Berita

Dari Mana Mereka Berasal? Misteri Burung yang Menghuni Alun-Alun Kota Blitar

Blitar – Dari kejauhan, pohon-pohon beringin di Alun-Alun Kota Blitar tampak seperti biasa, rindang, tua, dan diam. Namun ketika senja turun dan langit mulai meredup, bayangan-bayangan putih dan abu-abu mulai bermunculan di antara cabang-cabangnya. Mereka datang, bertengger, lalu menghilang dalam keremangan.

Pertanyaannya sederhana, namun belum terjawab hingga kini: dari mana mereka berasal?

Keberadaan koloni burung air di jantung Kota Blitar menjadi perhatian setelah ramai diperbincangkan di media sosial. Menindaklanjuti hal tersebut, pada Selasa, 21 April 2026, tim Resort Konservasi Wilayah (RKW) 02 Blitar melakukan koordinasi dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Blitar, sekaligus pengecekan langsung di lapangan.

Dari hasil penelusuran awal, sedikitnya 12 pohon beringin (Ficus benjamina) teridentifikasi menjadi lokasi bersarang dua jenis burung air, yakni Kuntul Kerbau (Bubulcus ibis) dan Kowak-Malam Abu (Nycticorax nycticorax). Namun yang ditemukan bukan sekadar keberadaan burung, melainkan sebuah koloni yang hidup dan berkembang.

Di antara rimbun dedaunan, burung-burung itu tampak aktif membangun sarang, mengeram telur, hingga menyuapi anak-anaknya. Aktivitas ini menunjukkan bahwa mereka tidak hanya singgah, tetapi telah menjadikan kawasan tersebut sebagai habitat berkembang biak, fase paling krusial dalam siklus hidup satwa liar.

Sementara itu, upaya penanganan dari pemerintah kota telah dilakukan secara bertahap. Pemangkasan dahan pohon yang lapuk dan pembersihan rutin kawasan menjadi langkah awal untuk menjaga kenyamanan pengunjung, sejalan dengan arahan Wali Kota Blitar.

Namun di sisi lain, satu aspek penting masih belum tersedia, tidak adanya data ilmiah yang komprehensif mengenai jumlah populasi, sebaran, dan dinamika koloni burung tersebut. Kekosongan data ini menjadi celah penting dalam memahami fenomena yang sedang berlangsung.

Cerita lain muncul dari warga sekitar. Seorang pedagang di alun-alun menuturkan kisah lama, tentang pelepasliaran beberapa pasang burung kuntul oleh orang asing pada dekade 1990-an. Sebuah cerita yang belum terverifikasi, namun terus hidup dalam ingatan kolektif masyarakat.

Apakah koloni ini merupakan kelanjutan dari peristiwa itu? Ataukah mereka datang sendiri, mengikuti naluri alami mencari ruang baru di tengah perubahan lanskap? Hingga kini, belum ada jawaban pasti.

Di tengah ketidakpastian tersebut, muncul dua kepentingan yang harus dijembatani. Di satu sisi, keberadaan burung dalam jumlah besar di ruang publik memunculkan persoalan kebersihan dan kenyamanan. Di sisi lain, mereka adalah bagian dari keanekaragaman hayati yang memiliki peran ekologis dan dilindungi dalam prinsip konservasi.

Tim Matawali Balai Besar KSDA Jawa Timur menilai bahwa pendekatan berbasis sains dan kolaborasi menjadi kunci. Rencana tindak lanjut pun disusun, dimulai dari kegiatan edukasi dan literasi melalui identifikasi jenis serta penghitungan populasi burung secara sistematis bersama DLH Kota Blitar.

Selain itu, koordinasi dengan akademisi, pemerhati burung, dan para pihak terkait juga akan dilakukan guna merumuskan langkah penanganan yang tepat, berimbang antara kepentingan manusia dan keberlangsungan satwa liar. Karena pada akhirnya, misteri ini bukan hanya tentang asal-usul burung.

Ini adalah tentang bagaimana kota dan alam saling beririsan, tentang ruang yang tak lagi sepenuhnya milik manusia, dan tentang kehidupan liar yang perlahan menemukan jalannya kembali. Dan mungkin, sebelum bertanya dari mana mereka berasal, ada pertanyaan lain yang lebih penting untuk dijawab, apakah kita masih menyediakan ruang bagi mereka untuk tetap hidup?

Penulis : Fajar Dwi Nur Aji – PEH Ahli Muda BBKSDA Jatim
Editor : Agus Irwanto
Sumber : Bidang KSDA Wilayah I Madiun