Artikel

Kartini-Kartini Penjaga Rimba: Mereka Tak Hanya Bertugas, Tapi Saling Menguatkan Menyelamatkan Kehidupan Yang Tak Bersuara

Sidoarjo, 21 April 2026 – Pagi belum sepenuhnya terang ketika langkah-langkah itu mulai bergerak. Sebagian menembus jalur hutan yang sunyi, sebagian lain duduk di balik meja kerja dengan layar komputer yang menyala. Mereka berada di ruang yang berbeda, tetapi mengemban satu tujuan yang sama: menjaga kehidupan.

Mereka adalah Kartini-Kartini penjaga alam Jawa Timur.

Pada peringatan Hari Kartini, Balai Besar KSDA Jawa Timur tidak hanya mengenang sejarah emansipasi, tetapi merayakan peran nyata perempuan dalam menjaga keanekaragaman hayati, dari garis depan hutan hingga ruang-ruang administrasi yang kerap luput dari sorotan.

Di lapangan, Polisi Kehutanan perempuan berjalan menyusuri kawasan rawan perburuan, membaca tanda-tanda ancaman, memastikan tidak ada jerat yang mengintai satwa liar. Penyuluh Kehutanan hadir di tengah masyarakat, membangun kesadaran dan menjahit harmoni antara manusia dan alam. Pengendali Ekosistem Hutan bekerja dengan pendekatan ilmiah, memastikan keseimbangan ekosistem tetap terjaga.

Namun konservasi tidak pernah berdiri hanya di satu garis. Di balik setiap patroli, setiap kegiatan penyelamatan, dan setiap upaya perlindungan, ada peran penting yang bekerja dalam senyap.

Perempuan-perempuan di bagian humas merawat narasi konservasi, mengubah data menjadi cerita, membangun kesadaran publik, dan memastikan pesan tentang pentingnya menjaga alam menjangkau lebih banyak hati.

Di bagian kepegawaian, mereka memastikan sistem organisasi berjalan, mengelola sumber daya manusia, menjaga ritme kerja, dan memastikan setiap personel siap menjalankan tugasnya di lapangan.

Sementara itu, bagian tata usaha menjadi tulang punggung administratif, mengawal perencanaan, anggaran, hingga dukungan operasional yang memungkinkan kegiatan konservasi berjalan tanpa hambatan.

Di luar itu, karyawati dari berbagai lini, serta Dharma Wanita Persatuan, turut memperkuat fondasi konservasi melalui edukasi, pendampingan masyarakat, hingga gerakan sosial yang menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan.

Kepala Balai Besar KSDA Jawa Timur, Nur Patria Kurniawan, menegaskan bahwa peran perempuan dalam konservasi hari ini bukan lagi pelengkap, melainkan pilar utama yang menggerakkan sistem.

“Perempuan di Balai Besar KSDA Jawa Timur hadir di seluruh lini, dari lapangan hingga manajemen. Mereka bukan hanya menjalankan tugas, tetapi menjadi penggerak yang menyatukan kekuatan konservasi. Semangat Kartini hari ini kita maknai sebagai kekuatan kolaboratif, di mana setiap peran saling membangun untuk memastikan kelestarian keanekaragaman hayati tetap terjaga,” ujarnya.

Beliau juga menekankan bahwa tantangan konservasi ke depan semakin kompleks, sehingga membutuhkan pendekatan yang tidak hanya kuat secara teknis, tetapi juga adaptif, komunikatif, dan berorientasi pada kolaborasi lintas peran.

“Konservasi tidak bisa berjalan sendiri. Ketika Polisi Kehutanan, Penyuluh, PEH, humas, kepegawaian, tata usaha, hingga Dharma Wanita bergerak bersama, di situlah kita melihat ekosistem kerja yang utuh. Dan perempuan memiliki peran strategis dalam merawat keseimbangan itu,” tambahnya.

Di sinilah makna Kartini menemukan bentuknya yang paling utuh. Bukan sekadar tentang peran individu, tetapi tentang jejaring perempuan yang saling membangun, saling menguatkan, dan saling melengkapi.

Mereka mungkin bekerja di ruang yang berbeda, di hutan, di desa, di kantor, atau di balik layar komunikasi, namun setiap peran adalah bagian dari sistem besar yang tidak terpisahkan. Konservasi, pada akhirnya, bukan hanya tentang menjaga hutan atau menyelamatkan satwa liar.

Ia adalah tentang kolaborasi. Tentang bagaimana setiap peran, sekecil apa pun, menjadi penentu bagi keberlangsungan kehidupan.

Dan di Jawa Timur, Kartini-Kartini itu telah membuktikan, bahwa ketika perempuan bergerak bersama, konservasi tidak hanya menjadi tugas, tetapi menjadi kekuatan. Sebuah kekuatan yang menjaga hutan tetap hidup, menjaga satwa tetap bertahan, dan menjaga masa depan tetap memiliki harapan.

Penulis : Fajar Dwi Nur Aji – PEH Ahli Muda
Editor : Agus Irwanto
Foto : Sasqia Oktaviani