Berita

Di Balik Angka Rehabilitasi Mangrove: Apa yang Sebenarnya Terjadi di Lapangan?

Surabaya – Di atas kertas, rehabilitasi mangrove di Jawa Timur menunjukkan capaian yang menjanjikan. Luasan meningkat, program berjalan, dan berbagai inisiatif terus digulirkan. Namun, apa yang sebenarnya terjadi di lapangan tidak selalu sesederhana angka-angka dalam laporan.

Pada 16–17 April 2026, bertempat di Hotel Platinum Tunjungan, Surabaya, para pemangku kepentingan berkumpul dalam sebuah Focus Group Discussion (FGD) untuk membedah realitas tersebut. Kegiatan ini diinisiasi oleh BPDAS Solo bersama para pihak, melibatkan pemerintah pusat dan daerah, akademisi, sektor swasta, serta komunitas pesisir, mereka yang selama ini berada di garis depan pengelolaan mangrove.

Diskusi mengerucut pada satu pertanyaan besar, mengapa peningkatan luasan mangrove belum sepenuhnya mencerminkan keberhasilan ekologis dan sosial di lapangan? Di berbagai wilayah pesisir Jawa Timur, mangrove memang tumbuh, namun tidak sedikit yang gagal berkembang akibat ketidaksesuaian lokasi tanam, dinamika pasang surut yang tidak diperhitungkan, hingga tekanan alih fungsi lahan menjadi tambak dan permukiman.

Lebih jauh, sebagian besar mangrove di Jawa Timur berada di luar kawasan hutan, bersinggungan langsung dengan aktivitas ekonomi masyarakat. Kondisi ini menjadikan rehabilitasi tidak hanya soal menanam, tetapi juga tentang bagaimana menjaga keseimbangan antara kebutuhan ekologis dan penghidupan masyarakat pesisir.

Melalui forum ini, para pihak mulai merumuskan pendekatan baru, bagaimana rehabilitasi mangrove harus dilakukan. Tidak lagi sekadar berbasis target luasan, tetapi melalui pendekatan berbasis ekosistem, kolaborasi multipihak, serta keterlibatan aktif masyarakat. Skema seperti community-based management, integrasi kebijakan darat-laut, hingga penguatan peran Kelompok Kerja Mangrove Daerah (KKMD) menjadi langkah strategis yang didorong bersama.

Sebab pada akhirnya, keberhasilan rehabilitasi mangrove tidak hanya diukur dari berapa hektar yang ditanam, tetapi dari seberapa banyak ekosistem yang benar-benar pulih, menjadi pelindung alami pesisir, penyerap karbon, sekaligus ruang hidup yang berkelanjutan bagi manusia dan keanekaragaman hayati.

Di balik angka-angka yang tampak meyakinkan, terdapat realitas yang lebih kompleks. Dan dari ruang diskusi hingga bentang pesisir, satu hal menjadi semakin jelas, bahwa masa depan mangrove Jawa Timur tidak ditentukan oleh angka semata, tetapi oleh bagaimana kita memahami, merawat, dan menjaganya bersama.

Penulis : Fajar Dwi Nur Aji – PEH Ahli Muda 
Editor : Agus Irwanto