Berita

Menggali Suara di Balik Mangrove Bawean: Antara Ketergantungan Warga dan Ancaman yang Mengendap

Gresik – Pendampingan riset di dua desa pesisir Bawean mengungkap relasi kompleks masyarakat dengan ekosistem mangrove, dari sumber penghidupan hingga potensi tekanan yang kian nyata. Bawean, Akar-akar mangrove di pesisir Desa Bululanjang dan Lebak tidak hanya menahan abrasi. Ia juga menopang kehidupan.

Pada Jumat, 17 April 2026, Tim Resort Konservasi Wilayah (RKW) 09 Gresik–Bawean, Balai Besar KSDA Jawa Timur, mendampingi mahasiswa dari Universitas Brawijaya dan Universitas Gadjah Mada melakukan pengamatan lapangan. Fokusnya bukan vegetasi, melainkan manusia yang hidup di sekitarnya.

Sebanyak 12 narasumber dipilih dari dua desa. Komposisinya seragam: kepala desa dan warga yang bergantung langsung pada mangrove. Wawancara dilakukan untuk menggali empat aspek utama, pola interaksi, bentuk pemanfaatan, persepsi terhadap kondisi mangrove, serta kondisi sosial-ekonomi masyarakat.

Hasil sementara menunjukkan satu hal: ketergantungan itu nyata. Sebagian warga menjadikan kawasan mangrove sebagai sumber penghidupan, mulai dari mencari hasil perikanan hingga memanfaatkan kayu. Aktivitas ini berlangsung turun-temurun, tanpa banyak alternatif ekonomi lain.

Namun, di titik inilah persoalan muncul. Tekanan terhadap ekosistem mulai terasa. Pemanfaatan yang tidak terkelola berpotensi menurunkan kualitas lingkungan. Di sisi lain, kesadaran konservasi belum merata. Sebagian masyarakat masih melihat mangrove sebagai sumber daya yang bisa dimanfaatkan, bukan sistem yang harus dijaga.

Tim RKW 09 mencatat bahwa persepsi masyarakat menjadi faktor kunci. Cara pandang ini akan menentukan arah masa depan ekosistem mangrove di Bawean, bertahan atau perlahan terdegradasi.

Pendampingan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat basis data sosial-ekonomi sebagai pijakan kebijakan. Sebab, pengelolaan kawasan tidak cukup hanya berbasis data biofisik. Tanpa memahami manusia di dalamnya, kebijakan berisiko tidak tepat sasaran.

Bawean memberi pelajaran sederhana: konservasi bukan hanya soal melindungi pohon, tetapi juga mengelola hubungan manusia dengan alam. Dan di pesisir ini, hubungan itu sedang diuji.

Penulis : Fajar Dwi Nur Aji – PEH Ahli Muda
Editor : Agus Irwanto
Sumber : Bidang KSDA Wilayah II Gresik