Berita

Misteri Kehadiran Elang Paria dari Gunung Lorokan ke Lamongan

Lamongan – Kisah ini bermula di lereng sunyi Gunung Lorokan, Pacet, Mojokerto, ketika seekor Elang Paria memperlihatkan perilaku yang tak biasa. Ia tidak melingkar tinggi di langit sebagaimana lazimnya burung pemangsa, melainkan turun, mendekat, dan memakan sisa makanan yang ditinggalkan manusia.

Rekaman singkat yang beredar pada 1 Mei 2026 itu dengan cepat menarik perhatian. Bagi sebagian orang, itu sekadar peristiwa langka. Namun bagi mereka yang memahami perilaku satwa liar, ada sesuatu yang terasa janggal, sebuah perubahan kecil yang bisa menjadi pertanda lebih besar.

Di antara yang memperhatikan dengan serius adalah seorang pelajar asal Lamongan, Ahmad Ilham Fathurrahman. Ketertarikannya pada burung membuatnya peka terhadap detail yang mungkin terlewat oleh orang lain. Ia kembali ke lokasi keesokan harinya, menapaki jalur yang sama, mencari kepastian.

Yang ia temukan justru memperkuat kegelisahannya. Elang itu masih berada di sana. Ia tidak menjauh. Ia tetap mendekati manusia, seolah telah mengenali kehadiran mereka sebagai bagian dari sumber hidupnya. Dalam dunia satwa liar, itu bukan sekadar keanehan, itu adalah perubahan perilaku.

Dengan naluri kepedulian yang tumbuh dari pengetahuan dan empati, ia kemudian membawa elang tersebut keluar dari situasi berisiko. Perjalanan satwa itu pun berlanjut, berpindah dari lereng pegunungan menuju kawasan permukiman di Lamongan, menunggu penanganan lebih lanjut dari otoritas konservasi.

Respons Cepat di Lapangan
Pada Minggu, 3 Mei 2026, Tim Matawali RKW 08 Mojokerto–Lamongan dari Balai Besar KSDA Jawa Timur bergerak menindaklanjuti laporan tersebut. Koordinasi dilakukan dengan cepat. Proses evakuasi berlangsung lancar dengan pendekatan yang mengedepankan kesejahteraan satwa (animal welfare), memastikan bahwa setiap langkah tidak menambah tekanan bagi satwa yang telah mengalami perubahan perilaku.

Hasil identifikasi memastikan bahwa individu tersebut adalah satu ekor Elang Paria dalam kondisi hidup. Spesies ini termasuk satwa dilindungi secara nasional dan tercantum dalam Appendix II CITES, dengan status global Least Concern. Namun di balik label status tersebut, tersimpan cerita yang lebih kompleks.

Elang Paria adalah spesies yang menjelajah lintas benua. Ia hadir di Eropa, Asia, hingga Afrika, dikenal sebagai raptor yang mampu beradaptasi dengan berbagai kondisi lingkungan.

Di beberapa wilayah, ia bahkan hidup berdampingan dengan manusia, memanfaatkan sumber pakan dari aktivitas urban. Namun di Indonesia, khususnya Pulau Jawa, kehadirannya tidak menjadi bagian dominan dari komunitas raptor setempat. Mungkian ia datang dan pergi, lebih sebagai pengembara daripada penghuni tetap.

Dan di sinilah kisah ini menjadi menarik. Apa yang terjadi di Gunung Lorokan memberikan petunjuk awal, tentang adanya interaksi antara satwa dan manusia telah melampaui batas alaminya.

Makanan yang ditinggalkan pendaki menjadi titik awal. Dari sana, terbentuk pola, bahwa manusia dapat menjadi sumber pakan yang mudah. Dalam waktu singkat, naluri waspada dapat tergantikan oleh kebiasaan. Namun ada lapisan lain yang lebih dalam.

Perilaku elang yang tidak menunjukkan agresivitas, tidak menjauh, dan relatif toleran terhadap kehadiran manusia membuka kemungkinan bahwa interaksi tersebut bukan terjadi sekali. Bisa jadi, ada riwayat yang tidak terlihat, sebuah fase di mana satwa ini pernah lebih dekat dengan manusia daripada seharusnya.

Dalam konteks konservasi, pola seperti ini kerap muncul pada satwa yang pernah berada di luar habitat alaminya, baik karena dipelihara, ditangkap, atau dilepas kembali tanpa prosedur yang sesuai. Tidak ada bukti yang secara langsung mengarah ke sana dalam kasus ini. Namun ruang kemungkinan itu tetap ada, yang menjadi sebuah wilayah abu-abu yang sulit diabaikan.

Perubahan perilaku satwa liar sering kali tidak terjadi secara tiba-tiba. Ia tumbuh perlahan, dipengaruhi oleh interaksi kecil yang berulang. Sisa makanan di jalur pendakian. Kebiasaan memberi makan.

Atau bahkan keputusan manusia yang tidak bertanggung jawab terhadap satwa yang pernah berada dalam kendalinya. Semua itu dapat mengubah arah hidup seekor satwa.

Dan ketika predator seperti Elang Paria mulai bergantung pada manusia, maka yang berubah bukan hanya perilaku, melainkan juga peluangnya untuk bertahan di alam liar.

Evakuasi telah dilakukan. Satwa telah diamankan. Prosedur telah dijalankan dengan baik. Namun kisah ini tidak berakhir di sana. Semuanya bermula dari satu pertemuan di lereng Gunung Lorokan, Pacet, Mojokerto, sebuah pertemuan yang seharusnya tidak terjadi dalam kondisi normal.

Mengapa seekor Elang Paria berada di sana? Apakah ia sekadar pengembara yang tersesat, mengikuti arah angin dan naluri alaminya? Ataukah ia pernah mengenal manusia lebih dekat dari yang seharusnya, lalu kembali ke alam dengan cara yang tidak sepenuhnya alami?

Apakah ini murni bagian dari dinamika ekologis… atau ada jejak tangan manusia yang tak terlihat?

Dan jika benar ada peran manusia di baliknya, maka pertanyaannya menjadi lebih dalam, ”apakah kita sedang menyaksikan satwa liar yang kehilangan arah…atau konsekuensi dari manusia yang diam-diam telah mengubah arah hidup mereka?”

Penulis : Deswara Hergo Pamadya & Fajar Dwi Nur Aji – PEH Ahli Muda
Editor : Agus Irwanto
Sumber : Bidang KSDA Wilayah II Gresik