Dari Branta Tinggi, Sebuah Pesan Keras Untuk Bumi: Sampah Yang Kita Abaikan Kembali Menyapa
Pamekasan – Satu truk sampah diangkut dari pesisir Desa Branta Tinggi, Selasa, 21 April 2026. Angka itu mungkin tampak sederhana. Namun di baliknya, tersembunyi cerita panjang tentang hubungan manusia dengan laut, dan bagaimana kelalaian kecil dapat menjelma menjadi ancaman besar bagi ekosistem.
Dalam rangka memperingati Hari Bumi, Mahasiswa Pecinta Alam (MASTAPALA) IAIN Madura, dengan pendampingan dari Seksi KSDA Wilayah IV Madura, menggelar rangkaian kegiatan yang memadukan refleksi ilmiah dan aksi nyata di lapangan.
Kegiatan diawali dengan forum diskusi kelompok terarah (FGD) yang menghadirkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari Dinas Lingkungan Hidup, Dinas PUPR, Dinas Perikanan, BPBD, hingga pemerintah desa dan komunitas pecinta alam di wilayah Madura. Dalam forum tersebut, persoalan sampah tidak lagi dilihat sebagai isu tunggal, melainkan sebagai simpul kompleks yang menghubungkan perilaku manusia, tata kelola wilayah, hingga keberlanjutan sumber daya pesisir.
Setiap narasumber membuka lapisan persoalan dari sudut pandangnya masing-masing. Ada yang menyoroti lemahnya sistem pengelolaan sampah, ada pula yang menggarisbawahi rendahnya kesadaran publik. Namun satu benang merah mengemuka: tanpa perubahan perilaku yang konsisten, persoalan ini akan terus berulang, bahkan membesar.
Dari ruang diskusi, langkah berpindah ke garis pantai. Di bawah terik matahari dan angin laut yang membawa aroma asin, para peserta, mahasiswa, aparat pemerintah, hingga masyarakat, turun langsung memungut sampah yang berserakan di sepanjang pesisir Branta. Plastik, limbah rumah tangga, hingga material tak terurai menjadi saksi bisu bagaimana daratan dan laut saling berbagi beban pencemaran.
Hasilnya terkumpul dalam satu dump truk penuh sampah. Namun lebih dari sekadar jumlah, aksi ini menyisakan pertanyaan yang lebih dalam: berapa banyak lagi yang belum terangkut? Dan berapa lama ekosistem pesisir mampu menanggungnya?
Bagi Seksi KSDA Wilayah IV Pamekasan keterlibatan dalam kegiatan ini bukan sekadar pendampingan teknis. Ini adalah bagian dari upaya membangun kedekatan dengan generasi muda dan komunitas pecinta alam, mereka yang berada di garis depan perubahan perilaku lingkungan.
Pendampingan yang dimulai dari tahap persiapan hingga pelaksanaan menjadi ruang dialog yang lebih luas. Di sanalah nilai konservasi ditanamkan, bukan sebagai konsep besar yang abstrak, tetapi sebagai tindakan kecil yang dilakukan secara konsisten. “Konservasi bukan hal besar, tetapi hal kecil yang dilakukan secara konsisten,” menjadi semangat yang mengalir dalam setiap tahapan kegiatan ini.
Di tengah meningkatnya tekanan terhadap ekosistem pesisir, dari sampah, eksploitasi sumber daya, hingga perubahan iklim, aksi seperti di Branta Tinggi mungkin terlihat sederhana. Namun justru dari titik-titik kecil inilah perubahan besar berpotensi tumbuh.
Hari Bumi di Madura tahun ini tidak hanya menjadi peringatan seremonial. Ia menjelma menjadi cermin, memantulkan kembali wajah kita sebagai bagian dari alam, sekaligus pengingat bahwa apa yang kita tinggalkan hari ini, akan kembali kita temui di masa depan.
Dan mungkin, satu truk sampah itu hanyalah permulaan dari cerita yang lebih panjang, tentang bagaimana manusia memilih untuk memperbaiki, atau justru terus mengabaikan.
Penulis : Fajar Dwi Nur Aji – PEH Ahli Muda
Editor : Agus Irwanto
Sumber : Bidang KSDA Wilayah II Gresik