Kolaborasi Menjaga Alam Menjadi Jalan Peradaban di Pulau Bawean
Bawean – Upaya menjaga keseimbangan antara manusia dan alam kembali terlihat di Pulau Bawean. Pada Sabtu, 2 Mei 2026, sekitar 200 bibit Nyamplung (Calophyllum inophyllum) ditanam di Blok Kumalasa, wilayah yang secara spasial beririsan dengan Suaka Margasatwa Pulau Bawean.
Kegiatan ini diinisiasi oleh LAZISNU Bawean dan melibatkan berbagai unsur masyarakat, mulai dari tokoh organisasi, perangkat desa, hingga pelajar. Tim Resort Konservasi Wilayah (RKW) 09 Gresik–Bawean dari Balai Besar KSDA Jawa Timur turut hadir, memastikan kegiatan berjalan dalam koridor konservasi.
Arif Wichaksono, Polisi Kehutanan BBKSDA Jawa Timur, menyampaikan bahwa pemilihan jenis tanaman menjadi aspek penting dalam kegiatan ini. Nyamplung dipilih karena merupakan jenis vegetasi lokal yang secara alami mendominasi kawasan tersebut.
“Pendekatan ekologis menjadi dasar, agar penanaman tidak sekadar menambah pohon, tetapi benar-benar mendukung pemulihan habitat,” ujarnya.
Lokasi penanaman berada pada dua titik di kawasan Blok Kumalasa, yang memiliki fungsi penting sebagai bagian dari bentang habitat satwa liar di Pulau Bawean. Secara administratif, area ini beririsan dengan kawasan suaka margasatwa, sehingga setiap aktivitas di dalamnya memerlukan kehati-hatian serta koordinasi dengan pengelola kawasan.
Dari sisi jumlah, sekitar 200 bibit ditanam dalam kegiatan tersebut. Namun, keberhasilan reboisasi tidak berhenti pada penanaman. Tingkat hidup tanaman, pemeliharaan, serta pengawasan pasca kegiatan menjadi faktor penentu keberlanjutan.
Kegiatan ini memiliki nilai strategis, terutama dalam membangun kesadaran konservasi berbasis masyarakat. Keterlibatan generasi muda dinilai penting sebagai bagian dari proses pembelajaran langsung tentang hubungan antara manusia dan ekosistem.
Meski demikian, terdapat sejumlah catatan penting. Lokasi yang berada di dalam atau beririsan dengan kawasan konservasi menuntut pengendalian aktivitas agar tetap sesuai dengan fungsi kawasan. Koordinasi sejak tahap perencanaan menjadi krusial untuk mencegah potensi kesalahpahaman di lapangan.
Pendekatan komunikatif dan persuasif yang diterapkan selama kegiatan dinilai efektif menjaga kondusivitas. Model ini membuka peluang bagi penguatan kemitraan konservasi antara pemerintah dan masyarakat, yang selama ini menjadi tantangan dalam pengelolaan kawasan.
Ke depan, diperlukan langkah lanjutan berupa inventarisasi teknis, validasi jumlah dan sebaran bibit, serta penetapan lokasi sebagai titik monitoring berkala. Data tersebut penting sebagai dasar evaluasi keberhasilan pemulihan ekosistem di Blok Kumalasa.
Bagi masyarakat Bawean, kawasan konservasi bukan sekadar ruang lindung. Ia menjadi penyangga kehidupan, menyediakan air, menjaga keseimbangan lingkungan, serta menjadi habitat bagi satwa liar yang tidak tergantikan. Dalam konteks ini, menjaga kawasan berarti menjaga keberlangsungan hidup itu sendiri.
Kolaborasi ini menunjukkan satu hal bahwa menjaga alam bukan hanya soal ekologi, tetapi juga tentang bagaimana manusia membangun masa depannya. Di Pulau Bawean, langkah itu sedang dimulai, dari lubang tanam sederhana, menuju gagasan besar tentang peradaban yang berakar pada kelestarian.
Penulis : Fajar Dwi Nur Aji – PEH Ahli Muda
Editor : Agus Irwanto
Sumber : Bidang KSDA Wilayah II Gresik