Type to search

Agenda

Ucul-Ucul Tukik di Kili-Kili

Share
Taman Kili-Kili yang biasanya sepi pengunjung, mendadak ramai oleh ratusan pelajar berseragam merah marun memadati pintu masuk taman konservasi Penyu tersebut, 10 September 2014. Sebuah tenda sederhana dengan kursi yang disusun rapi telah terisi oleh para undangan dari warga desa Wonocoyo, Muspika Kecamatan Panggul, aparatur Desa Wonocoyo juga Desa Nglebeng tetangganya, Perum Perhutani, Kapolsek dan jajarannya, perwakilan dari Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Propinsi Jawa Timur, DKP Trenggalek dan tak ketinggalan rombongan  Seksi Konservasi Wilayah (SKW) I Kediri.
Sebanyak 500 tukik (anak Penyu) yang telah 2 bulan menetas dan berada di tempat pembesaran tukik di Taman Kili-Kili, hari itu akan dilepaskan ke laut, tempat mereka berasal, sebuah tempat dimana mereka bisa tumbuh dan bertualang menjelajahi samudera.
 
Sebelum pelepasan tukik, upacara dibuka dengan sambutan ketua Pokmaswas Taman Kili-Kili. Dalam sambutannya ketua Pokmaswas menyampaikan bahwa dari tahun 2011 – 2014 ini mereka telah dapat melepaskan 11.000 ekor tukik kembali ke laut. Selain itu, ketua Pokmaswas juga mengatakan bahwa jumlah Penyu yang bertelur tahun ini mengalami penurunan jumlah, Pokmaswas menduga hal ini ada kaitannya dengan tongkang yang bersandar tidak jauh dari Taman Kili-Kili. Pada malam hari, tongkang tongkang tersebut dipenuhi cahaya yang menyilaukan, sehingga kemungkinan Penyu terganggu dengan adanya cahaya dari tongkang tersebut.
 
Kepala Desa wonocoyo yang mendapat giliran sambutan berikutnya menyampaikan ajakannya kepada desa tetangga untuk turut serta dalam pelestarian penyu, karena wilayah konservasi Penyu ini tidak terbatas oleh batas-batas administratif. Selain itu Kepala Desa Wonocoyo juga menyampaikan penghargaan kepada Kepala Desa dan Muspika Karang Turi Pacitan yang pernah menyerahkan Penyu yang tertangkap oleh warga untuk dirawat dan dilepaskan kembali, juga kepada kepala desa Nglebeng yang menyerahkan telur Penyu dari pantai Desa Nglebeng untuk ditetaskan di Taman Kili Kili.
 
Setelah acara pembukaaan dan sambutan, tibalah puncak Upacara Ucul-Ucul, dengan semangat tinggi Bapak kepala desa Wonocoyo menggambar garis di bibir pantai dan secara serentak pelajar berhamburan mencari posisi di sepanjang garis tersebut, diikuti oleh peserta yang lain. Pokmaswas dengan sigap membagikan tukik kepada peserta, setelah semua tukik dipegang oleh peserta, Bapak Kepala Desa pun memberi aba aba untuk melepaskan tukik tersebut. Sesaat kemudian wajah-wajah berseri menyemangati dan mengiringi tukik tukik itu menuju laut. Penuh harap kami tukik tukik tersebut dapat bertahan hidup hingga dewasa dan 25-30 tahun kedepan dapat kembali ke tempat ini untuk menelurkan generasi penerusnya. Selamat jalan tukik, Taman Kili-Kili menantimu kembali. (Siti Nurlaili, PEH Pertama pada seksi konservasi Wilayah I)

Leave a Comment