Berita

Fakta di Balik Evakuasi Ular di Halaman Warga Driyorejo

Gresik – Seekor Sanca Kembang (Malayopython reticulatus) ditemukan di lingkungan permukiman Desa Bambe, Kecamatan Driyorejo, Kabupaten Gresik, 27 April 2026 dini hari. Satwa tersebut kemudian dievakuasi oleh Tim Matawali RKW 09 Gresik–Bawean setelah adanya laporan warga yang khawatir terhadap potensi risiko.

Ular berukuran besar itu sebelumnya diamankan secara mandiri oleh warga bernama Mujianto. Lokasi penemuan berada di area yang berdekatan dengan aktivitas anak-anak, sehingga memicu kekhawatiran akan keselamatan lingkungan sekitar.

Merespons laporan tersebut, tim bergerak pada pagi hari menuju titik pertemuan di perbatasan wilayah Gresik dan Sidoarjo. Selain melakukan evakuasi, petugas juga menggali keterangan terkait asal-usul satwa. Hasil penelusuran menunjukkan bahwa lokasi temuan merupakan bagian dari habitat alami sanca tersebut.

Dari hasil identifikasi, satwa diketahui berjumlah satu ekor, dalam kondisi hidup, dan sedang memasuki fase pergantian kulit (ecdysis). Jenis ini tidak termasuk satwa dilindungi, namun tercatat dalam Appendix II CITES, yang berarti perdagangannya tetap diawasi secara internasional.

Ferdinan Sabastian – Penyuluh Kehutanan, menyebutkan, evakuasi dilakukan sebagai langkah mitigasi untuk mencegah potensi konflik antara manusia dan satwa liar.

“Penanganan ini tidak hanya soal keselamatan warga, tetapi juga memastikan satwa tetap dapat ditangani secara tepat,” ujarnya.

Satwa tersebut selanjutnya ditranslokasikan ke Unit Penyelamatan Satwa BBKSDA Jawa Timur di Sidoarjo untuk penanganan lanjutan.

Selain evakuasi, tim juga memberikan penyuluhan kepada warga mengenai peran ekologis ular dalam menjaga keseimbangan ekosistem, termasuk sebagai pengendali populasi hewan pengerat. Edukasi ini dinilai penting untuk mengurangi respons berlebihan masyarakat terhadap keberadaan satwa liar.

Peristiwa ini menambah daftar interaksi manusia dan satwa liar di wilayah penyangga permukiman. Dalam beberapa tahun terakhir, kasus serupa cenderung meningkat seiring perubahan penggunaan lahan dan berkurangnya ruang hidup satwa. Sosialisasi berkelanjutan dan peningkatan kesadaran masyarakat menjadi kunci untuk meminimalisir konflik serupa. Di sisi lain, pengelolaan habitat juga menjadi faktor penting agar satwa liar tidak terdorong masuk ke kawasan permukiman.

Kasus di Driyorejo menunjukkan satu hal, bahwa ketika batas antara manusia dan alam semakin tipis, potensi pertemuan tak terhindarkan. Penanganan cepat menjadi penting, tetapi pencegahan tetap menjadi pekerjaan utama.

Penulis : Fajar Dwi Nur Aji – PEH Ahli Muda
Editor : Agus Irwanto
Sumber : Bidang KSDA Wilayah II Gresik