Berita

TGX Bird Walk, Dari Sketsa hingga Identifikasi, Jejak Burung Dicatat di Trenggalek

Trenggalek – Di tengah riuh aktivitas manusia, ada kehidupan lain yang bergerak dalam diam, mengisi kanopi, melintas cepat di antara ranting, dan meninggalkan jejak yang hanya bisa dibaca oleh mereka yang mau berhenti sejenak. Pada 25 April 2026, Hutan Kota Trenggalek menjadi ruang belajar terbuka bagi 13 peserta TGX Bird Walk, sebuah kegiatan pengamatan burung yang mengajak manusia kembali membaca alam dengan cara yang lebih teliti.

Kegiatan ini dilaksanakan oleh petugas RKW 02 Blitar – Balai Besar KSDA Jawa Timur, berkolaborasi dengan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Trenggalek. TGX Bird Walk menjadi bagian dari rangkaian Road to Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) 2026, sekaligus momentum peringatan Hari Bumi, serta tindak lanjut arahan Bupati Trenggalek dan Kepala Balai Besar KSDA Jawa Timur pasca bedah buku Biodiversitas Trenggalek 2025.

Belajar Melihat, Bukan Sekadar Mengamati
Kegiatan dibagi dalam tiga sesi utama, pemaparan materi, praktik lapangan, dan sesi berbagi pengalaman. Pada sesi awal, peserta diperkenalkan pada kode etik pengamatan burung, penggunaan peralatan, serta teknik identifikasi jenis, fondasi penting dalam kegiatan birdwatching yang bertanggung jawab.

Namun esensi kegiatan justru terletak pada praktik lapangan. Di bawah tajuk pepohonan hutan kota, peserta diajak mencatat setiap temuan secara manual, melalui sketsa dan tally sheet. Metode ini mungkin tampak sederhana, tetapi di sanalah ketelitian dilatih. Setiap garis sketsa, setiap catatan kecil, menjadi jembatan antara pengamatan kasat mata dan pemahaman ilmiah.

Jejak Kecil, Data Besar
Yang menarik, kegiatan ini tidak berhenti sebagai pengalaman satu hari. Para peserta akan melanjutkan pengamatan selama dua bulan ke depan. Mereka akan diperingkat berdasarkan jumlah jenis burung yang berhasil diidentifikasi di kawasan Hutan Kota Trenggalek.

Pendekatan ini bukan sekadar kompetisi, melainkan strategi membangun keterikatan jangka panjang. Dari pengamatan yang berulang, akan terbentuk basis data sederhana, yang jika dikembangkan, berpotensi menjadi pijakan awal pemantauan keanekaragaman hayati di ruang perkotaan.

Di sinilah makna konservasi menjadi lebih nyata, dimulai dari aktivitas kecil, dilakukan secara konsisten, dan berdampak pada pemahaman yang lebih besar.

Dari Ruang Belajar ke Gerakan Kolektif
Kegiatan ditutup dengan sesi berbagi bersama Kakang Mbakyu Trenggalek, memperluas perspektif bahwa konservasi tidak hanya berbicara tentang satwa, tetapi juga tentang manusia, tentang bagaimana nilai-nilai alam ditanamkan dan disebarluaskan.

Ke depan, TGX Bird Walk akan menggandeng influencer untuk memperkuat pesan konservasi, termasuk melalui sesi berbagi tentang public speaking. Ini menjadi langkah strategis, karena menjaga alam hari ini tidak cukup hanya dengan bekerja di lapangan, tetapi juga bagaimana menyuarakannya ke publik.

Hutan kota sering dianggap sebagai ruang hijau biasa. Namun di dalamnya, tersimpan fragmen kehidupan yang rapuh sekaligus penting. Burung-burung yang teridentifikasi hari itu bukan sekadar daftar spesies, mereka adalah indikator kesehatan lingkungan, penanda bahwa ekosistem masih berfungsi.

TGX Bird Walk mengingatkan bahwa konservasi tidak selalu dimulai dari kawasan yang jauh dan liar. Ia bisa dimulai dari ruang terdekat, dari langkah kaki yang pelan, dari mata yang mau memperhatikan. Dan mungkin, dari sebuah sketsa sederhana, kita mulai benar-benar melihat.

Penulis : Ahmad David Kurnia Putra & Fajar Dwi Nur Aji
Editor : Agus Irwanto
Sumber : Bidang KSDA Wilayah I Madiun