Berita

Piton Afrika di Gresik, Jejak Satwa Eksotis yang Mengungkap Ancaman Tak Terlihat

Gresik – Di antara deretan satwa liar yang dievakuasi dari permukiman warga Gresik pada 17 April 2026, satu individu mencuri perhatian, bukan karena ukurannya, melainkan asal-usulnya yang asing bagi lanskap Nusantara. Seekor Ball Python atau Sanca Bola (Python regius), spesies asli Afrika Barat dan Tengah, ditemukan hidup di tengah lingkungan urban Jawa Timur.

Kemunculan spesies ini bukan sekadar kejadian insidental. Ia adalah pesan ekologis yang tegas, bahwa batas geografis yang selama ini memisahkan ekosistem dunia mulai runtuh, didorong oleh aktivitas manusia.

Tim MATAWALI Seksi KSDA Wilayah III Surabaya, Balai Besar KSDA Jawa Timur, mengevakuasi individu Python regius tersebut bersama satwa lain hasil penyerahan UPT. DAMKARLA Kabupaten Gresik. Namun berbeda dengan sanca kembang atau biawak air yang masih merupakan bagian dari fauna lokal, sanca bola menghadirkan dimensi ancaman yang lebih kompleks.

Spesies ini tidak memiliki habitat alami di Indonesia. Keberadaannya di Gresik hampir dapat dipastikan berasal dari praktik pemeliharaan satwa eksotik, yang kemudian berujung pada pelepasan ke alam atau lepasnya individu dari pengawasan. Sebuah tindakan yang kerap dianggap sebagai “pelepasliaran”, namun sejatinya adalah bentuk introduksi spesies asing yang berisiko tinggi.

Dalam ekologi, fenomena ini dikenal sebagai biological invasion. Dan sejarah telah berulang kali menunjukkan dampaknya, bahwa spesies asing yang mampu beradaptasi dapat menjadi predator baru, pesaing bagi spesies lokal, atau bahkan mengganggu keseimbangan rantai makanan.

Fakta bahwa Python regius ini mampu bertahan hidup di lingkungan Gresik, yang memiliki suhu, kelembapan, dan tekanan antropogenik yang berbeda dari habitat asalnya menjadi indikator awal kemampuan adaptasi yang tidak bisa diabaikan. Dalam skenario terburuk, jika lebih banyak individu dilepas atau lolos ke alam, peluang terbentuknya populasi liar bukan lagi sekadar hipotesis.

Risikonya berlapis. Ia dapat bersaing dengan ular lokal seperti sanca kembang (Malayopython reticulatus), Sanca Bodo (Phyton bivittatus), yang memanfaatkan sumber pakan yang sama, dan perlahan menekan populasi spesies asli. Lebih jauh, masyarakat yang tidak familiar dengan spesies ini berpotensi menghadapi konflik baru, berbasis ketidaktahuan, ketakutan, atau bahkan reaksi defensif yang membahayakan.

Dalam konteks ini, suara dari lapangan menjadi penting. Ferdinan Sabastian, Penyuluh Kehutanan Balai Besar KSDA Jawa Timur yang juga dikenal memiliki ketertarikan pada kehidupan reptil di kawasan urban, menegaskan bahwa fenomena ini bukan hal yang bisa dianggap remeh.

“Kemunculan Python ini di wilayah urban seperti Gresik adalah indikator kuat adanya rantai pemeliharaan satwa eksotik yang tidak diikuti tanggung jawab. Reptil, khususnya ular, sering dianggap menarik saat masih kecil, tetapi ketika tumbuh dan membutuhkan perawatan lebih, tidak sedikit yang akhirnya dilepas begitu saja ke alam,” ujarnya.

Ia menambahkan, lingkungan urban sebenarnya memiliki celah ekologis yang memungkinkan beberapa spesies reptil bertahan, terutama yang memiliki toleransi tinggi terhadap perubahan habitat.

“Beberapa jenis ular memiliki kemampuan adaptasi yang baik terhadap lingkungan baru, termasuk kawasan permukiman. Jika kondisi pakan tersedia dan tekanan rendah, bukan tidak mungkin mereka bertahan cukup lama. Ini yang perlu diwaspadai, karena potensi terbentuknya populasi liar dari spesies asing bisa terjadi tanpa kita sadari,” jelasnya.

Namun, menurutnya, persoalan ini tidak semata-mata soal satwa, melainkan tentang perilaku manusia.

“Kunci utamanya ada pada kesadaran. Memelihara satwa liar, apalagi spesies eksotik, bukan sekadar hobi. Ada tanggung jawab hukum, etika, dan ekologis. Melepas satwa ke alam bukan solusi, justru itu awal dari masalah baru,” tegasnya.

Seluruh satwa, termasuk sanca bola tersebut, kini berada di Unit Penyelamatan Satwa (UPS) BBKSDA Jawa Timur di Sidoarjo untuk menjalani observasi dan penanganan lanjutan. Setiap langkah yang diambil terhadap individu ini akan mempertimbangkan aspek kesejahteraan satwa sekaligus mitigasi risiko ekologis.

Ke depan, langkah strategis menjadi tak terelakkan, penguatan pengawasan perdagangan satwa eksotik, edukasi publik yang lebih masif, serta sistem deteksi dini terhadap kemunculan spesies non-native di alam.

Karena di balik tubuh melingkar seekor piton kecil itu, tersembunyi pertanyaan besar yang harus dijawab bersama. Saat spesies asing mulai menemukan tempat di alam kita, apakah kita masih cukup siap untuk menjaga batasnya?

Penulis : Fajar Dwi Nur Aji – PEH Ahli Muda BBKSDA Jatim
Editor : Agus Irwanto
Sumber : Bidang KSDA Wilayah II Gresik