Batas yang Mulai Hilang: Ketika Tiga Penanda Runtuh di Cagar Alam Pulau Saobi
Sumenep – Di dalam kawasan yang seharusnya steril dari gangguan, batas adalah segalanya. Ia bukan sekadar tanda fisik, melainkan garis tak kasat mata yang memisahkan perlindungan dan ancaman. Namun di Cagar Alam Pulau Saobi, batas itu mulai melemah.
Dalam kegiatan Smart Patrol yang dilaksanakan pada 14–19 April 2026 oleh tim Seksi KSDA Wilayah IV Pamekasan bersama Masyarakat Mitra Polhut (MMP) menemukan tiga pal batas dalam kondisi rusak berat. Sebuah temuan yang mengubah cara kita membaca kondisi kawasan.
Kerusakan ini bukan sekadar persoalan infrastruktur. Ia adalah sinyal awal. Ketika pal batas hilang atau rusak, batas kawasan menjadi kabur, baik secara fisik maupun persepsi. Dan ketika batas mulai kabur, pelanggaran menjadi lebih mudah terjadi.
Temuan lain memperkuat kekhawatiran tersebut. Tim mendapati adanya jalur setapak sepanjang sekitar 50 meter yang masuk ke dalam kawasan. Jejak ini menunjukkan bahwa aktivitas manusia telah mulai merambah, perlahan, tetapi pasti.
Padahal, di dalam kawasan yang sama, kehidupan liar masih bertahan. Jejak Rusa Timor dan aktivitas satwa lainnya menunjukkan bahwa Pulau Saobi masih menyimpan ekosistem yang hidup. Namun tanpa batas yang jelas, ruang aman bagi satwa bisa menyusut tanpa disadari.
Smart Patrol yang menjangkau 44 grid ini sejatinya bukan hanya kegiatan monitoring. Ia adalah proses membaca tanda-tanda perubahan di lapangan. Dan dalam konteks ini, tiga pal batas yang rusak adalah pesan paling kuat: bahwa kawasan ini membutuhkan perhatian segera.
Rekomendasi pun disusun. Pemeliharaan dan perbaikan pal batas menjadi prioritas, disertai pemasangan papan larangan di titik-titik rawan. Upaya ini tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga strategis, mengembalikan kejelasan ruang, sekaligus mempertegas komitmen perlindungan.
Di banyak tempat, kerusakan kawasan dimulai bukan dari perusakan besar, tetapi dari hal-hal kecil yang dibiarkan. Satu batas yang hilang. Satu jalur yang terbuka. Satu langkah yang tidak dicegah.
Pulau Saobi hari ini masih memiliki kesempatan. Namun seperti batas-batasnya yang mulai runtuh, waktu untuk bertindak tidak akan selalu ada. Karena ketika garis perlindungan benar-benar hilang, yang tersisa hanyalah penyesalan, dan ekosistem yang tak lagi utuh.
Penulis : Fajar Dwi Nur Aji – PEH Ahli Muda
Editor : Agus Irwanto
Sumber : Bidang KSDA Wilayah II Gresik