Berita

Dipanggil ‘Anak’ Selama 3 Tahun, Satwa Ini Diserahkan ke Tim Matawali

Madiun – Tiga tahun bukan waktu yang singkat untuk membangun kedekatan. Di sebuah rumah sederhana di Desa Sugihwaras, Kecamatan Saradan, seekor Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis) tumbuh bukan sebagai satwa liar, melainkan sebagai bagian dari keluarga, dipanggil “anak”, dirawat, dan dibesarkan dengan kasih sayang.

Namun pada Rabu, 22 April 2026, kisah itu mencapai titik yang tak terelakkan, perpisahan. Melalui kesadaran pribadi, pemiliknya, Aning Rimbawati, memutuskan menyerahkan satwa tersebut secara sukarela kepada tim Matawali dari Bidang KSDA Wilayah I Madiun. Keputusan ini menjadi bagian dari upaya penyelamatan satwa liar sekaligus langkah penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem.

Menurut keterangan petugas, monyet tersebut pertama kali ditemukan dalam kondisi masih anakan di sekitar halaman rumah, yang berbatasan langsung dengan kawasan hutan Perhutani Saradan. Tanpa disadari, tindakan menyelamatkan yang berangkat dari rasa iba itu perlahan berubah menjadi praktik pemeliharaan satwa liar.

Seiring waktu, naluri alaminya tumbuh. Monyet yang dulunya jinak mulai menunjukkan perilaku yang sulit diprediksi, sebuah fase yang lazim terjadi ketika satwa liar mencapai usia tertentu, terutama jika dipelihara di luar habitatnya.

Petugas Matawali kemudian memberikan edukasi kepada pemilik mengenai risiko memelihara satwa liar, mulai dari potensi agresivitas hingga ancaman penularan penyakit (zoonosis). Dalam banyak kasus, kedekatan manusia dan satwa liar yang tidak tepat justru berujung pada konflik, baik bagi manusia maupun bagi satwa itu sendiri. Karena satwa liar tidak pernah benar-benar kehilangan insting alaminya. Pada titik tertentu, mereka akan kembali pada sifat liarnya.

Sebagai tindak lanjut, monyet ekor panjang tersebut kini ditempatkan di kandang transit Bidang KSDA Wilayah I Madiun untuk menjalani observasi kesehatan dan perilaku. Proses ini menjadi tahapan penting sebelum menentukan langkah berikutnya, termasuk kemungkinan pelepasliaran ke habitat yang sesuai.

Di balik peristiwa ini, tersimpan refleksi yang lebih dalam tentang relasi manusia dan alam. Di banyak wilayah penyangga hutan seperti Saradan, interaksi antara manusia dan satwa liar masih kerap terjadi, sering kali berawal dari niat baik, namun berujung pada konsekuensi ekologis yang kompleks.

Apa yang dilakukan warga Desa Sugihwaras hari itu menjadi pengingat, bahwa tidak semua yang bisa dirawat, seharusnya dimiliki. Dan bahwa dalam konservasi, melepas sering kali menjadi bentuk kepedulian yang paling tulus.

Penulis : Fajar Dwi Nur Aji – PEH Ahli Muda
Editor : Agus Irwanto
Sumber : Bidang KSDA Wilayah I Madiun