Porang, Agroforestri, dan Masa Depan Habitat Satwa Liar

Agus Irwanto
Porang, Agroforestri, dan Masa Depan Habitat Satwa Liar

Gresik - Pagi itu, puluhan petani berdiri melingkari lubang-lubang tanam di sebuah kebun di Dusun Sumber Lanas, Desa Telukjatidawang, Kecamatan Tambak, Kab. Gresik. Di tangan mereka tergenggam bibit porang. Sesekali terdengar pertanyaan mengenai kedalaman tanam, jarak ideal antartanaman, hingga cara menjaga kelembapan tanah. 

Bagi sebagian peserta, ini mungkin sekadar pelatihan budidaya. Namun bagi Balai Besar KSDA Jawa Timur dan Yayasan Binaya Foundation, kegiatan tersebut merupakan bagian dari ikhtiar yang lebih besar, membangun benteng konservasi dari lahan milik masyarakat.

Kamis, 25 Juni 2026, sekitar 45 anggota gabungan kelompok tani dari Desa Telukjatidawang, Sokaoneng, dan Dekatagung mengikuti praktik agroforestri porang. Hadir pula Tim Resort Konservasi Wilayah (RKW) 09 Gresik–Bawean, Sekretaris Desa Telukjatidawang, serta Sadiman sebagai narasumber yang telah lama mengembangkan porang.

Bertolak dari balai desa, rombongan bergerak menuju kebun milik Faruk yang menjadi lokasi praktik. Di tempat itulah teori diuji langsung di lapangan. Sadiman memperagakan cara menanam porang, mulai dari kedalaman tanam 10–15 sentimeter hingga jarak tanam 40–50 sentimeter. 

Ia juga menekankan bahwa porang bukan tanaman yang menyukai cahaya matahari penuh. Sebaliknya, tanaman ini tumbuh lebih baik di bawah naungan pepohonan dengan intensitas cahaya yang cukup.

Karakter itulah yang menjadikan porang cocok dikembangkan melalui sistem agroforestri. Pepohonan tetap dipertahankan, tanah tetap terlindungi, sementara masyarakat memperoleh peluang ekonomi dari hasil budidaya. 

Dalam praktiknya, Sadiman mengaku lebih banyak memanfaatkan pupuk organik berupa sisa rumput dan kotoran sapi dibandingkan pupuk kimia. Cara tersebut dinilai mampu menjaga kesuburan tanah sekaligus menekan biaya produksi.

Peserta kemudian bergantian mempraktikkan teknik penanaman. Diskusi berkembang tidak hanya mengenai cara budidaya, tetapi juga peluang pasar, pemeliharaan tanaman, hingga pengelolaan lahan yang berkelanjutan. Antusiasme peserta menunjukkan bahwa porang mulai dipandang sebagai komoditas yang layak dikembangkan tanpa mengubah fungsi ekologis lahan.

Di balik praktik budidaya itu, tersimpan tujuan yang jauh lebih strategis. Pulau Bawean merupakan rumah bagi beragam kekayaan hayati yang memerlukan bentang alam yang tetap terjaga. Kawasan konservasi tidak dapat berdiri sendiri tanpa dukungan wilayah di sekitarnya. Karena itu, penguatan ekonomi masyarakat melalui agroforestri dipandang sebagai salah satu pendekatan untuk memperkuat fungsi zona penyangga kawasan konservasi.

Logikanya sederhana. Ketika lahan masyarakat mampu memberikan manfaat ekonomi secara berkelanjutan, tekanan terhadap kawasan konservasi dapat dikurangi. Ketergantungan pada pemanfaatan sumber daya di dalam kawasan pun berangsur menurun. Konservasi tidak lagi dipahami sebagai pembatasan akses semata, melainkan sebagai upaya menciptakan keseimbangan antara kebutuhan manusia dan keberlangsungan ekosistem.

Pendekatan seperti inilah yang kini semakin banyak dikembangkan dalam pengelolaan kawasan konservasi. Perlindungan satwa liar tidak cukup dilakukan melalui patroli dan penegakan hukum. Keberhasilannya juga ditentukan oleh kemampuan menghadirkan pilihan-pilihan ekonomi yang ramah lingkungan bagi masyarakat yang hidup berdampingan dengan kawasan.

Praktik agroforestri porang di Telukjatidawang menjadi salah satu contoh bagaimana konservasi dapat dimulai dari sebidang kebun. Pohon tetap berdiri, tanah tetap produktif, dan masyarakat memperoleh manfaat ekonomi tanpa mengorbankan fungsi ekologis bentang alam.

Menjelang siang, kegiatan ditutup dengan penyerahan piagam penghargaan kepada narasumber dan foto bersama seluruh peserta. Bagi sebagian orang, acara itu mungkin hanya pelatihan sehari. Namun bagi Pulau Bawean, langkah-langkah kecil tersebut dapat menjadi fondasi bagi masa depan yang lebih besar: lanskap yang tetap lestari, masyarakat yang semakin mandiri, dan habitat satwa liar yang terus terjaga.


Penulis : Fajar Dwi Nur Aji - PEH Ahli Muda

Editor : Agus Irwanto

Sumber : Bidang KSDA Wilayah II Gresik

13 views
0 komentar
0 shares
Rating:

Komentar (0)

Tinggalkan Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!

Artikel Terkait