Jejak Yang Tak Hilang, Patroli KSDA Temukan Luka Lama Di Hutan Bawean
Bawean – Pada pagi yang basah oleh embun di lereng Gunung Besar, Pulau Bawean, langkah-langkah kecil tim patroli menyusuri jalur sunyi yang nyaris tak tersentuh. Di balik rimbun vegetasi yang tampak utuh, hutan ini menyimpan sesuatu yang tak kasatmata, jejak lama yang belum benar-benar hilang.
Pada 22 April 2026, Tim Resort Konservasi Wilayah (RKW) 09 Gresik–Bawean melaksanakan patroli mandiri di kawasan Suaka Margasatwa Pulau Bawean, tepatnya di Blok Gunung Besar, kawasan Suwari. Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya rutin pengamanan kawasan sekaligus pemantauan potensi gangguan terhadap keanekaragaman hayati.
Patroli dimulai pukul 09.30 WIB di grid 236. Di titik ini, Pal Batas Nomor 1657 berdiri dalam kondisi baik, sebuah penanda fisik yang menegaskan batas kawasan konservasi yang telah dipelihara sejak tahun 2015. Namun, sebagaimana sering terjadi di lapangan, batas administratif tidak selalu menjadi batas bagi ancaman.
Memasuki grid 227 dan 226, suasana hutan masih terasa hidup. Suara Burung Cinenen Kelabu (Orthotomus ruficeps) bersahut dengan Merbah Belukar (Pycnonotus plumosus) dan Cabai Jawa (Dicaeum trochileum), menciptakan lanskap akustik yang menjadi indikator alami kesehatan ekosistem. Di antara celah kanopi, seekor Raja Udang Punggung Merah (Halcyon coromanda) melintas cepat, sebuah kilasan warna yang menegaskan bahwa rantai kehidupan masih terjaga.
Namun, ketenangan itu mulai berubah ketika tim mencapai grid 225, 233, dan 245. Di lokasi tersebut, tim menemukan 13 tunggak pohon dari berbagai jenis, di antaranya Jati (Tectona grandis), Laban (Vitex pinnata), Gondang (Ficus variegata), Tanjang Gunung (Garcinia celebica), Ngos-Ngos (Antidesma montanum), dan Bubusan (Memecylon edule). Tidak ada suara gergaji, tidak ada pelaku di tempat kejadian, hanya sisa-sisa yang ditinggalkan.
Dari kondisi tunggak yang telah menumbuhkan trubusan, aktivitas penebangan ini diperkirakan terjadi sekitar satu tahun lalu. Temuan ini menguatkan indikasi kejadian serupa yang sebelumnya tercatat pada 3 Februari 2026. Dengan kata lain, hutan ini pernah terluka, dan bekasnya masih ada hingga hari ini.
Jika praktik serupa terus terjadi, meskipun dalam skala kecil dan tersebar, dampaknya tidak sederhana. Hilangnya pohon-pohon penyusun hutan akan mengganggu struktur kanopi yang berperan penting dalam menjaga keseimbangan mikroklimat.
Tanpa perlindungan tajuk yang memadai, tanah menjadi lebih rentan terhadap erosi, kemampuan menyimpan air menurun, dan pada akhirnya dapat memengaruhi ketersediaan air bersih di Pulau Bawean, sebuah pulau kecil yang sangat bergantung pada daya dukung ekologisnya sendiri.
Lebih jauh, fragmentasi habitat berpotensi mengganggu ruang jelajah satwa, termasuk spesies endemik seperti Rusa Bawean (Axis kuhlii). Ketika ruang hidup terpecah, satwa dipaksa beradaptasi dengan tekanan yang lebih besar, meningkatkan risiko konflik, penurunan populasi, hingga hilangnya keanekaragaman genetik dalam jangka panjang.
Meski demikian, kehidupan tidak sepenuhnya surut. Pada grid 246 dan 235, tim menjumpai berbagai jenis anggrek epifit, termasuk Anggrek Ekor Tupai (Rhynchostylis retusa), Vanda sp., Pholidota imbricata, dan Bulbophyllum sp. Kehadiran flora ini menunjukkan bahwa sebagian habitat mikro masih mampu bertahan dan menyediakan ruang bagi spesies sensitif.
Di sela vegetasi, seekor Biawak Air (Varanus salvator) teramati bergerak perlahan. Sebagai predator oportunistik, keberadaan satwa ini menjadi indikator bahwa struktur ekosistem masih berjalan, meski berada dalam tekanan.
Temuan paling mengesankan justru terjadi di luar kawasan, pada grid 238. Dalam perjalanan kembali, tim menjumpai dua ekor Rusa Bawean (Axis kuhlii) betina. Satwa endemik yang berstatus rentan ini hanya muncul sejenak sebelum menghilang ke dalam rimbun vegetasi, tanpa sempat terdokumentasikan. Namun kehadirannya cukup menjadi pengingat bahwa Pulau Bawean masih menyimpan kekayaan hayati yang sangat bernilai.
Secara keseluruhan, hasil patroli ini menggambarkan dua realitas yang berjalan berdampingan: ekosistem yang masih hidup dan tekanan yang pernah, dan mungkin masih terjadi. Temuan pembalakan lama menjadi catatan penting bagi pengelola kawasan, tidak hanya dalam konteks penegakan hukum, tetapi juga sebagai dasar evaluasi strategi pengamanan ke depan.
Di sisi lain, kawasan hutan Bawean tidak berdiri sendiri. Ia adalah jantung ekologis pulau, penyangga air, penjaga iklim lokal, sekaligus rumah bagi keanekaragaman hayati yang tidak ditemukan di tempat lain. Keberlanjutannya sangat bergantung pada keterlibatan semua pihak, termasuk masyarakat Bawean yang selama ini hidup berdampingan dengan alam.
Harapannya, upaya perlindungan kawasan ini dapat terus diperkuat melalui kolaborasi, antara pengelola kawasan, pemerintah daerah, dan masyarakat, dengan semangat menjaga warisan alam bersama. Kesadaran kolektif bahwa hutan bukan hanya sumber daya, tetapi juga penopang kehidupan, menjadi kunci agar Bawean tetap lestari untuk generasi mendatang.
Di Bawean, hutan tidak pernah benar-benar diam. Ia menyimpan ingatan, memulihkan diri, dan pada saat yang sama, menunggu untuk dijaga. Dan bagi mereka yang berjalan di dalamnya, setiap langkah bukan hanya perjalanan, melainkan bagian dari upaya menjaga kehidupan yang tersisa.
Penulis : Fajar Dwi Nur Aji – PEH Ahli Muda
Editor : Agus Irwanto
Sumber : Bidang KSDA Wilayah II Gresik