, tentang bagaimana manusia, satwa liar, dan berbagai kepentingan dapat dipertemukan dalam satu tujuan: menjaga keseimbangan.
Di pulau kecil ini, kolaborasi bukan lagi pilihan. Ia menjadi kebutuhan. Dan dari sanalah harapan itu tumbuh.
Penulis : Fajar Dwi Nur Aji – PEH Ahli Muda
Editor : Agus Irwanto
Sumber : Bidang KSDA Wilayah II Gresik