Mutiara Madu, Ketika Perubahan Iklim dan Bencana Menguji Ketangguhan Masyarakat Bawean
Gresik – Di Pulau Bawean, ketika angin laut menyusup di antara pepohonan dan bunga-bunga liar bermekaran di tepian kebun warga, lebah-lebah telah bekerja dalam ritme yang nyaris tak terganggu. Mereka mengumpulkan nektar, membangun koloni, dan menghasilkan madu, sumber penghidupan yang sederhana, namun bermakna bagi masyarakat. Kini, ritme itu berubah.
Pada Jumat, 8 Mei 2026, di Balai Desa Paromaan, Kecamatan Tambak, Kabupaten Gresik, Balai Besar KSDA Jawa Timur melalui Seksi KSDA Wilayah III Surabaya melaksanakan kegiatan pemberdayaan masyarakat berupa pelatihan peningkatan usaha ekonomi produktif pada sektor budidaya lebah madu bagi Kelompok Tani Hutan (KTH) Mutiara Madu. Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya nyata negara dalam memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat di sekitar kawasan sekaligus menjaga keberlanjutan fungsi ekosistem.
Pelatihan menghadirkan narasumber praktisi perlebahan serta tim pendamping dari BBKSDA Jawa Timur yang tidak hanya memberikan materi teknis, tetapi juga memfasilitasi diskusi terbuka terkait berbagai kendala yang dihadapi masyarakat. Dari forum tersebut, terpetakan sejumlah persoalan mendasar: ketidakpastian masa panen, perubahan pola musim berbunga akibat dinamika iklim, hingga keterbatasan pemahaman teknis dalam pengelolaan koloni lebah.
Situasi semakin kompleks pasca gempa tahun 2024 yang berdampak langsung pada usaha budidaya. Banyak stup rusak dan koloni lebah kabur secara massal, menyebabkan penurunan produksi madu secara signifikan. Di sisi lain, keterbatasan sarana serta belum meratanya kapasitas anggota kelompok menjadi tantangan dalam proses pemulihan.
Menjawab kondisi tersebut, kegiatan pelatihan tidak berhenti pada penyampaian materi di dalam ruangan. Peserta diajak langsung ke lapangan untuk mempraktikkan teknik pemecahan koloni yang benar, metode panen yang tidak merusak, serta prosedur pengecekan rutin guna menjaga stabilitas koloni. Pendekatan ini bertujuan untuk memastikan peningkatan kapasitas teknis masyarakat dapat diterapkan secara langsung dan berkelanjutan.
“Kegiatan ini bukan hanya tentang meningkatkan produksi madu, tetapi bagaimana masyarakat mampu memahami ekologi lebah dan membangun kemandirian usaha secara bertahap. Ketika pengetahuan teknis meningkat, maka risiko kegagalan dapat ditekan dan keberlanjutan usaha lebih terjaga,” ujar Ach. Onky Pryono, S.Hut, Penyuluh Kehutanan Pertama Seksi KSDA Wilayah III Surabaya.
Lebih jauh, kegiatan ini menegaskan bahwa konservasi tidak dapat dipisahkan dari kesejahteraan masyarakat. Di wilayah seperti Bawean, yang memiliki karakteristik ekosistem khas dan tingkat kerentanan tertentu, pendekatan pemberdayaan berbasis potensi lokal menjadi kunci dalam menjaga keseimbangan antara kebutuhan ekonomi dan kelestarian sumber daya alam.
Balai Besar KSDA Jawa Timur memandang bahwa madu bukan sekadar hasil hutan bukan kayu, tetapi bagian dari sistem ekologis yang lebih luas. Keberhasilan budidaya lebah madu sangat bergantung pada kualitas lingkungan, ketersediaan pakan alami, serta stabilitas ekosistem yang terjaga. Oleh karena itu, upaya pendampingan masyarakat menjadi strategi penting dalam mendukung konservasi yang inklusif dan berkelanjutan.
Ke depan, pendampingan rutin, penguatan kelembagaan kelompok, serta pengembangan program pemberdayaan terintegrasi dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan akan terus didorong. Langkah ini diharapkan mampu memperkuat daya tahan masyarakat dalam menghadapi dinamika lingkungan sekaligus meningkatkan nilai ekonomi dari potensi lokal yang dimiliki.
Di tanah yang rentan ini, madu menjadi lebih dari sekadar komoditas. Ia adalah penanda hubungan antara manusia dan alam, tentang bagaimana keduanya saling bergantung dan saling menjaga.
Dan di tengah perubahan yang tak terhindarkan, masyarakat Bawean terus belajar bertahan, merawat kembali koloni yang sempat hilang, menata ulang harapan, dan membuktikan bahwa dari ekosistem yang dijaga, kehidupan akan selalu menemukan jalan untuk tumbuh kembali.
Penulis : Fajar Dwi Nur Aji – PEH Ahli Muda
Editor : Agus Irwanto
Sumber : Bidang KSDA Wilayah II Gresik