Sanca, Hutan, dan Sebuah Pilihan

Agus Irwanto
Sanca, Hutan, dan Sebuah Pilihan

Pacitan - Seekor Sanca Kembang (Malayopython reticulatus) melata perlahan meninggalkan sarana angkutnya. Beberapa saat berhenti seolah membaca arah, reptil itu kemudian menghilang di balik rimbunnya vegetasi hutan lindung Perhutani, Pacitan. 

Perjalanan pulangnya berlangsung singkat. Namun, jalan menuju momen itu berawal dari sebuah pilihan.

Senin, 13 Juli 2026, Tim Matawali Resort Konservasi Wilayah (RKW) 05 Ponorogo, Seksi KSDA Wilayah II menerima penyerahan seekor sanca kembang dari relawan Animal Rescue Pacitan. Satwa tersebut sebelumnya dievakuasi dari Desa Candi, Kecamatan Pringkuku, Kabupaten Pacitan setelah keberadaannya dilaporkan warga.

Petugas kemudian melakukan pemeriksaan awal untuk memastikan kondisi satwa. Hasilnya menunjukkan sanca masih sehat, memiliki respons alami yang baik, dan tetap menunjukkan perilaku liar. Kondisi tersebut menjadi dasar bahwa satwa masih layak dikembalikan ke habitat alaminya.

Selanjutnya Tim Matawali berkoordinasi dengan Perum Perhutani RPH Pacitan–BKPH Pacitan untuk menentukan lokasi pelepasliaran yang aman, jauh dari aktivitas masyarakat, serta memiliki karakter habitat yang sesuai bagi spesies tersebut. Setelah lokasi dipastikan memenuhi aspek ekologis, pelepasliaran dilaksanakan pada hari yang sama.

Peristiwa itu tampak sederhana. Namun, dibaliknya tersimpan makna yang lebih besar. Ketika satwa liar muncul di sekitar permukiman, selalu ada dua pilihan yang dihadapi manusia. Pilihan pertama adalah membiarkan rasa takut mengambil keputusan. Pilihan kedua adalah memberi kesempatan satwa kembali menjalankan perannya di alam.

Sanca kembang merupakan predator alami yang membantu mengendalikan populasi mamalia kecil, termasuk tikus yang dapat menjadi hama pertanian. Keberadaannya menjaga keseimbangan rantai makanan dan menjadi bagian penting dari kesehatan ekosistem hutan. Karena itu, mengembalikan satwa ke habitatnya bukan sekadar menyelamatkan satu individu, melainkan mengembalikan fungsi ekologis yang dimilikinya.

Pelepasliaran di Pacitan juga memperlihatkan bahwa konservasi tidak dapat berjalan sendiri. Kepedulian masyarakat yang melaporkan keberadaan satwa, respons cepat relawan Animal Rescue Pacitan, koordinasi Perhutani, serta tindak lanjut Balai Besar KSDA Jawa Timur menjadi rangkaian kolaborasi yang memungkinkan konflik antara manusia dan satwa liar diselesaikan tanpa merugikan salah satu pihak.

Di tengah semakin seringnya perjumpaan manusia dengan satwa liar akibat perubahan bentang alam, konservasi sesungguhnya selalu bermula dari pilihan-pilihan kecil yang diambil setiap hari. Pilihan untuk tidak melukai, tidak memelihara, dan tidak memperdagangkan satwa liar yang dilindungi, melainkan memberi ruang bagi mereka untuk tetap hidup di habitatnya.

Di Pacitan, pilihan itu telah diambil. Seekor sanca kembali ke hutan. Dan bersama langkah sunyinya di antara pepohonan, tersimpan harapan bahwa manusia masih memilih berdamai dengan alam.

Penulis : Fajar Dwi Nur Aji - PEH Ahli Muda
Editor : Agus Irwanto
Sumber : Bidang KSDA Wilayah I Madiun
11 views
0 komentar
0 shares
Rating:

Komentar (0)

Tinggalkan Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!

Artikel Terkait

Jalan Tengah di Puger
Berita

Jalan Tengah di Puger

Jember - Ketika Landak dan Monyet memasuki ladang jagung, penyelesaiannya bukan memburu satwa, melainkan merancang solusi yang melindungi petani sekaligus menjaga kelestarian alam. Di Puger, Kabupaten